Hizbullah.(Al Jazeera)
PEMIMPIN golongan Hizbullah, Naim Qassem, melontarkan kritik tajam terhadap langkah otoritas Libanon nan melakukan perundingan langsung dengan Israel. Dalam pidato televisi pada Selasa (4/8), Qassem menyebut perbincangan tersebut hanya bakal membawa kehinaan bagi Libanon dan menuduh pemerintah membantu kepentingan Israel.
Pernyataan keras itu muncul saat delegasi Libanon dan Israel mengadakan putaran baru pembicaraan langsung di Roma, Italia, di bawah sponsor Amerika Serikat. Pertemuan ini merupakan nan ketujuh sejak Hizbullah menyeret Libanon ke dalam bentrok regional pada Maret lampau melalui serangan roket, nan kemudian dibalas Israel dengan serangan udara masif dan invasi darat.
"Semua negosiasi langsung tidak bakal membawa apa pun bagi Libanon selain rasa malu, penghinaan, kekecewaan, dan konsesi nan berturut-turut," tegas Naim Qassem.
Kritik terhadap Presiden dan Pemerintah
Qassem juga menyerang Presiden Libanon Joseph Aoun dengan menuduhnya telah kehilangan netralitas. Menurutnya, Presiden Aoun tidak lagi bertindak sebagai penengah alias figur pemersatu, melainkan menjadi bias dan memecah belah, nan dianggap tidak sesuai dengan peran kepemimpinan nasional.
Lebih lanjut, kepala golongan nan didukung Iran tersebut menuding otoritas Libanon lebih membantu Israel daripada menjaga kedaulatan negara sendiri. Ia mengeklaim bahwa melanjutkan negosiasi hanya bakal memberikan untung politik bagi pihak Israel di tengah kehancuran desa-desa di Libanon selatan.
Respons Keras Perdana Menteri
Perdana Menteri Libanon, Nawaf Salam, segera membalas kritik tersebut melalui platform X. Salam menegaskan bahwa pihak nan sebenarnya membantu Israel adalah mereka nan secara sepihak menyeret Libanon ke dalam perang dan memberikan dalih bagi Israel untuk menyerang.
"Mereka nan secara sepihak mengambil keputusan perang dan mencoba terus menahan pengambilan keputusan negara serta mengikat Libanon pada kalkulasi asing, tidak layak memberi pidato tentang patriotisme, apalagi kedaulatan," tulis Salam.
Salam menekankan bahwa kedaulatan Libanon hanya bisa terwujud melalui keputusan independen negara dengan satu tentara nasional nan memegang otoritas penuh di seluruh wilayahnya.
Konteks Kesepakatan Washington
Pada perundingan di Washington Juni lalu, Israel dan Libanon sebenarnya telah menyepakati kerangka kerja nan mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan berjenjang pasukan Israel dari Libanon selatan, dan pengerahan tentara resmi Libanon ke wilayah perbatasan.
Namun, Hizbullah secara konsisten menolak hasil pembicaraan langsung tersebut dan bersikeras tidak bakal menyerahkan persenjataan mereka. Meski intensitas kekerasan menurun sejak kesepakatan tersebut, laporan mengenai serangan udara intermiten dan penghancuran gedung di desa-desa selatan oleh Israel tetap terus berlanjut.
Menutup pernyataannya, Qassem berjanji bakal mengupayakan rekonstruksi dan perbaikan wilayah nan terdampak, meski dia memperingatkan bahwa proses tersebut memerlukan kesabaran. Di sisi lain, PM Salam menegaskan komitmen pemerintah untuk mengakhiri pendudukan Israel dan memastikan kepulangan penduduk sipil ke desa mereka dengan kondusif dan bermartabat. (AFP/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·