Review Naoko Karya Keigo Higashino

Sedang Trending 5 jam yang lalu

Naoko – Bagaimana jika seseorang nan kita cintai pergi untuk selamanya, tetapi sebagian dari dirinya justru tetap hidup di tubuh orang lain? Kehilangan orang terdekat tentu bukan perkara mudah, terlebih ketika sosok nan tersisa tetap membawa kenangan, kebiasaan, apalagi emosi nan begitu familiar. Situasi seperti ini bukan hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya orang nan ada di hadapan kita.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika nan mengalaminya adalah sebuah keluarga. Seorang suami kudu menerima realita bahwa istrinya telah meninggal, sementara putrinya sukses selamat dari kecelakaan. Namun, ketika sang putri terbangun, muncul sesuatu nan sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Ia menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya bukan hanya seorang anak, melainkan juga menyimpan sosok sang ibu di dalam dirinya.

Premis penuh misteri inilah nan dihadirkan dalam novel Naoko karya Keigo Higashino, salah satu penulis misteri paling dikenal dari Jepang. Novel nan mempunyai titel original Himitsu alias Rahasia ini tidak hanya menghadirkan misteri mengenai perpindahan jiwa, tetapi juga membawa pembaca pada persoalan hubungan keluarga, kehilangan, dan gimana seseorang menghadapi keadaan nan berada di luar nalar.

Naoko merupakan novel nan sukses meraih Penghargaan Penulis Misteri Jepang ke-52 untuk kategori Novel Terbaik pada 1999. Kisahnya juga telah diadaptasi ke layar lebar melalui movie Jepang Himitsu pada 1999 nan disutradarai oleh Y?jir? Takita. Film tersebut kemudian menjadi dasar bagi movie The Secret nan dirilis pada 2007. Sementara itu, jenis terjemahan bahasa Indonesia Naoko diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 26 Mei 2026 dengan ketebalan 456 halaman.

Lantas, gimana kehidupan sebuah family setelah kehilangan orang nan dicintai, ketika sosok nan semestinya telah pergi justru kembali melalui tubuh orang lain? Yuk, Grameds, kita simak ulasan novel Naoko berbareng Gramin!

Profil Keigo Higashino – Penulis Novel Naoko

Keigo Higashino merupakan salah satu penulis fiksi misteri paling terkenal dari Jepang. Sebelum sepenuhnya menekuni bumi kepenulisan, dia sempat bekerja sebagai seorang insinyur di Nippon Denso Co., nan sekarang dikenal sebagai DENSO. Di tengah kesibukannya sebagai insinyur, Higashino mulai menulis novel hingga akhirnya mendapatkan penghargaan pertamanya pada usia 27 tahun.

Pada 1985, dia meraih Penghargaan Edogawa Rampo melalui novel H?kago alias After School. Penghargaan tersebut diberikan untuk karya-karya misteri terbaik dan menjadi salah satu pencapaian krusial dalam perjalanan ke penulisannya. Setelah meraih penghargaan tersebut, Higashino memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai insinyur dan memulai pekerjaan sebagai penulis di Tokyo.

Kiprahnya dalam aliran misteri terus berkembang. Pada 1999, Higashino meraih penghargaan dari Mystery Writers of Japan Inc. melalui Himitsu, novel nan kemudian dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Secret dan menjadi karya nan mendasari novel Naoko. Beberapa tahun kemudian, dia kembali memperoleh penghargaan bergengsi ketika novel Y?gisha X no Kenshin meraih Penghargaan Naoki ke-134 pada 2006. Sebelum akhirnya memenangkan penghargaan tersebut, karya-karyanya telah beberapa kali masuk dalam daftar nominasi.

Nama Higashino semakin dikenal secara internasional melalui beragam novel misterinya, salah satunya The Devotion of Suspect X. Novel tersebut sukses meraih penjualan lebih dari 800.000 eksemplar pada tahun penerbitannya di Jepang dan mendapatkan Penghargaan Naoki untuk kategori Novel Terbaik. Karya tersebut juga kemudian diadaptasi menjadi movie layar lebar dan mendapatkan pencapaian besar di box office Jepang.

Karya-karya Higashino juga mempunyai jejak penyesuaian nan luas. Berbagai novelnya telah diangkat menjadi movie maupun serial televisi, menunjukkan gimana cerita misteri nan dia tulis bisa menarik perhatian pembaca sekaligus penonton. Melalui karya-karyanya, Higashino dikenal sebagai penulis nan menjadikan misteri bukan sekadar teka-teki, tetapi juga ruang untuk mengeksplorasi hubungan antarmanusia dan beragam persoalan kehidupan.

Sinopsis Naoko

Naoko

Sugita Heisuke merupakan seorang pegawai pabrik nan bekerja keras demi menghidupi istrinya, Naoko, dan putri semata wayang mereka, Monami. Setelah menjalani sif malam, salah satu perihal nan paling dia nantikan adalah menikmati sarapan berbareng keluarganya. Kehidupan sederhana tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Heisuke, sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya.

Suatu hari, dia mendapat berita bahwa bus nan ditumpangi Naoko dan Monami dalam perjalanan menuju Nagano mengalami kecelakaan dan jatuh dari tebing. Naoko meninggal bumi dalam kecelakaan tersebut setelah berupaya melindungi putrinya, sementara Monami sukses memperkuat hidup meskipun kudu mengalami koma.

Ketika Monami akhirnya terbangun, Heisuke menghadapi sesuatu nan susah dipercaya. Putrinya seolah meyakini bahwa dirinya adalah Naoko. Bukan hanya itu, dia juga mengetahui beragam perihal nan semestinya hanya diketahui oleh Naoko.

Sejak saat itu, Heisuke kudu menjalani kehidupan nan penuh kebingungan berbareng sosok nan secara bentuk terlihat seperti putrinya, tetapi membawa jiwa sang istri. Berbagai situasi canggung sekaligus menggelitik pun muncul dalam kehidupan mereka sebelum akhirnya membawa kisah ini menuju sebuah akhir nan tidak terduga

Kelebihan dan Kekurangan Naoko

Pros & Cons

Pros

  • Premis cerita nan unik dan original.
  • Misteri nan tidak hanya berpusat pada kejahatan.
  • Mengangkat persoalan identitas dan hubungan keluarga.
  • Karakter dan bentrok emosional terasa kuat.
  • Menghadirkan pertanyaan moral tanpa jawaban nan sederhana.
  • Ceritanya bisa meninggalkan kesan setelah selesai dibaca.

Cons

  • Premisnya dapat terasa cukup mengganggu bagi sebagian pembaca.
  • Beberapa pembahasan terasa cukup berat.

Kelebihan Naoko

Naoko karya Keigo Higashino mempunyai beberapa kelebihan nan membuatnya menarik untuk dibaca.

  • Premis cerita nan unik dan original 

Kekuatan utama novel ini terletak pada premisnya nan tidak biasa. Peristiwa nan dialami sebuah family setelah kecelakaan menghadirkan situasi nan susah dijelaskan dengan logika sederhana.

Keunikan tersebut membikin pembaca terus bertanya-tanya mengenai keadaan nan sebenarnya terjadi sekaligus mengikuti gimana para tokohnya berupaya menjalani kehidupan dalam situasi nan sama sekali berbeda dari sebelumnya. 

  • Misteri nan tidak hanya berpusat pada kejahatan

Berbeda dari cerita misteri nan umumnya berangkaian dengan pembunuhan, pencurian, alias penyelidikan sebuah kasus, Naoko menawarkan corak misteri nan lebih personal. Rasa penasaran pembaca muncul dari situasi dan pertanyaan nan berkembang sepanjang cerita.

Hal ini membikin novel terasa menarik lantaran pembaca tidak hanya diajak mencari tahu apa nan terjadi, tetapi juga memikirkan beragam kemungkinan mengenai hubungan dan identitas para tokohnya. 

  • Mengangkat persoalan identitas dan hubungan keluarga 

Di kembali premis nan unik, novel ini sebenarnya banyak berbincang mengenai hubungan antara suami, istri, dan anak.

Perubahan keadaan membikin hubungan tersebut menghadapi persoalan nan tidak mudah. Tokoh-tokohnya kudu berhadapan dengan pertanyaan mengenai peran, identitas, serta gimana seseorang semestinya bersikap ketika hubungan nan selama ini mereka kenal berubah.

Pembahasan tersebut membikin cerita terasa lebih dalam daripada sekadar kisah misteri dengan unsur supernatural. 

  • Karakter dan bentrok emosional terasa kuat 

Keigo Higashino bisa menggambarkan kebingungan dan pergulatan emosional para tokohnya dengan cukup meyakinkan. Situasi nan secara konsep terdengar tidak masuk logika justru diimbangi dengan reaksi manusia nan terasa nyata. Kesedihan, kebingungan, keraguan, hingga beragam pertimbangan nan muncul dalam menghadapi keadaan tersebut membikin pembaca dapat memahami bahwa persoalan dalam cerita tidak sesederhana mencari jawaban betul alias salah. 

  • Kurang cocok untuk beberapa segmentasi

Novel ini juga menarik lantaran tidak terburu-buru memberikan jawaban mengenai gimana seseorang semestinya menghadapi situasi nan dihadirkan. Pembaca justru diajak mempertimbangkan beragam pilihan dan konsekuensinya melalui perjalanan para tokoh.

Persoalan mengenai keluarga, perasaan, identitas, dan kehidupan pribadi kemudian saling berkelindan sehingga membikin pembaca ikut memikirkan keputusan nan mungkin diambil jika berada dalam posisi serupa. 

  • Ceritanya bisa meninggalkan kesan setelah selesai dibaca 

Selain membikin penasaran, Naoko merupakan cerita nan cukup emosional dan dapat meninggalkan bahan renungan bagi pembaca.

Berbagai persoalan nan dihadirkan tidak berakhir pada misteri nan mau dipecahkan, tetapi juga membawa pembaca memikirkan kembali makna kehilangan, hubungan dengan orang nan dicintai, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan langkah nan berbeda.

Perpaduan antara misteri dan emosi inilah nan membikin cerita terasa membekas. 

Kekurangan Naoko

Meskipun buku karya Keigo Higashino ini menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca. 

  • Premisnya dapat terasa cukup mengganggu bagi sebagian pembaca 

Situasi nan menjadi dasar cerita membikin novel ini menyentuh persoalan hubungan family dan identitas dengan langkah nan cukup sensitif.

Beberapa perkembangan hubungan antar tokoh dapat menimbulkan rasa tidak nyaman lantaran pembaca dihadapkan pada batas-batas peran nan menjadi semakin rumit.

Bagi pembaca nan kurang nyaman dengan tema seperti ini, premis Naoko mungkin terasa cukup mengganggu meskipun persoalan tersebut menjadi bagian krusial dari bentrok cerita. 

  • Beberapa pembahasan terasa cukup berat 

Novel ini tidak hanya mengandalkan misteri untuk mempertahankan rasa penasaran, tetapi juga mengeksplorasi dilema emosional dan moral nan cukup kompleks. Ada sejumlah situasi nan dapat membikin pembaca merasa resah lantaran tidak mudah menentukan gimana sebuah keadaan semestinya disikapi.

Bagi pembaca nan mengharapkan cerita misteri nan lebih ringan dan berfokus pada teka-teki, pendekatan emosional seperti ini mungkin terasa cukup berat. 

Benarkah Kesadaran Bisa Berpindah ke Tubuh Lain?

Grameds, pernahkah kalian membayangkan gimana jadinya jika kesadaran seseorang bisa berada di luar tubuhnya sendiri?

Gagasan semacam ini telah lama muncul dalam beragam kepercayaan dan praktik spiritual, salah satunya melalui konsep astral projection alias proyeksi astral.

Konsep ini menggambarkan pengalaman ketika seseorang merasa kesadarannya terpisah dari tubuh fisiknya dan seolah-olah dapat mengawasi dirinya sendiri alias menjelajahi tempat lain.

Dalam pandangan spiritual dan esoteris, astral projection dipercaya sebagai perjalanan kesadaran ke luar tubuh. Seseorang nan mengalaminya dapat merasa seolah-olah mempunyai tubuh astral nan berbeda dari tubuh fisiknya. Pengalaman tersebut kemudian dipercaya dapat membawa seseorang menjelajahi tempat nan jauh, berinteraksi dengan sosok spiritual, alias memasuki alam lain.

Sementara itu, dari perspektif pandang ilmiah, pengalaman merasa berada di luar tubuh dikenal sebagai out-of-body experience. Pengalaman tersebut dapat muncul dalam kondisi tertentu, seperti ketika seseorang berada di antara keadaan tidur dan terjaga.

Hingga kini, belum ada bukti ilmiah nan menunjukkan bahwa kesadaran betul-betul dapat meninggalkan tubuh dan melakukan perjalanan ke bumi lain.

Menariknya, pendapat mengenai kesadaran nan terpisah dari tubuh mempunyai kaitan dengan pertanyaan besar nan diangkat dalam novel Naoko. Lantas, apa saja perihal menarik nan bisa kita ketahui tentang astral projection dan hubungannya dengan cerita tersebut?

Astral projection berangkaian dengan pendapat tentang kesadaran 

Secara sederhana, astral projection berangkat dari pendapat bahwa kesadaran seseorang dapat terasa terpisah dari tubuh fisiknya. Dalam pengalaman nan dipercaya sebagai proyeksi astral, seseorang dapat merasa sedang memandang tubuhnya sendiri dari luar alias berada di tempat lain tanpa betul-betul beranjak secara fisik.

Gagasan inilah nan membikin astral projection menarik jika dikaitkan dengan Naoko. Novel tersebut juga membawa pembaca pada situasi ketika keberadaan seseorang tidak lagi dapat dipahami hanya berasas tubuh nan terlihat.

Keduanya sama-sama membuka pertanyaan mengenai hubungan antara tubuh dan kesadaran, meskipun berasal dari konteks nan berbeda.

Pengalaman keluar dari tubuh dapat terasa sangat nyata 

Orang nan mengalami out-of-body experience dapat merasakan seolah-olah dirinya betul-betul berada di luar tubuh. Sensasi tersebut bisa terasa sangat nyata, apalagi membikin seseorang merasa sedang memandang dirinya sendiri dari perspektif pandang tertentu.

Dari sinilah muncul perbedaan antara pengalaman subjektif dan penjelasan mengenai apa nan sebenarnya terjadi. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut dapat dimaknai secara spiritual. Sementara itu, pendekatan ilmiah melihatnya sebagai pengalaman persepsi nan belum tentu menunjukkan bahwa kesadaran betul-betul meninggalkan tubuh.

Tidur dan kondisi rileks sering dikaitkan dengan astral projection 

Astral projection juga sering dikaitkan dengan keadaan ketika tubuh berada dalam kondisi sangat rileks, terutama menjelang tidur alias ketika seseorang sedang melakukan meditasi.

Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami beragam sensasi nan terasa berbeda dari keadaan sadar sehari-hari, termasuk emosi melayang alias berada di luar tubuh.

Hal ini menarik lantaran pemisah antara tidur, mimpi, dan kesadaran menjadi sangat tipis. Pengalaman tersebut kemudian menunjukkan sungguh kompleksnya langkah manusia merasakan keberadaan dirinya sendiri.

Ada pandangan spiritual dan ilmiah nan berbeda 

Tidak semua orang memandang astral projection dengan langkah nan sama. Dalam tradisi spiritual tertentu, pengalaman tersebut dianggap sebagai perjalanan kesadaran alias tubuh astral. Sementara itu, dalam kajian ilmiah, pengalaman serupa lebih sering dibahas sebagai kejadian persepsi dan kesadaran nan dapat terjadi dalam kondisi tertentu.

Perbedaan tersebut krusial untuk dipahami agar kita tidak langsung menganggap salah satu pandangan sebagai kebenaran nan sudah terbukti. Hingga kini, klaim bahwa kesadaran dapat betul-betul meninggalkan tubuh dan melakukan perjalanan ke alam lain tetap belum mempunyai bukti ilmiah nan kuat.

Astral projection membujuk kita mempertanyakan makna tubuh dan identitas 

Di luar perdebatan mengenai betul alias tidaknya astral projection, konsep ini menarik lantaran menyentuh pertanyaan nan lebih mendasar: jika kesadaran dapat dipisahkan dari tubuh, lampau apa nan sebenarnya membikin seseorang menjadi dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut mempunyai relevansi nan kuat dengan Naoko. Melalui kisah Heisuke dan keluarganya, Keigo Higashino membujuk pembaca memandang bahwa identitas seseorang tidak selalu sesederhana wajah alias tubuh nan terlihat. Ingatan, kepribadian, hubungan, dan kesadaran juga ikut membentuk langkah kita mengenali seseorang.

Tubuh bukan satu-satunya langkah kita mengenali seseorang 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasanya mengenali seseorang melalui wajah, suara, tubuh, dan beragam karakter bentuk lainnya. Namun, ketika aspek-aspek tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya penanda, muncul pertanyaan nan jauh lebih rumit tentang identitas.

Inilah nan membikin konsep astral projection terasa relevan dengan Naoko. Novel ini tidak sekadar menggunakan pendapat tentang kesadaran untuk menciptakan misteri, tetapi juga memanfaatkannya untuk mempertanyakan gimana seseorang mengenali orang nan dicintainya.

Pada akhirnya, Grameds bakal diajak untuk memandang bahwa mengenali seseorang mungkin bukan hanya persoalan mengetahui siapa tubuh nan ada di hadapan kita, tetapi juga memahami kesadaran dan pribadi nan berada di baliknya.

Dengan begitu, astral projection dapat menjadi salah satu konsep menarik untuk membantu kita memandang tema Naoko dari perspektif pandang nan berbeda.

Terlepas dari perbedaan antara kepercayaan spiritual dan penjelasan ilmiah, keduanya sama-sama membawa kita pada satu pertanyaan menarik tentang manusia: sebenarnya, apa nan membikin kita menjadi diri kita sendiri? 

Penutup

Buku Naoko menjadi pilihan referensi nan tepat bagi Grameds nan menyukai cerita misteri dengan premis unik sekaligus mempunyai lapisan emosional nan kuat.

Melalui kisah Heisuke, Naoko, dan Monami, Keigo Higashino tidak hanya menghadirkan pertanyaan mengenai apa nan sebenarnya terjadi, tetapi juga membujuk Grameds dalam perjalanan untuk memahami makna kehilangan, keluarga, identitas, dan hubungan dengan orang nan kita cintai.

Perpaduan antara misteri dan persoalan manusia membikin novel ini menawarkan pengalaman membaca nan tidak berakhir pada rasa penasaran terhadap ceritanya.

Pada akhirnya, Naoko membujuk kita untuk merenungkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi tidak mudah dijawab: jika seseorang tetap mempunyai ingatan, perasaan, dan kesadaran nan sama, tetapi berada dalam tubuh nan berbeda, apakah dia tetap merupakan orang nan sama? Pertanyaan tersebut mungkin bakal terus terlintas apalagi setelah laman terakhir selesai dibaca.

Semoga ulasan dari Gramin ini dapat membantu Grameds mengenal lebih dekat novel Naoko dan menemukan argumen untuk menyelami sendiri kisah penuh misteri dan emosi nan ditawarkan Keigo Higashino. 

Naoko karya Keigo Higashino ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Keajaiban Toko Kelontong 

Ketika tiga pemuda berandal berlindung di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat. Surat nan berisi permintaan saran. Sungguh aneh. Namun, surat asing itu rupanya membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong nan menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang nan meminta bantuan. Hanya untuk satu malam. Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak bakal pernah sama lagi…

Misteri Perpustakaan nan Hilang (The Lost Library)

The Lost Library

Suatu hari, perpustakaan mini cuma-cuma muncul di Kota Martinville. Di dekatnya ada plang bertuliskan: AMBIL BUKU, TINGGALKAN BUKU. ATAU DUA-DUANYA! Evan mengambil dua kitab dan mendapati buku-buku di perpustakaan tersebut berasal dari Perpustakaan Martinville nan terbakar dua puluh tahun lalu.

Perpustakaan mini cuma-cuma itu rupanya dibuat oleh hantu berjulukan Al dan dijaga oleh kucing manis berjulukan Mortimer. Al merupakan asisten pustakawan Perpustakaan Martinville sementara Mortimer dulu tinggal di sana. Setiap kali mengingat kebakaran Perpustakaan Martinville, hati Mortimer selalu berbicara itu salahnya. Apa nan sebenarnya terjadi hari itu?

Teka-Teki Gambar Aneh

Teka-Teki Gambar Aneh

Gambar nan dibuat seorang wanita mengandung di internet…

Gambar nan dibuat seorang anak mini sebagai bingkisan Hari Ibu…

Gambar nan dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya…

Jika dilihat sekilas, gambar-gambar ini terkesan biasa saja. Namun, jika dicermati lebih dalam, di sana-sini terdapat keganjilan… keganjilan nan akhirnya mendorong seorang detektif amatir menyusuri labirin penuh teka-teki nan mengarah pada sebuah realita mengerikan.

Novel kedua dari YouTuber populer, Uketsu—sosok misterius bertopeng nan merupakan salah satu penulis kontemporer paling terkenal di Jepang.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia
↑