
Tim bulu tangkis Indonesia di Piala Thomas 2026. (Foto: PBSI)
KUALA LUMPUR – Legenda tunggal putra Malaysia, Ong Ewe Hock, mengeluarkan peringatan keras bagi skuad negaranya menyusul peta kekuatan bulu tangkis bumi nan sekarang telah berubah total. Menurut Ong Ewe, kegagalan tragis Indonesia di Piala Thomas 2026 menjadi sinyal nyata bahwa negara-negara tradisional tidak lagi bisa merasa kondusif dengan status mereka.
Pernyataan ini muncul setelah Indonesia, pemegang 14 gelar Piala Thomas, secara mengejutkan lumat 1-4 di tangan Prancis pada laga terakhir Grup D di Forum Horsens, Denmark, Selasa 28 April 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak turnamen ini dimulai pada 1949, Tim Merah Putih kudu tersingkir lebih awal di fase grup.
Bagi Ewe Hock, kejadian ini adalah bukti sahih bahwa kekuasaan Asia telah dipatahkan oleh investasi besar negara-negara nan dulunya dianggap anak bawang.
1. Runtuhnya Monopoli Empat Raksasa Dunia
Ewe Hock menyoroti status bulu tangkis sebagai bagian olahraga Olimpiade sejak 1992 telah memicu negara-negara seperti Taiwan, Jepang, Thailand, hingga India untuk serius membangun kekuatan. Munculnya kekuatan baru dari Eropa seperti Prancis semakin menegaskan era di mana juara hanya berputar di antara Malaysia, Indonesia, China, dan Denmark telah usai.
"Era bulu tangkis tidak seperti dulu lagi. Sebelumnya, bulu tangkis hanya dikuasai oleh Asia, tetapi sekarang lantaran sudah menjadi olahraga lencana Olimpiade, semua orang konsentrasi padanya," ujar Ong Ewe Hock, mengutip dari New Straits Times, Kamis (30/4/2026).
"Sebelumnya, juaranya hanya Malaysia, Indonesia, China, dan Denmark, tetapi sekarang Anda bisa memandang negara lain juga bisa menjadi juara,” tambahnya.
Alwi Farhan bikin Indonesia tertinggal 1-2 dari Thailand di Piala Thomas 2026 PBSI
2. Krisis Kedalaman Skuad Tunggal Putra Malaysia
Selain menyoroti peta persaingan global, Ewe Hock juga memberikan kritik pedas terhadap struktur internal Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM). Ia menilai Malaysia berisiko mengalami nasib serupa dengan Indonesia jika tidak segera membenahi sektor tunggal putra.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·