Pengunjung mengawasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.(Dok. Antara)
BURSA Efek Indonesia (BEI) memberikan pernyataan menenangkan di tengah perubahan pasar modal nan cukup tajam dalam dua hari terakhir. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi signifikan di kisaran 3-4 persen, otoritas bursa menegaskan bahwa esensial emiten dan pasar modal nasional tetap berada dalam kondisi solid.
Berdasarkan info perdagangan, pada Rabu (3/6), IHSG ditutup melemah tajam 4,11 persen alias merosot 254,36 poin ke level 5.941,07. Tekanan jual bersambung hingga sesi I perdagangan Kamis (4/6) dengan penurunan mencapai 3,48 persen. Namun, menjelang penutupan pasar, IHSG sukses memangkas pelemahan dan berhujung di area merah nan lebih terbatas, ialah turun 1,70 persen.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa volatilitas pasar saat ini tidak mencerminkan kondisi esensial perusahaan tercatat nan sebenarnya tetap sangat positif.
“Fundamental pasar kita pada saat ini dalam kondisi nan baik,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6).
Pertumbuhan Laba Emiten Capai Rekor
Optimisme BEI didasarkan pada keahlian finansial emiten nan menunjukkan tren pertumbuhan kuat. Jeffrey memaparkan bahwa sepanjang tahun kitab 2025, seluruh perusahaan tercatat secara agregat membukukan pertumbuhan untung lebih dari 21 persen.
Tren positif ini bersambung pada awal tahun 2026. Pada Kuartal I 2026, golongan saham unggulan LQ45 mencatatkan pertumbuhan untung bersih hingga 29,9 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Selain itu, tingkat profitabilitas emiten juga menunjukkan nomor nan impresif.
“Sekitar 80 persen perusahaan tercatat membukukan untung bersih pada kuartal I 2026. Angka tersebut menjadi nan tertinggi dalam lima tahun terakhir,” jelas Jeffrey. Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 hanya 63 persen emiten nan mencetak laba, sementara pada periode 2021-2025 berada di kisaran 73-76 persen.
Langkah Penguatan Kepercayaan Investor
Menanggapi dinamika pasar, BEI terus melakukan reformasi untuk menjaga kepercayaan penanammodal melalui peningkatan transparansi dan penyediaan info nan lebih granular, termasuk info mengenai konsentrasi kepemilikan saham nan tinggi (high shareholding concentration).
Dari sisi regulasi, BEI memastikan sejumlah kebijakan relaksasi nan disepakati tahun lampau tetap bertindak untuk meredam volatilitas, di antaranya kebijakan pembelian kembali (buyback) saham tanpa melalui persetujuan RUPS dan penundaan penyelenggaraan transaksi short selling.
Menutup pernyataannya, Jeffrey mengimbau para penanammodal agar tidak terjebak dalam kepanikan pasar (panic selling). Ia menekankan pentingnya kajian logis dan konsentrasi pada keahlian esensial perusahaan dalam mengambil keputusan investasi di Mata Uang Rupiah.
“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada penanammodal untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil akibat masing-masing,” pungkasnya. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·