Serangan Israel di Selatan Beirut, Libanon, 6 Maret 2026(Ibrahim AMRO / AFP)
HIZBULLAH menegaskan tidak bakal menerima gencatan senjata sepihak di Libanon dan menuntut komitmen penuh Israel untuk menghentikan serangan sebagai syarat utama terciptanya perdamaian nan berkelanjutan.
Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah menyebut bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata kudu bertindak bagi semua pihak. Ia menegaskan Libanon tidak bakal kembali ke kondisi sebelum bentrok nan pecah pada 2 Maret lalu.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Manar nan berafiliasi dengan Hizbullah pada Senin (1/6), Fadlallah mengatakan posisi Libanon saat ini berfokus pada terciptanya gencatan senjata menyeluruh nan mencakup wilayah darat, udara, dan laut.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Libanon serta memungkinkan penduduk nan mengungsi kembali ke kampung laman mereka.
Fadlallah menjelaskan bahwa sikap tersebut telah disampaikan kepada seluruh pihak nan terlibat dalam proses diplomasi.
Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan kudu memuat komitmen Israel nan jelas dan eksplisit, termasuk penghentian penghancuran rumah-rumah penduduk di Libanon Selatan.
Lebih lanjut, dia menegaskan Hizbullah siap mematuhi setiap perjanjian nan disepakati andaikan Israel terlebih dulu menunjukkan komitmen untuk melaksanakan kewajibannya. Namun, menurutnya, golongan tersebut tidak bakal menerima situasi di mana hanya satu pihak nan mematuhi gencatan senjata.
Fadlallah juga menilai tekanan nan diberikan Iran, termasuk ancaman untuk menghentikan proses perundingan, turut memengaruhi perubahan arah perkembangan situasi dalam beberapa waktu terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati penghentian serangan melalui komunikasi nan dilakukan lewat pihak-pihak perantara.
Trump mengatakan dirinya telah melakukan kontak tidak langsung dengan kedua pihak dan memperoleh agunan bahwa seluruh tindakan tembak-menembak bakal dihentikan.
Meski demikian, serangan militer Israel di Libanon tetap terus berlangsung. Operasi tersebut bersambung meskipun gencatan senjata nan mulai bertindak pada 17 April telah disepakati dan kemudian diperpanjang selama 45 hari setelah perundingan tidak langsung nan dimediasi Amerika Serikat. Menurut info Kementerian Kesehatan Libanon, lebih dari 3.400 orang dilaporkan tewas akibat serangan nan terjadi sejak bentrok kembali meningkat pada 2 Maret. (Anadolu/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·