India Buka Tender Impor Pupuk Jelang Musim Tanam Monsun

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Seorang pekerja tani minum air sembari beristirahat saat bekerja di sawah pada hari musim panas di Karnal di negara bagian utara Haryana, India (3/6/2024). Foto: Bhawika Chhabra/REUTERS

India mencari penawaran dari pemasok dunia untuk membeli 1,7 juta ton urea, pupuk nitrogen nan banyak digunakan, menjelang musim tanam monsun. Langkah ini dilakukan setelah bentrok di Timur Tengah mengganggu pasokan gas untuk produksi domestik.

Mengutip Reuters, Kamis (28/5), National Fertilizers Ltd., produsen milik negara nan juga mengimpor nutrisi tanaman untuk pemerintah, menerbitkan tender untuk membeli 900.000 ton melalui pantai barat negara tersebut dan sisa volumenya lewat pantai timur, berasas pemberitahuan nan dipublikasikan di situs perusahaan pada Rabu. Pengiriman diminta sudah meninggalkan pelabuhan muat paling lambat 20 Juli.

India secara rutin membeli urea melalui tender dunia untuk memenuhi permintaan domestik. Tender terbaru ini menjadi nan kedua sejak dimulainya bentrok AS-Israel dengan Iran. Rencana pembelian dilakukan menjelang musim tanam baru, dengan penanaman komoditas utama seperti padi, jagung, dan kedelai dijadwalkan dimulai bulan depan.

Produksi urea di negara importir terbesar bumi tersebut sangat berjuntai pada gas alam, nan sebagian besar diimpor dari Timur Tengah dan digunakan untuk memproduksi amonia sebagai bahan baku utama. Namun, pasokan LNG nan semakin ketat setelah penutupan efektif Selat Hormuz memaksa beberapa produsen di Asia Selatan menghentikan operasional pabrik pada Maret, sehingga produksi menurun.

Harga urea dunia melonjak sejak bentrok dimulai, lantaran nyaris 45 persen pasokan bumi melewati Teluk Persia. India membeli 2,5 juta ton dalam tender sebelumnya dengan nilai nyaris dua kali lipat dibandingkan level sebelum konflik.

Menurut Kementerian Pupuk India, negara itu memerlukan sekitar 39 juta ton pupuk untuk tanaman nan ditanam selama musim hujan Juni-September. Sementara itu, persediaan saat ini tercatat sekitar 20 juta ton.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan