Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu dalam aktivitas Sarasehan 100 Ekonom Indonesia.(Dok. MetroTvnews)
KEMENTERIAN Investasi dan Hilirisasi tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) hilirisasi untuk 28 komoditas strategis hingga tahun 2045 dengan potensi nilai investasi mencapai US$618 miliar. Program ini bermaksud mengoptimalkan sumber daya alam nasional mulai dari sektor migas, mineral, kelautan, hingga perkebunan guna menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa roadmap tersebut merupakan payung besar pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Meski mencakup 28 komoditas secara keseluruhan, pemerintah bakal melakukan penajaman prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).
"Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040-2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih US$618 miliar jika sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas," ujar Todotua dalam aktivitas Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).
Todotua menekankan bahwa roadmap ini tidak hanya mempertimbangkan persediaan sumber daya dan posisi pasar global, tetapi juga mencakup pemetaan industri pendukung di lima pulau besar Indonesia. Langkah ini diambil untuk menciptakan struktur ekonomi nan lebih seimbang dan merata.
Selama ini, konsumsi nasional tetap terpusat di Pulau Jawa, sementara sumber bahan baku berada di luar Jawa. Dengan pemetaan wilayah nan terintegrasi, pemerintah berambisi investasi hilirisasi menjadi lebih terarah dan bisa membangun rantai pasok (supply chain) yang kuat dari hulu hingga hilir.
Pemerintah menargetkan pembangunan ekosistem industri lokal agar nilai tambah komoditas tidak lagi dinikmati oleh negara lain. "Sumber daya alam nan kita punya selama ini banyak diolah di luar dan nilai tambahnya di luar. Kita harapkan dengan mendorong hilirisasi, keseluruhan ekosistem ˆ chain-nya bisa terjadi di negara kita," tegas Todotua.
Melalui penguatan rantai pasok domestik, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada peralatan impor. Selain itu, kebijakan ini diproyeksikan bakal meningkatkan daya saing produk lokal di pasar ekspor serta memperluas kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·