Petani bekerja di sawah di Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali. (MI/RUTA SURYANA)
PERUBAHAN iklim dunia nan kian tidak menentu terus menakut-nakuti stabilitas pasokan pangan nasional dan global. Penurunan produktivitas lahan, kejadian cuaca ekstrem, hingga gangguan rantai pasok menjadi tantangan nyata nan memerlukan terobosan konkret. Menjawab persoalan tersebut, The International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC) 2026 siap digelar untuk merumuskan solusi berbasis pertanian berkepanjangan dan ekowisata.
Konferensi internasional jenis perdana tersebut mengusung tema “Improving Food Security Through Sustainable Agriculture and Ecotourism Practices in the Issue of Climate Change”. Forum ilmiah nan diselenggarakan secara hibrida (online dan offline) dari Prama Sanur, Bali, pada 14–15 Agustus 2026 ini sukses menarik perhatian bumi internasional. Ilmuwan dari tujuh negara telah memastikan datang untuk membagikan terobosan riset mereka.
Ketua Panitia CAITEC 2026, Dr. Ni Made Ayu Suardani S, S.TP., M.Si, menegaskan bahwa ancaman krisis pangan akibat perubahan suasana tidak lagi bisa direspons dengan pendekatan konvensional. Transformasi sistem pertanian kudu menyatu dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Perubahan suasana telah mengganggu almanak tanam dan menurunkan hasil panen di beragam wilayah. Lewat CAITEC 2026, kami mempertemukan para akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, dan praktisi dunia untuk merumuskan solusi. Para peneliti dan intelektual dari tujuh negara, ialah Taiwan, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Timor Leste, Malaysia, serta Indonesia sudah mengonfirmasi kehadiran mereka," ujar Ayu Suardani menjawab wartawan di Denpasar, Jumat (7/8).
Ayu Suardani, nan juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi, Universitas Warmadewa, menjelaskan bahwa sinergi antara penemuan teknologi pangan, pertanian berkelanjutan, dan ekowisata menjadi kunci krusial keberlanjutan sektor agraris saat ini.
Menurutnya, area pertanian tidak hanya berkedudukan sebagai produsen bahan pangan, tetapi juga mempunyai potensi ekologis dan ekonomis jika dikelola dengan konsep ekowisata. Integrasi ini dinilai bisa menjaga kelestarian bentang alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui diversifikasi pendapatan.
"Teknologi pengolahan hasil pertanian dan penemuan pascapanen sangat krusial untuk menekan food loss serta memperpanjang masa simpan produk pangan di tengah ketidakpastian iklim. Ketika dihubungkan dengan ekowisata, masyarakat tidak hanya menjual komoditas, tetapi juga nilai edukasi dan kelestarian lingkungan," tambahnya.
Sebagai gelaran pertama, CAITEC 2026 dirancang menjadi ruang kerjasama lintas disiplin dan lintas negara dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan serta strategi penerapan teknologi tepat guna di tingkat tapak. Format hibrida nan diterapkan bermaksud memperluas partisipasi publik dan akademisi global, sehingga pertukaran pendapat mengenai ketahanan pangan dapat berjalan secara inklusif. (H-2)
Ket foto: (ilustrasi) Petani bekerja di sawah di Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·