Indonesia mempunyai potensi besar dalam rantai pasok industri AI: Wakil Menteri.
, JAKARTA, – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti potensi Indonesia untuk memasuki rantai pasok industri kepintaran buatan (AI) global. Hal ini disampaikan dalam pernyataannya pada Rabu di Jakarta, menekankan posisi Indonesia sebagai produsen timah terbesar bumi nan merupakan bahan kunci dalam pembuatan chip.
Patria menjelaskan bahwa Indonesia juga mempunyai pasir silika nan mengandung silikon, bahan baku dalam pembuatan semikonduktor. Meski demikian, Indonesia saat ini hanya bisa menyuplai bahan mentah dan belum dapat mengolahnya sesuai kebutuhan industri.
Untuk dapat berperan-serta dalam rantai pasok industri AI, Patria menekankan pentingnya peningkatan kapabilitas pengolahan sumber daya di Indonesia. Selain kekayaan bahan mentah, Indonesia juga mempunyai sumber daya nan melimpah untuk mendukung pusat info pengembangan AI.
"Kita mempunyai kelebihan energi, khususnya daya terbarukan. Produksi listrik kita cukup besar, apalagi melimpah sejak setahun lampau dengan surplus daya listrik," ujarnya.
Patria juga menyoroti bahwa populasi Indonesia nan besar dapat menyediakan sumber daya manusia untuk mendukung pengembangan industri AI. "Kita mempunyai populasi terbesar di Asia Tenggara, ialah 285 juta orang dengan usia rata-rata 30 tahun," jelasnya.
Program Pengembangan Talenta AI
Kementerian Komunikasi dan Digital telah meluncurkan program AI Talent Factory untuk meningkatkan talenta nan dapat mendukung pengembangan AI. "Kami berupaya mengumpulkan talenta terbaik dari universitas dan memberikan mereka program dari dasar hingga lanjut tentang gimana memberikan solusi AI," tambah Patria.
Dengan support sumber daya nan ada dan strategi nan tepat, Patria percaya Indonesia dapat menjadi pemain krusial dalam rantai pasok industri AI global.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·