Pantauan di SPBU Parit Padang, Minggu (14/6), antrean kendaraan terlihat mencapai ratusan meter.(MI/Rendy Ferdiansyah)
KENAIKAN nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu lonjakan permintaan Pertalite di sejumlah SPBU di Sungailiat, Kabupaten Bangka. Akibatnya, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat semakin panjang hingga mengular ke badan jalan.
Pantauan di SPBU Parit Padang, Minggu (14/6), antrean kendaraan terlihat mencapai ratusan meter. Pengendara kudu menunggu selama 30 menit hingga satu jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Salah seorang pengendara mobil, Lukman, mengaku terpaksa beranjak dari Pertamax ke Pertalite lantaran nilai Pertamax dinilai sudah terlalu tinggi.
"Awalnya Pertamax sekitar Rp12 ribu lebih per liter, sekarang sudah Rp16 ribu lebih per liter. Saya sudah tidak sanggup, jadi mau tidak mau beranjak ke Pertalite nan harganya Rp10 ribu per liter," kata Lukman.
Menurutnya, perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite membikin antrean di SPBU semakin parah. Meski kudu menunggu lama, dia tetap memilih mengantre demi mendapatkan BBM dengan nilai nan lebih terjangkau.
"Sekarang antreannya makin parah, tapi terpaksa ikut antre juga demi mendapatkan Pertalite," ujarnya.
Lukman juga menyoroti maraknya praktik pembelian Pertalite secara berulang oleh oknum pengerit nan dinilai memperpanjang antrean di SPBU. Ia meminta abdi negara kepolisian dan pihak Pertamina mengambil tindakan tegas.
"Kami minta pihak kepolisian dan Pertamina menindak tegas semua pengerit lantaran mereka seenaknya mengantre berulang kali di beragam SPBU demi mendapatkan keuntungan," katanya.
AKTIVITAS PENGERIT
Keluhan serupa disampaikan pengendara lainnya, Iwan. Ia menilai aktivitas pengerit semakin meresahkan lantaran membeli Pertalite berulang kali menggunakan sepeda motor, kemudian memindahkan BBM tersebut ke dalam jeriken untuk dijual kembali. "Mereka beli, lampau disedot ke dalam jeriken. Setelah itu antre lagi dan terus berulang-ulang," ujar Iwan.
Menurutnya, praktik tersebut memanfaatkan selisih nilai nan cukup besar antara Pertalite di SPBU dengan nilai di tingkat pengecer nan mencapai sekitar Rp13 ribu per liter.
"Ini menjadi kesempatan para pengerit mencari keuntungan. Kami berambisi polisi dan Pertamina melakukan tindakan tegas dan tidak membiarkan praktik seperti ini terus terjadi," ucapnya.
Meningkatnya antrean Pertalite di Sungailiat menunjukkan adanya pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi setelah kenaikan nilai Pertamax. Warga berambisi pengawasan terhadap pengedaran Pertalite diperketat agar pasokan tetap tersedia bagi masyarakat nan berkuasa dan antrean di SPBU dapat berkurang. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·