Harga emas yang bergerak naik-turun secara tajam dalam beberapa waktu terakhir memengaruhi strategi sebagian investor. Meski demikian, gejolak nilai tersebut belum mendorong mereka untuk menjual aset emas nan telah dikumpulkan.
Salah satu penanammodal emas, Annasa Rizki, mengaku portofolionya sempat mengalami kenaikan ketika nilai emas menembus level Rp 3 juta per gram. Namun, dia menilai pergerakan nilai emas sepanjang tahun ini berjalan sangat sigap dan susah diprediksi.
“Fluktuasinya bener-bener cepet banget akhir akhir ini dan dar der dor, apalagi sepanjang tahun ini sempet naik pas harganya nembus sampai Rp 3 juta lebih (per gram), tapi berapa persennya (kenaikan portofolio) saya lupa,” kata Annasa kepada kumparan, Minggu (14/6).
Meski tetap tertarik menabung emas, Annasa untuk sementara memilih menghentikan pembelian emas baru lantaran mempunyai kebutuhan mendesak lain.
Dia juga berencana untuk menggunakan biaya nan biasanya dijatah untuk membeli emas untuk dialihkan ke instrumen investasi lain, seperti saham.
Kendati demikian, dia belum berencana menjual emas nan sudah dimiliki. Menurutnya, menjual aset saat ini justru berisiko jika nilai emas kembali melonjak ketika dia memerlukan instrumen lindung nilai tersebut.
“Sempet gambling mau jual apa nggak, tapi ya mending simpan dulu aja deh. Sayang sayang dijual, jika kelak butuh takutnya harganya lagi melonjak. Setop (beli) sementara aja,” jelasnya.
Investor lain, Erlinda Puspita memandang emas bukan semata-mata sebagai instrumen investasi, melainkan sarana untuk menjaga nilai duit dari tekanan inflasi.
Menurut Erlinda, emas berfaedah layaknya tabungan jangka panjang nan nilainya relatif lebih terjaga dibandingkan menyimpan duit tunai dalam corak uang.
“Jafi emas buatku kaya nabung, hanya bentuknya dalam emas nan jika disimpen makin lama, nilainya nggak bakal tergerus, nggak kaya nabung rupiah,” katanya.
Erlinda mengaku bakal tetap melanjutkan kebiasaan menabung emas meski nilai logam mulia mengalami koreksi usai sempat mencetak rekor tertinggi.
Erlinda mengatakan sejak awal telah menanamkan pola pikir bahwa emas bukan instrumen untuk diperdagangkan dalam jangka pendek. Oleh lantaran itu, perubahan nilai sehari-hari tidak terlalu memengaruhi keputusan investasinya.
Sejauh ini, Erlinda juga mengaku belum mengalami kerugian pada portofolio emasnya. Salah satu alasannya lantaran dia tidak melakukan pembelian saat nilai sedang berada di level puncak.
“Sejauh ini nggak ada (portofolio minus) sih, Soalnya pas naik banget, nggak beli,” imbuhnya.
Berdasarkan catatan kumparan, nilai emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam sempat mencapai Rp 3.135.000 per gram pada perdagangan Senin (2/3). Namun kini, nilai logam mulia berada di level Rp 2.711.000 per gram pada Sabtu (13/6).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·