Harga Komoditas Kompak Melemah, Batu Bara Tertahan Risiko Gangguan Pasokan RI

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi ore nikel. Foto: Potapov Alexander/Shutterstock

Harga komoditas kompak melemah pada penutupan perdagangan Selasa (28/7). Pelemahan terjadi pada batu bara, nikel, timah, hingga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Batu Bara

Harga batu bara melemah tipis pada penutupan perdagangan Selasa. Berdasarkan situs tradingeconomics, nilai batu bara turun 0,04 persen ke level USD 130,25 per ton.

Sementara itu, nilai perjanjian berjangka batu bara termal memperkuat di kisaran USD 130 per ton pada akhir Juli, mendekati level tertinggi dalam sebulan setelah didorong kekhawatiran terhadap pasokan dari Indonesia. Cuaca kering mengganggu pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito di Kalimantan, memicu potensi keterlambatan ekspor dan memperketat pasokan global.

Kenaikan nilai juga mendapat support dari menguatnya pasar daya seiring naiknya nilai minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Namun, penguatan batu bara tetap dibatasi oleh lemahnya permintaan dari China, nan tetap mempunyai persediaan tinggi dan melakukan pembelian impor secara terbatas.

Nikel

Adapun nilai nikel juga terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa. Berdasarkan London Metal Exchange (LME), nilai nikel turun 1,41 persen menjadi USD 16.970 per ton.

Timah

Ilustrasi timah. Foto: PT Timah

Sementara itu, nilai timah pada periode perdagangan nan sama, info dari London Metal Exchange (LME) menunjukkan adanya penurunan 1,93 persen. Dengan begitu, sekarang nilai timah ada pada level USD 53.583 per ton.

CPO

Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) ambruk pada penutupan perdagangan Selasa (28/7). Berdasarkan situs tradingeconomics, nilai CPO turun 0,66 persen menjadi MYR 4.624 per ton.

Harga minyak sawit berjangka di Malaysia tetap berada dalam tren pelemahan dan diperdagangkan di bawah MYR 4.650 per ton. Tekanan ini dipicu oleh melemahnya nilai minyak nabati pesaing, seperti minyak kedelai di Bursa Chicago dan minyak nabati di Bursa Dalian, nan mengurangi sentimen positif di pasar.

Ilustrasi kelapa sawit. Foto: Rahmad/ANTARA FOTO

Selain itu, nilai minyak sawit juga bergerak semakin jauh dari level tertinggi dalam 15 minggu terakhir seiring anjloknya nilai minyak mentah dunia. Penurunan nilai minyak terjadi setelah Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran, sehingga meredakan ketegangan geopolitik dan mengurangi prospek permintaan biodiesel nan selama ini menjadi penopang nilai minyak sawit.

Meski demikian, pelemahan nilai tertahan oleh membaiknya permintaan ekspor. Berdasarkan info surveyor kargo, pengiriman minyak sawit pada periode 1–25 Juli diperkirakan meningkat sekitar 8,1 persen hingga 15,9 persen dibandingkan periode nan sama pada Juni. Dukungan juga datang dari kebijakan peningkatan mandat pencampuran biodiesel di Indonesia dan Malaysia nan diperkirakan bakal mendorong konsumsi minyak sawit.

Di sisi lain, India sebagai importir minyak sawit terbesar di bumi diperkirakan bakal meningkatkan pembelian pada periode Juli hingga Oktober. Kenaikan impor dipicu oleh menipisnya pasokan minyak nabati menjelang musim perayaan, sehingga permintaan diproyeksikan meningkat. Faktor cuaca juga tetap menjadi perhatian pasar setelah Malaysia memperingatkan bahwa suhu nan mencapai rekor tertinggi berpotensi menekan produksi minyak sawit pada tahun depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan