Jakarta, CNBC Indonesia - Peternak ayam petelur mengeluhkan nilai telur nan kembali terpuruk dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi kelebihan pasokan alias oversupply membikin nilai telur di tingkat peternak jatuh jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) nan ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram (kg).
Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso mengatakan, anjloknya nilai telur telah memberikan tekanan berat bagi peternak di beragam daerah. Padahal, menurutnya, para peternak selama ini telah berjuang menjaga swasembada telur nasional.
"Kami nan sudah berupaya memperjuangkan swasembada telur di Indonesia, tetapi nilai kami selalu terus turun," kata Yudianto dalam konvensi pers di instansi Kementerian Pertanian (Kementan) Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia mengungkapkan, nilai telur di sejumlah sentra produksi apalagi sempat jatuh hingga mendekati Rp21.000 per kg. Angka tersebut dinilai sangat jauh dari nilai nan dibutuhkan peternak untuk menjaga keberlanjutan usaha.
"Anjloknya kita sampai di Jawa Timur itu Rp21.500 per kg, kemudian di Jawa Tengah itu sekitar Rp22.500 per kg. Di Jawa Barat, dan Jakarta khususnya sekitar Rp22.500-Rp23.000 per kg," ujarnya.
Padahal, Harga Pokok Produksi (HPP) telur ayam di tingkat peternak rata-rata berkisar di nomor Rp24.000 per kg.
Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Menurut Yudianto, kondisi tersebut sangat memberatkan peternak. Tekanan semakin besar lantaran biaya produksi juga meningkat, terutama akibat kenaikan nilai pakan nan dipengaruhi situasi dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Nah ini sangat memberatkan dan memukul kami, apalagi dengan rumor geopolitik nan saat ini terjadi, di mana dolar, nilai tukar dolar juga melambung tinggi, sehingga menyebabkan nilai pakan pun meledak tinggi semuanya," tutur dia.
Yudianto menegaskan, penyebab utama merosotnya nilai telur saat ini adalah melimpahnya pasokan di pasar.
"Yang jelas ini lantaran kami terjadi oversupply," terangnya.
Di tengah tekanan tersebut, Pinsar menyambut sejumlah langkah nan diputuskan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman untuk menopang nilai telur di tingkat peternak.
Yudianto menyampaikan apresiasi atas keputusan pemerintah nan dinilai dapat membantu menjaga kelangsungan upaya peternak ayam petelur.
"Terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian, nan sekaligus Kepala Badan Kepala Nasional (Amran Sulaiman), nan hari ini telah memutuskan beberapa perihal penting. nan ini sangat membantu kami untuk kelangsungan hidup peternak," kata Yudianto.
Salah satu langkah nan diambil pemerintah adalah mempertegas larangan pembelian telur di bawah HAP Rp26.500 per kg. Menurutnya, kebijakan tersebut telah disampaikan kepada beragam pihak, termasuk Satgas Pangan Polri.
"Maka kami mengimbau kepada seluruh, baik itu pedagang, pengusaha ritel modern, coba membantu kami, dan juga menepati apa nan sudah disampaikan oleh Bapak Menteri dan mengenai surat ini, sudah ditembuskan kepada Satgas Pangan, bahwa mulai hari ini tidak ada lagi pembelian telur di bawah nilai HAP ialah Rp26.500 per kg," ujarnya.
Ia juga meminta peternak di seluruh Indonesia segera melaporkan andaikan tetap ditemukan praktik pembelian telur di bawah nilai referensi nan telah ditetapkan pemerintah.
"Maka kami sampaikan kepada seluruh peternak di seluruh Indonesia, andaikan setelah hari ini tetap terjadi penekanan-penekanan ataupun pembelian-pembelian telur di bawah nilai Rp26.500(per kg), mungkin bisa segera melaporkan kepada Kepala Badan Pangan Nasional (Amran Sulaiman). Ini sangat membantu kami," kata dia.
Selain itu, Yudianto mengungkapkan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) juga bakal meningkatkan penyerapan telur dari peternak. Jika sebelumnya penyerapan dilakukan satu kali dalam sepekan, sekarang bakal ditingkatkan menjadi tiga kali dalam sepekan.
"Dan kami juga terima kasih juga atas inisiatif dari Bapak Menteri, BGN juga bakal menyerap telur dari peternak seminggu menjadi tiga kali kembali, nan kemarin baru satu kali," ujarnya.
Peternak berambisi beragam langkah tersebut dapat segera mengangkat nilai telur di tingkat produsen dan mengurangi tekanan nan selama ini mereka hadapi akibat surplus pasokan dan tingginya biaya produksi.
(wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·