Harta Karun Paling Dicari Dunia Ada di Sulawesi Barat, Segini Banyaknya

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Pemerintah tengah mengembangkan potensi rare earth element (REE) alias logam tanah jarang (LTJ) nan saat ini menjadi sasaran bumi lantaran dibutuhkan untuk industri pertahanan, elektronik, hingga baterai kendaraan listrik.

Pemerintah tengah menyiapkan proyek hilirisasi logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat. Proyek ini tengah dimatangkan melalui rapat nan di selenggarakan di Kantor BP BUMN, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Dalam rapat tersebut turut datang Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa dan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tri menjelaskan menjelaskan pembahasan dalam pertemuan tersebut berangkaian dengan pengembangan logam tanah jarang di Mamuju. Meski begitu, Tri tidak menjelaskan perincian mengenai pengembangan logam tanah jarang di wilayah Mamuju tersebut.

"Pembahasan ini aja, apa, Mamuju. Ini lah pengembangan seperti apa untuk rare komponen kira-kira gitu. Ya saya kan diundang," ujar Tri saat ditemui usai rapat di BP BUMN, Jakarta.

Sebelumnya, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto mengatakan BUMN baru buatan Danantara, Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), bakal menggarap pilot proyek hilirisasi logam tanah jarang (rare earth) di Mamuju, Sulawesi Barat.

Ia mengatakan proyek pilot ini bakal melangkah paralel dengan proses manajemen dan rekomendasi nan telah disampaikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), khususnya mengenai publikasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada Perminas.

"Mungkin ini nan dalam waktu dekat bakal segera kita lakukan ialah pilot teknologi hilirisasi rare earth nan ada di Mamuju," ujarnya dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Senin (9/2/2026).

Brian mengatakan Perminas bakal membangun dua akomodasi downstreaming sebagai proyek percontohan teknologi pengolahan logam tanah jarang berbasis riset nan telah dikembangkan di perguruan tinggi.

Proyek diharapkan bisa melakukan pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang, sehingga bahan baku nan semula berbentuk ore dapat diolah menjadi mixed rare earth maupun elemen-elemen rare earth berbobot ekonomi.

Pasalnya sejumlah negara nan telah mempunyai teknologi ini tidak mau melakukan kerja sama strategis dengan negara lainnya.

"Kita coba teknologi-teknologi nan sudah dikembangkan di kampus untuk mengekstraksi alias merubah dari mineral ore nan mengandung logam tanah jarang menjadi mixed rare earth oxide," katanya.

Brian menambahkan Perminas membuka kesempatan kerja sama dengan beragam pihak, termasuk swasta dan mitra lainnya, untuk membangun industri nan lebih mengarah ke hilirisasi.

"Sehingga diharapkan kita bisa menunjukkan kepada bumi bahwa Indonesia juga menjadi pemain nan strategis untuk industri rare earth ini, mineral rare earth, nan diharapkan juga memberikan daya tarik bagi negara lain untuk berani juga masuk bersama-sama Indonesia mendirikan industri-industri downstreaming," ujarnya.

Logam Tanah Jarang di Mamuju

Mengutip info Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi melakukan eksplorasi potensi LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat dan Parmonangan, Sumatera Utara. Ekplorasi tersebut dilakukan dua tahap, ialah eksplorasi awal, meliputi pemetaan, georadar dan geomagnet, sumur alias parit uji, serta pengeboran.

Kemudian dilakukan eksplorasi perincian melalui pengeboran nan lebih rapat dan uji ekstraksi, meliputi karakterisasi, konsentrasi, dan ekstraksi. Eksplorasi tersebut menghasilkan kadar total LTJ tertinggi di Mamuju sebesar 4.571 ppm dan Parmonangan sebesar 1.549 ppm.

"Selanjutnya ada beberapa usulan WIUP berupa LTJ, nan ini baru pertama kali di 2022, bahwa ada usulan letak di Mamuju dan Parmonangan dan beberapa rencana usulan WIUP LTJ sampai tahun 2024," ujar Plt. Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, pada Konferensi Pers Capaian Kinerja Badan Geologi Tahun 2022 dan Program Kerja Tahun 2023 lalu, dikutip Selasa (12/5/2026).

Di tahun 2023, direncanakan eksplorasi awal dan eksplorasi perincian potensi LTJ di Melawi, Sibolga, Mamuju, Papua, dan Bangka Belitung, serta usulan WIUP LTJ Mamuju dan Parmonangan. Kemudian di tahun 2024 direncanakan ekplorasi perincian di Ketapang, Sibolga, Pegunungan Tiga Puluh, dan Papua.

Dilaporkan pula, sepanjang tahun 2022, Badan Geologi telah melakukan eksplorasi potensi LTJ di area Lumpur Sidoarjo dan menemukan potensi Lithium sebesar 86-92 ppm, potensi Stronsium sebesar 394-451 ppm, dan LTJ maksimal 111 ppm.

"Kemudian untuk potensi LTJ alias REE di area Lumpur Sidoarjo saya kira sudah disampaikan juga bahwa ada indikasi potensi baik itu Li, Sr, maupun REE dengan masing-masing ppm-nya. Kegiatan di tahun 2022 melanjutkan dari aktivitas penemuan di tahun 2020 pada letak nan berbeda," jelas Wafid.

(hrp/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance