Indonesia Sedang Tumbuh Gigi Bungsu

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi ekonomi. Foto: Pixabay

Ekonomi Indonesia hari ini mungkin seperti tubuh nan sedang tumbuh gigi bungsu. Nyut-nyutan, mengganggu, apalagi kadang memicu demam dan membikin susah makan. Namun, rasa sakit itu tidak selalu berfaedah tubuh sedang sekarat. Kadang, justru itu tanda bahwa tubuh sedang memasuki fase kedewasaan baru.

Sayangnya, ruang publik sering kandas membedakan antara rasa sakit dan penyakit. Setiap kali rupiah melemah, IHSG terkoreksi, alias penanammodal asing keluar dari pasar domestik, sebagian langsung memandang gambaran 1998.

Sebaliknya, setiap kritik terhadap kondisi ekonomi juga kerap dijawab secara melindungi dengan satu kalimat sakti: “Fundamental kita kuat.” Akibatnya, obrolan ekonomi berubah menjadi pertandingan dua kubu nan sama-sama terlalu sederhana.

Padahal, situasi Indonesia hari ini jauh lebih rumit dibanding sekadar memilih antara “aman” alias “krisis”.

Rupiah memang mengalami tekanan. Pasar saham bergejolak. Cadangan devisa juga terkuras untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Itu kebenaran nan tidak bisa disangkal. Namun di saat nan sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen, inflasi relatif terkendali, perbankan tetap ekspansif, dan neraca perdagangan terus mencatat surplus selama bertahun-tahun.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Dok. ChatGPT

Inilah nan membikin banyak orang bingung membaca keadaan. Data nan sama menghasilkan konklusi nan bertolak belakang. Sebagian memandang sirine kehancuran, sebagian lagi memandang bukti ketahanan. Mungkin masalahnya bukan pada datanya, melainkan pada langkah membacanya.

Indonesia hari ini bukan ekonomi nan sedang kolaps. Namun, Indonesia juga bukan ekonomi nan sepenuhnya nyaman. Kita sedang berada di fase transisi besar nan secara alami memang menimbulkan rasa sakit.

Selama dua dasawarsa terakhir, Indonesia menikmati model pertumbuhan nan relatif aman. Konsumsi domestik menjadi penopang utama. Stabilitas nilai dijaga. Gejolak daya diredam subsidi. Pasar domestik cukup besar untuk menjaga ekonomi tetap bergerak, meski bumi sedang tidak baik-baik saja. Model ini sukses membikin Indonesia relatif stabil dibanding banyak negara berkembang lain.

Namun, bumi berubah lebih sigap daripada sebelumnya.

Perang dagang, suku kembang tinggi global, fragmentasi geopolitik, perebutan rantai pasok industri, hingga transisi daya membikin negara-negara berkembang tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah dan konsumsi domestik. Negara nan mau naik kelas dipaksa membangun industri berbobot tambah, memperdalam pasar keuangan, memperkuat pedoman penanammodal domestik, dan meningkatkan produktivitas ekonominya.

Dan semua proses itu mahal.

Hilirisasi memerlukan impor mesin dan teknologi. Industrialisasi memerlukan investasi besar. Pendalaman pasar finansial membikin arus modal menjadi lebih sensitif terhadap sentimen global. Bahkan, pelemahan rupiah dalam pemisah tertentu justru menjadi akibat alami ketika kebutuhan devisa untuk transformasi ekonomi meningkat lebih sigap dibanding sebelumnya.

Di titik inilah Indonesia tampak seperti orang nan sedang tumbuh gigi bungsu: tidak nyaman, tetapi belum tentu sakit parah.

Mahasiswa berunjuk rasa mengenai reformasi, di Gedung DPR RI pada tahun 1998. Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah

Banyak nan lupa bahwa konteks Indonesia hari ini berbeda jauh dibanding 1998. Saat krisis Asia meledak, Indonesia nyaris tidak mempunyai bantalan. Cadangan devisa tipis, sektor perbankan rapuh, utang luar negeri swasta tidak terkendali, dan kepercayaan terhadap sistem finansial runtuh secara bersamaan.

Hari ini fondasinya berbeda. Cadangan devisa Indonesia tetap besar. Rasio permodalan perbankan berada pada level nan relatif kuat. Kredit investasi tumbuh lebih sigap dibanding angsuran konsumsi. Inflasi inti juga tetap rendah meski rupiah mengalami tekanan. Bahkan, kekuasaan penanammodal domestik di pasar modal sekarang jauh lebih besar dibanding satu dasawarsa lalu.

Semua itu tidak berfaedah Indonesia kebal terhadap krisis. Namun, perihal itu menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia sudah jauh lebih matang dibanding era sebelumnya.

Justru lantaran itulah tantangan Indonesia hari ini menjadi lebih kompleks.

Ekonomi nan semakin dewasa tidak cukup hanya memperkuat dari guncangan. Ia juga kudu bisa menghadapi akibat dari ambisinya sendiri. Ketika pemerintah mau mendorong hilirisasi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi daya secara bersamaan, tekanan terhadap fiskal, nilai tukar, dan kebutuhan pembiayaan tentu ikut meningkat.

Masalahnya, publik sering menginginkan dua perihal nan bertentangan secara bersamaan: mau ekonomi naik kelas, tetapi tidak mau merasakan biaya transisinya.

Ilustrasi siklus ekonomi. Foto: Shutterstock

Padahal, tidak ada negara nan sukses melakukan transformasi ekonomi besar tanpa melalui periode ketidaknyamanan. Korea Selatan pernah mengalaminya. China juga melewati fase volatilitas panjang ketika mengubah struktur ekonominya. Bahkan, banyak negara maju membangun industrinya melalui periode inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan tekanan sosial nan berat.

Tentu ini bukan argumen untuk menutup mata terhadap risiko. Kepercayaan fiskal tetap menjadi titik paling krusial. Pasar bisa memaklumi gejolak sementara, tetapi pasar tidak menyukai ketidakjelasan arah kebijakan.

Karena itu, pemerintah tetap perlu menjaga disiplin fiskal, konsistensi regulasi, dan memastikan proyek-proyek besar betul-betul menghasilkan produktivitas jangka panjang, bukan sekadar kemegahan sesaat.

Pada akhirnya, mungkin masalah terbesar Indonesia hari ini bukanlah rasa sakit ekonominya, melainkan kepanikan kita sendiri menghadapi rasa sakit itu.

Karena seperti tumbuhnya gigi bungsu, rasa nyeri memang nyata. Kadang membikin demam, susah tidur, apalagi mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, rasa sakit itu berbeda dengan tubuh nan sedang menuju kematian. Terkadang, justru itulah tanda bahwa tubuh sedang memasuki fase kedewasaan baru.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan