Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi I perdagangan Senin (14/9) ini. IHSG ditutup merosot 111,5 poin alias -1,70% ke level 6.429,88.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kondisi ini menunjukkan RI perlu bersiap menghadapi periode nilai modal dunia nan lebih tinggi.
“Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku kembang Federal Reserve, nilai minyak nan kembali berada di atas USD 100 per barel, serta yield US Treasury nan mendekati 5% menunjukkan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi periode nilai modal dunia nan lebih tinggi,” kata Fakhrul kepada kumparan, Senin (14/9).
Menurut Fakhrul, kondisi higher-for-longer tak hanya berfaedah suku kembang dunia memperkuat tinggi, tetapi juga membuka kemungkinan kenaikan kembang kembali.
“Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets bakal datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh nilai modal global,” ucapnya.
Dia menilai respons kebijakan perlu disesuaikan dengan sumber tekanan nan muncul, bukan hanya mengandalkan BI Rate.
“Kalau muncul volatilitas berlebihan di pasar valas, BI dapat melakukan guardrail melalui intervensi. Kalau persoalannya structural dollar demand, pemerintah dan BI perlu memperkuat LCT, ekspor, FDI dan sumber pembiayaan eksternal lainnya. Kita jangan meminta BI Rate menyelesaikan semuanya,” ujarnya.
Pasar Ekspektasi The Fed Naik 25 Bps
Sementara itu Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, mengatakan pasar sudah memperkirakan adanya kenaikan suku kembang The Fed dalam rapat pada 16 September 2026.
“Probabilitasnya sudah 83% di pasar fed fund futures,” ungkap David.
Selain kebijakan The Fed, nilai minyak nan kembali berada di atas USD 100 per barel juga menjadi perhatian lantaran berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia.
“Iya kekhawatiran juga dampaknya ke defisit APBN,” kata David.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·