Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap bisa menahan akibat lonjakan nilai minyak bumi meskipun sempat menembus level US$100 per barel.
Menurut Purbaya, ruang fiskal pemerintah tetap cukup untuk mengantisipasi kenaikan nilai minyak tanpa kudu mengubah kebijakan subsidi daya secara drastis.
"Anggarannya tetap cukup seperti nan kita hitung sebelumnya," kata Purbaya saat ditemui di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Saat ditanya apakah pemerintah perlu menambah kuota subsidi daya akibat kenaikan nilai minyak, Purbaya menegaskan belum ada rencana ke arah tersebut. Namun, pemerintah bakal terus memantau perkembangan nilai minyak global.
"Belum. Tapi kita kudu pantau terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi," ujarnya.
Purbaya menjelaskan, dalam kalkulasi fiskal pemerintah sebelumnya, dugaan defisit APBN sebesar 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB) telah mempertimbangkan kemungkinan nilai minyak berada di kisaran US$100 per barel.
Meski nilai minyak sempat melonjak, menurutnya rata-rata nilai minyak bumi nan menjadi dasar kalkulasi APBN tetap berada di bawah level tersebut.
"Dengan dugaan (defisit) pada waktu itu kan 2,85% itu dugaan US$100 per barel. Walaupun diturunin sedikit, kan rata-rata sekarang tetap di bawah US$90 jika tidak salah nilai minyak dunianya nan kita bayar untuk dugaan APBN. Jadi tetap ada ruang," kata Purbaya.
Ia menegaskan pemerintah telah mempunyai pengalaman menghadapi periode nilai minyak tinggi sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
"Seandainya naik ke level nan sekarang dan memperkuat di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi jangan terlalu khawatir. Kita bakal atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3%," ujarnya.
Purbaya juga mengungkapkan posisi fiskal saat ini tetap relatif terjaga. Defisit APBN hingga pertengahan tahun tetap berada jauh di bawah pemisah nan ditetapkan pemerintah.
"Sekarang saja defisitnya baru 0,91%. Juli-Agustus 0,95 lah, nggak naik banyak," katanya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai kenaikan nilai minyak bumi tidak bakal langsung menggerus daya beli kebanyakan masyarakat lantaran pemerintah tetap menyerap sebagian beban melalui subsidi energi.
Menurutnya, akibat lebih besar justru bakal dirasakan pengguna bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax.
"Kalau di-absorb di APBN kan enggak. Sebagian mungkin nan Pertamax nan nggak bersubsidi bakal terkena. Tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu. nan umum nan pakai Pertalite tetap disubsidi," ujar Purbaya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·