Emma Stone berakting dalam salah satu segmen movie Bugonia, remake berkata Inggris dari movie kultus karya Jang Joon-hwan tahun 2003, Save the Green Planet!.(Dok. The Korea Times)
HOLLYWOOD semakin garang memburu cerita asal Korea Selatan sebagai sumber produksi baru. Tak lagi hanya mengandalkan ketenaran drama Korea alias K-pop, studio-studio besar sekarang mulai melirik novel, movie lama, hingga karya nan sebelumnya mempunyai pedoman fans terbatas untuk diadaptasi ke pasar global.
Tren terbaru terlihat dari rencana Disney mengangkat novel khayalan Korea “DallerGut Dream Department Store” karya Lee Mi-ye menjadi movie live action. Deadline pada 12 Agustus melaporkan, penulis skenario Patrick Ness dipercaya menggarap penyesuaian tersebut.
Ness sebelumnya dikenal lewat sejumlah penyesuaian karya young adult, termasuk trilogi Chaos Walking dan A Monster Calls.
DallerGut Dream Department Store berkisah tentang Penny, seorang pegawai toko serba ada nan menjual mimpi kepada para pengguna nan sedang tertidur. Kehidupannya berubah ketika beragam kejadian misterius mulai menimpa para pengguna toko tersebut.
Novel nan terbit pada 2020 itu mencatat penjualan lebih dari 1 juta kopi di Korea Selatan, menjadikannya novel Korea pertama nan dirilis pada dasawarsa 2020-an dan menembus nomor tersebut. Buku itu kemudian diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa dengan penjualan dunia melampaui 2 juta kopi.
Lee Mi-ye sendiri sebelumnya bekerja sebagai insinyur semikonduktor di Samsung Electronics. Ide ceritanya berangkat dari rasa penasaran mengenai argumen manusia menghabiskan sekitar sepertiga hidupnya untuk tidur.
Masuknya novel tersebut ke Hollywood memperlihatkan perubahan pola pencarian kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) Korea.
Jika sebelumnya studio asing lebih banyak membeli serial nan sudah terkenal untuk jasa streaming alias membikin ulang movie dengan catatan box office kuat, sekarang mereka mulai mencari sumber cerita sejak tahap awal. Novel dan movie lama dengan konsep unik pun menjadi sasaran.
Salah satu proyek lain adalah “The Hole”, movie dwibahasa Inggris-Korea nan tengah dipersiapkan sutradara Kim Jee-woon. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Pyun Hye-young nan pernah meraih Shirley Jackson Award.
Kim dikenal melalui sejumlah movie seperti I Saw the Devil (2010) dan The Age of Shadows (2016).
The Hole akan dibintangi tokoh Inggris Theo James sebagai seorang guru besar nan mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil nan menewaskan istrinya. Karakter sang istri dimainkan Jung Ho-yeon, aktris nan dikenal secara dunia lewat serial Netflix Squid Game.
Film Kultus Korea Ikut Dilirik
Selain karya sastra, movie bergenre unik dari Korea Selatan juga terbukti mempunyai daya tarik tersendiri bagi Hollywood.
Film “Save the Green Planet!” karya sutradara Jang Joon-hwan misalnya. Film nan dirilis pada 2003 itu awalnya tidak sukses besar di box office domestik, tetapi kemudian memperoleh status sebagai movie kultus.
Cerita tersebut kemudian diadaptasi menjadi movie berkata Inggris berjudul “Bugonia”, disutradarai Yorgos Lanthimos dan dibintangi Emma Stone. Film itu tayang di bioskop Amerika Serikat pada Oktober tahun lampau dan menyusul di Korea Selatan pada November.
Jejak serupa juga terlihat dari karya-karya Ma Dong-seok.
Film kriminal “The Gangster, The Cop, The Devil” yang dirilis pada 2019 sedang dipersiapkan untuk jenis remake Amerika Serikat. Sementara itu, serial movie populernya “The Roundup” dikembangkan secara terpisah untuk pasar Jepang.
Dengan demikian, IP nan mengenai dengan tokoh nan sama dapat dikembangkan dalam jenis berbeda untuk dua pasar internasional sekaligus.
Studio Besar Bangun Jalur Adaptasi
Perburuan cerita Korea sekarang apalagi berkembang menjadi kerja sama antarsstudio.
Pada Oktober tahun lalu, Warner Bros. Discovery menandatangani kesepakatan dengan CJ ENM untuk mengembangkan remake berkata Inggris dari katalog movie milik perusahaan intermezo Korea Selatan tersebut.
Kerja sama itu melangkah dua arah. CJ ENM juga bakal mengembangkan penyesuaian Korea dari judul-judul milik Warner Bros.
Model tersebut menunjukkan perubahan dari pola lama berupa pembelian kewenangan penyesuaian satu per satu menuju hubungan nan lebih terstruktur dalam mengembangkan IP lintas negara.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa daya tarik industri intermezo Korea tidak lagi terbatas pada produk nan sudah sukses secara global. Bagi Hollywood, konsep cerita nan kuat dan dapat diterjemahkan ke beragam budaya sekarang menjadi aset penting, baik berasal dari novel terlaris, movie populer, maupun karya kultus nan sempat luput dari perhatian pasar luas. (The Korea Times/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·