Ibas Dorong Seni Budaya Jadi Identitas Bangsa dan Penggerak Ekonomi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menekankan pentingnya penguatan seni budaya imajinatif sebagai identitas bangsa sekaligus kekuatan untuk mendorong pembangunan nasional. Ibas mengatakan Indonesia mempunyai kekayaan sejarah dan budaya nan besar dan kudu terus dijaga serta dikembangkan.

"Indonesia mempunyai potensi luar biasa dalam seni dan budaya. Dari beragam tarian, musik, hingga seni rupa, dan pertunjukkan. Kita mempunyai kekayaan nan semestinya kuat di dalam negeri dan bisa kita angkat ke bumi internasional," ujar Ibas dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Hal itu disampaikan Ibas saat menghadiri audiensi berjudul 'Seni Budaya Kreatif Sebagai Identitas Bangsa: Menjaga dan Menghidupkan Warisan Budaya Indonesia' di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dalam rangka Hari Seni Sedunia,yang digelar pada Selasa (15/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan itu dihadiri para pelaku seni dan budaya. Forum tersebut menjadi ruang perbincangan kebangsaan untuk membahas peran seni dalam pembangunan nasional.

Ia pun menilai penguatan industri seni budaya imajinatif krusial bukan hanya sebagai penegas identitas bangsa, tetapi juga sebagai kesempatan ekonomi nasional nan bisa mengisi ruang industri intermezo di dalam negeri maupun global.

Ibas juga membujuk generasi muda untuk tidak hanya mengagumi budaya luar, tetapi ikut mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya Indonesia.

"Kita kudu mengajarkan generasi muda untuk tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga untuk mengembangkan, dan memajukannya. Kita tidak hanya mau melestarikan, tetapi juga meningkatkan dan mempercepat faedah budaya kita," tegas Ibas.

Ia menekankan pelestarian budaya perlu dilakukan dengan pendekatan nan lebih inovatif dan kreatif, termasuk dengan menggabungkan warisan budaya dan penemuan nan relevan di era digital.

Di tengah perkembangan dunia dan digitalisasi nan kian pesat, Ibas menyoroti tantangan nan dihadapi seni dan budaya Indonesia, termasuk perkembangan teknologi seperti kepintaran buatan (AI), NFT, dan galeri digital.

"Teknologi ini bisa menjadi kesempatan besar, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan bijaksana," ungkapnya.

Karena itu, dia menilai kerjasama antara tradisi budaya Indonesia, baik klasik maupun pop modern, dengan penemuan teknologi perlu diperkuat agar seni budaya Indonesia tetap relevan dan bisa bersaing di pasar global.

Ibas juga menyoroti tantangan nan dihadapi pelaku seni, mulai dari keterbatasan akses pasar hingga rendahnya apresiasi ekonomi terhadap karya seni. Menurutnya, sektor seni budaya tak hanya berangkaian dengan ekspresi artistik, tetapi juga dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pekerja seni kudu mendapatkan perlindungan terhadap kewenangan kekayaan intelektual dan kebijakan nan berpihak pada mereka, agar mereka bisa mengembangkan karya mereka tanpa khawatir," imbuhnya.

Untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya, Ibas mengusulkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya promosi lintas negara, penguatan peran BUMN di sektor pariwisata dan kebudayaan, serta peningkatan kualitas SDM seni dan budaya seperti kurator dan pemandu wisata.

Ia juga memberi perhatian unik pada pengelolaan museum agar tetap relevan di era digital. Menurutnya, digitalisasi koleksi, pengembangan fitur interaktif berbasis teknologi seperti AI dan video mapping, serta penguatan platform digital nan mengintegrasikan museum di seluruh Indonesia perlu didorong.

"Museum kudu menjadi tempat nan hidup, bukan hanya sebagai ruang statis. Teknologi memungkinkan kita untuk menghadirkan pengalaman nan lebih menarik dan edukatif," ujar Ibas.

Ibas menegaskan seni merupakan penerus peradaban bangsa sekaligus instrumen untuk memperkuat persatuan dan kedaulatan bangsa.

"Seni adalah bahasa universal nan bisa menembus pemisah apapun dan menjadi penghubung antar bangsa. Seni tidak hanya simbol identitas bangsa, tetapi juga gambaran nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tambahnya.

Dalam forum itu, sejumlah pelaku seni juga menyampaikan aspirasi mengenai tantangan nan mereka hadapi. Bayu Genia Chrisby dari Galeri Nasional menyoroti keterbatasan prasarana galeri. Pradetya Novitri dari Yayasan Titimangsa menyebut seni teater makin diminati publik, tetapi tetap memerlukan support berkepanjangan dari negara. Dewi Ratna Ningsih, Putri Indonesia 2025, menekankan pentingnya agunan kesejahteraan bagi pelaku seni, termasuk asuransi.

Selain itu, Nyoman Trianawati menyoroti kebutuhan support ruang dan pendanaan untuk pelestarian tari tradisional. Kathalizsa dan Agung Sentausa menyinggung keterbatasan akses pendanaan, lemahnya manajemen seni profesional, serta perlunya pembaharuan izin ketenagakerjaan nan lebih adaptif terhadap perkembangan industri kreatif.

Pandangan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, legislatif, dan organisasi seni untuk membangun ekosistem kebudayaan nan berkelanjutan. Fraksi Partai Demokrat juga menyampaikan sejumlah pandangan strategis, antara lain soal keberpihakan negara melalui program Dana Indonesiana 2.0 dan pentingnya izin nan melindungi kewenangan kekayaan intelektual pelaku seni.

Sebagai corak support terhadap Museum Nasional Indonesia, Ibas menyerahkan support simbolis kepada Kepala Museum Nasional Indira Estianty Nurjadin. Bantuan itu diharapkan dapat mendukung operasional dan pengembangan museum.

Ibas juga membujuk peserta meninjau museum, termasuk mencoba fitur interaktif berbasis AI 'Paras Nusantara' nan memindai wajah pengunjung, serta memandang koleksi ikonik seperti Arca Bhairawa dan fosil Homo erectus nan baru kembali ke Indonesia setelah lebih dari 130 tahun.

Kegiatan ini menegaskan bahwa penguatan sektor seni dan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan support sektor swasta, masyarakat, dan lembaga budaya. Kolaborasi dinilai krusial untuk membangun ekosistem berkepanjangan dan mendorong Indonesia menjadi pusat kebudayaan imajinatif di Asia Tenggara maupun dunia.

Acara ini turut dihadiri sejumlah personil DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, antara lain Marwan Cik Asan, Sabam Sinaga, Iman Adinugraha, dan Anita Jacoba Gah.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News