Ilmuwan Temukan Rumus Matematika untuk Melihat Peluang Hubungan Cinta yang Awet

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilmuwan Temukan Rumus Matematika untuk Melihat Peluang Hubungan Cinta nan Awet Ilustrasi matematika dan cinta.(Dok. Magnific)

APAKAH matematika dapat membantu menjelaskan kenapa beberapa hubungan bisa memperkuat menghadapi tekanan hidup sementara nan lain perlahan hancur? Para peneliti telah menghabiskan waktu puluhan tahun mengembangkan model matematika nan memperlakukan emosi romantis sebagai sistem nan berubah, mengungkapkan pola dalam ketertarikan, reaksi emosional, konflik, dan pemulihan.

Para mahir nan mempelajari hubungan romantis selama puluhan tahun menyatakan bahwa langkah emosi berubah seiring waktu dapat mengikuti pola nan dapat dimodelkan dengan presisi nan mengejutkan. Profesor Laurent Pujo-Menjouet dari Universitas Lyon I adalah salah satu peneliti nan mengembangkan model matematika nan memperlakukan hubungan romantis sebagai "sistem dinamis". Mereka mempelajari gimana emosi berevolusi, merespons tekanan luar, dan apakah emosi tersebut bakal pulih alias menurun seiring waktu.

Dalam bukunya nan berjudul Love! Valour! Equations!, Pujo-Menjouet menulis: "Tidak ada mantra misterius alias ramuan ajaib. Jika ada, itu pasti sudah diketahui sekarang. Apakah semua angan hilang? Tentu tidak. Justru di situlah segalanya menjadi menarik."

Dari Model Populasi Kelinci ke Hubungan Romantis

Jalur matematika untuk memahami hubungan dimulai dari tempat nan tidak terduga: populasi kelinci. Beberapa buahpikiran nan sekarang diterapkan pada pasangan awalnya dikembangkan untuk mempelajari perubahan populasi hewan. Model Malthusian dan persamaan predator-mangsa, misalnya, telah digunakan untuk memeriksa penyebaran kelinci di Australia alias pergeseran populasi lynx dan kelinci salju di Kanada.

Konsep krusial lainnya adalah Efek Allee, nan menggambarkan apa nan terjadi ketika sebuah populasi turun di bawah tingkat kritis. Di bawah periode pemisah tersebut, kelangsungan hidup menjadi jauh lebih sulit. Di atasnya, populasi mempunyai kesempatan lebih baik untuk tumbuh dan tetap stabil. Peneliti menemukan bahwa konsep periode pemisah serupa sangat berfaedah dalam memikirkan hubungan romantis.

"Sama seperti kita dapat memprediksi pertumbuhan populasi alias jenis nan terancam punah, kita dapat memodelkan perkembangan emosi dalam pasangan," jelas Pujo-Menjouet. Fokusnya bukan memprediksi dengan siapa seseorang bakal jatuh cinta, melainkan memahami kenapa beberapa pasangan tetap stabil meskipun menghadapi guncangan hidup.

Ambang Batas Matematika untuk Stabilitas

Psikolog Dr. John Gottman, nan dikenal sebagai 'Doctor Love', membantu menunjukkan bahwa perilaku hubungan dapat dianalisis secara matematis. Dengan mengodekan hubungan antar pasangan dan menerjemahkannya ke dalam grafik, karyanya membuktikan bahwa model matematika dapat membantu memprediksi hasil hubungan.

Pendekatan terbaru menambahkan lapisan kompleksitas, seperti "reaksi tertunda" nan diperkenalkan oleh peneliti Polandia (Bielezyk, Forys, dan Marek Bodnar). Ini memperhitungkan kebenaran bahwa orang tidak selalu merespons secara instan saat berselisih. Waktu nan diambil seseorang untuk bereaksi alias merenung dapat menenangkan bentrok alias justru memperburuknya.

Pujo-Menjouet menyebut satu buahpikiran sentral nan tetap sederhana: setiap hubungan mempunyai periode pemisah kritis nan mewakili kekuatan minimum nan dibutuhkan agar ikatan tetap stabil. Jika emosi jatuh di bawah periode pemisah ini dan menetap di sana, matematika memprediksi penurunan nan tak terelakkan menuju perpisahan.

Tiga Kekuatan Utama Pembentuk Cinta Jangka Panjang:

  • Daya tarik timbal kembali antar pasangan.
  • Pelemahan emosi secara berjenjang nan terjadi secara alami seiring waktu.
  • Cara setiap orang merespons secara emosional terhadap pasangannya.

Resiliensi dan Masa Depan AI

Pujo-Menjouet membandingkan resiliensi hubungan dengan kisah Tiga Babi Kecil. Hidup bakal selalu mengirimkan "serigala" berupa stres, penyakit, pekerjaan, anak-anak, hingga kesulitan finansial. Matematika membantu memahami langkah membangun "rumah bata" daripada "rumah jerami".

Ke depan, peneliti mempertimbangkan penggabungan model matematika dengan kepintaran buatan (AI) untuk menciptakan sistem peringatan awal bagi pasangan. Sistem ini bisa berfaedah seperti "GPS hubungan" nan menunjukkan posisi pasangan saat ini, ke mana arah mereka, dan menyarankan rute untuk mencapai tujuan nan diinginkan.

Keterbatasan Persamaan

Meski menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa model ini mempunyai batasan. Sebagian besar dikembangkan berasas pola hubungan di Barat. Alasan keberhasilan hubungan bisa sangat bervariasi lintas budaya, agama, dan status sosial ekonomi.

Perilaku manusia juga tidak selalu dapat diprediksi. Orang bisa bertindak tidak rasional, mengubah kebiasaan, alias mengikuti terapi nan tidak dapat diantisipasi sepenuhnya oleh model. "Matematika dapat menerangi pola dan memberikan panduan, tetapi pada akhirnya, keberhasilan hubungan berjuntai pada dua orang nan memilih, setiap hari, untuk memelihara hubungan mereka," pungkas Pujo-Menjouet. (Sciencedaily/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia