Ibas Dorong Penguatan 3 Strategi Ini di Tengah Ketidakpastian Global

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya penguatan strategi fiskal, energi, dan perlindungan sosial untuk menghadapi dinamika dunia nan kian kompleks dan tidak menentu.

Hal ini disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertema 'Indonesia di Tengah Gejolak Global: Strategi Fiskal, Energi, dan Perlindungan Rakyat'.

Dalam sambutannya, Ibas menyebut bahwa bumi saat ini berada dalam tiga lapisan dinamika besar, ialah geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi. Ketiganya saling berangkaian dan berakibat pada stabilitas ekonomi global, perdagangan daya dan pangan, hingga kebijakan moneter dan fiskal nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia tidak berdiri sendiri. Kita terhubung dalam sistem dunia nan dinamis. Apa nan terjadi di bumi hari ini, langsung berakibat pada kehidupan rakyat kita, mulai dari nilai energi, pangan, hingga daya beli masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, ketegangan dunia memicu disrupsi rantai pasok, kenaikan nilai daya dan pangan, serta perubahan pola perdagangan dunia. Kondisi tersebut juga berakibat pada tekanan nilai tukar, arus modal, hingga meningkatnya beban subsidi daya dan kebutuhan perlindungan sosial.

Dari sisi fiskal, Ibas menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan rakyat dan kesehatan APBN.

"APBN kudu tetap menjadi shock absorber, melindungi rakyat dari tekanan global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional," katanya.

Ia menuturkan, saat ini pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan tetap menjaga nilai daya agar tidak membebani masyarakat, serta menghadirkan beragam paket kebijakan ekonomi nan pro rakyat.

Mengutip ahli ekonomi peraih Nobel Joseph Stiglitz, Ibas mengingatkan bahwa ketimpangan nan tinggi dapat melemahkan ekonomi. Oleh lantaran itu, kebijakan publik kudu berpihak kepada masyarakat.

Ibas juga menegaskan komitmennya dalam mengawal kebijakan melalui tiga pendekatan utama, ialah jangka pendek (stabilisasi), jangka menengah, dan jangka panjang. Pada jangka pendek, konsentrasi berada pada intervensi nilai dan pasar, penguatan persediaan pangan dan energi, ekspansi support sosial, serta stabilisasi nilai tukar.

Untuk jangka menengah, diarahkan pada reformasi subsidi tepat sasaran berbasis data, diversifikasi sumber impor dan ekspor, serta penguatan industri dalam negeri. Sementara pada jangka panjang, strategi mencakup kemandirian daya melalui daya terbarukan, kedaulatan pangan nasional, transformasi ekonomi berbasis nilai tambah, serta peningkatan daya saing global.

Selain itu, Ibas membahas mengenai pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, penguatan diplomasi ekonomi, serta peningkatan investasi di sektor daya dan pangan. Ia menyebut bahwa Indonesia mempunyai pengalaman dalam menghadapi beragam krisis, mulai dari krisis 1998, krisis dunia 2008, hingga pandemi Covid-19 nan menjadi 'modal' untuk menghadapi tantangan dunia saat ini.

"Negara nan kuat bukan nan bebas dari krisis, tetapi nan bisa merespons krisis dengan cepat, tepat, dan berpihak pada rakyat," tuturnya.

Ibas pun membujuk seluruh peserta obrolan untuk memberikan pandangan strategis, masukan kritis, serta rekomendasi kebijakan nan konkret dan implementatif, sekaligus menegaskan bahwa kunci menghadapi tantangan dunia adalah melalui keberanian dalam mengambil kebijakan, ketepatan strategi, dan kekuatan sinergi nasional.

"Masukan hari ini bakal menjadi bagian krusial dalam perumusan kebijakan di parlemen, pengawalan APBN, dan penguatan strategi nasional kita," ungkapnya.

"Dari dunia shock menuju national resilience, dari tantangan menuju kesempatan," sambungnya.

Diskusi tersebut juga diperkaya oleh pandangan para master dan akademisi. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D., mempertanyakan efektivitas sistem dunia dalam menjamin kepatuhan antarnegara.

"Apa nan bisa memastikan, jika terjadi kesepakatan, tidak bakal ada pelanggaran lagi?" tanyanya.

Sementara itu, Guru Besar Sejarah dan Geopolitik Timur Tengah UI, Prof. Yon Machmudi, Ph.D., menyoroti keterkaitan bentrok Iran dengan dinamika di Gaza sebagai pola baru bentrok global. Hal ini diperkuat dengan pandangan Anggota Fraksi Partai Demokrat Rizki Natakusumah nan menekankan pentingnya ketahanan strategis nasional.

"Indonesia mengusulkan sebagai mediator, itu kita apresiasi. Kita kudu membangun strategic resilience negara kita sendiri," jelasnya.

Dari perspektif energi, Pakar Ketahanan Energi Universitas Pertahanan Dr. Ir. Rudy Laksmono W, M.T., mengingatkan bahwa subsidi terus membengkak, sementara produksi nasional tetap jauh dibawah konsumsi harian. Hal ini senada dengan tanggapan Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan nan menyoroti tekanan subsidi daya dan pentingnya menjaga nilai minyak dengan efisiensi nasional.

Sementara itu, Asia Freedom Fellow di LSE dan Senior Research and Policy Specialist di CIPS, Andree Surianta, Ph.D., menyebut penguatan esensial ekonomi melalui mobilisasi produksi, pengedaran nan efisien, dan pembiayaan nan berkepanjangan sebagai perihal penting.

Dari sisi geopolitik dan ketahanan nasional, Direktur Kerja Sama Luar Negeri di Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisha Rasyidila Kusumasomantri, M.Sc., mengingatkan perlunya kesiapan dalam menghadapi beragam skenario disrupsi global, khususnya dalam sektor daya dan pangan.

Lebih lanjut, Senior Economist ERIA Dionisius Narjoko, Ph.D., menyebut diperlukannya penguatan industri manufaktur dan perlindungan sosial. Hal ini sejalan dengan personil Fraksi Partai Demokrat Sartono nan menyoroti pentingnya pembenahan struktural jangka panjang melalui peningkatan produksi daya domestik dan penguatan regulasi.

"Perlu disiapkan adalah jaringan pengaman sosial serta strategi jangka panjang melalui diversifikasi industri dan kerja sama kawasan," terangnya.

Diskusi kebangsaan ini pun diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga kesejahteraan rakyat di tengah dinamika dunia nan terus berkembang.

Sebagai informasi, aktivitas tersebut turut dihadiri oleh sejumlah personil Fraksi Partai Demokrat DPR RI, di antaranya Marwan Cik Asan, Fathi, Wahyu Sanjaya, Sartono, Hasani Bin Zuber, serta Rizki Natakusumah. Selain itu, datang pula para narasumber dan pakar, antara lain Hikmahanto Juwana, Yon Machmudi, Andree Surianta, Yayan Satyakti, Dionisius Narjoko, Rudy Laksmono, Fahmi Wibawa, Pihri Buhaerah, Imaduddin Abdullah, Putri W. Alifa Parjuni, Muhammad Syaroni Rofii, Mohammad Faisal, Aisha Rasyidila Kusumasomantri, serta Faisal Kuncoro.

(ega/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News