Feby Novalius
, Jurnalis-Selasa, 10 Maret 2026 |07:57 WIB

Harga minyak bumi melonjak sekitar 7% pada perdagangan Senin dan ditutup di level tertinggi sejak 2022. (Foto: Okezone.com/SKK Migas)
JAKARTA — Harga minyak bumi melonjak sekitar 7% pada perdagangan Senin dan ditutup di level tertinggi sejak 2022. Kenaikan tersebut dipicu oleh pemangkasan pasokan minyak oleh Arab Saudi dan personil OPEC di tengah bentrok Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Namun, tak lama setelah penutupan pasar, nilai minyak berbalik melemah menyusul berita percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Harga turun lebih dari 5% setelah penutupan perdagangan, setelah pemerintahan Trump mempertimbangkan pelonggaran hukuman lebih lanjut terhadap minyak Rusia untuk membantu mengendalikan nilai daya global.
Sebelumnya, Putin mengatakan Moskow siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa. Demikian dilansir dari Reuters, Selasa (10/3/2026).
Secara terpisah, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa perang melawan Iran melangkah sangat lancar dan bahwa Washington jauh lebih maju dari perkiraan awal selama empat hingga lima minggu.
Selama sesi perdagangan Senin, nilai sempat melonjak hingga 29%. Pada penutupan, nilai Brent berjangka naik USD6,27 alias 6,8% menjadi USD98,96 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD3,87 alias 4,3% menjadi USD94,77 per barel.
Itu merupakan nilai penutupan tertinggi untuk Brent dan WTI sejak Agustus 2022. Bahkan setelah nilai turun pasca-penutupan, kedua patokan tersebut tetap naik lebih dari 35% sejak perang Iran dimulai.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka bunyi mengenai nilai minyak bumi nan melonjak hingga USD100 per barel alias melampaui dugaan APBN di nomor USD70 per barel.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·