Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan Indeks Harga Ekspor (IHX) Indonesia pada kuartal I-2026.
Kenaikan nilai namalain inflasi ekspor itu sebesar 13,71% dari nomor indeks 107,16 pada kuartal I-2025 menjadi 121,85. Tingkat inflasi nilai ekspor itu pun lebih tinggi dari periode nan sama tahun lampau sebesar 6,04%.
Kenaikan inflasi nilai ekspor itu terjadi paling tinggi untuk golongan non migas, sebesar 14,25% yoy dari sebelumnya 6,04% pada kuartal I-2025, sedangkan golongan migas inflasi 4,08% pada kuartal I-2026 dari sebelumnya deflasi 9,92%.
"Perkembangan nilai beragam komoditas ekspor pada triwulan I-2026 secara umum mengalami kenaikan," dikutip dari Laporan BPS, Rabu (3/6/2026).
Adapun lima golongan peralatan nan mengalami kenaikan nilai ekspor tertinggi alias inflasi tertinggi (y-on-y), yaitu:
• IHX Golongan Barang Bijih logam, terak, dan abu (HS 26) sebesar 65,61%.
• IHX Golongan Barang Logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 63,34%.
• IHX Golongan Barang Timah dan peralatan daripadanya (HS 80) sebesar 59,69%.
• IHX Golongan Barang Tembaga dan peralatan daripadanya (HS 74) sebesar 50,45%.
• IHX Golongan Barang Bahan anyaman nabati (HS 14) sebesar 35,29%.
Lima golongan peralatan nan mengalami penurunan nilai ekspor alias deflasi (y-on-y), yaitu:
• IHX Golongan Barang Kakao dan olahannya (HS 18) sebesar 32,51%.
• IHX Golongan Barang Bahan kimia anorganik (HS 28) sebesar 16,07%.
• IHX Golongan Barang Kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) sebesar 4,37%.
• IHX Golongan Barang Susu, mentega, telur, dan produk hewani lainnya nan dapat dimakan (HS 04) sebesar 2,19%.
• IHX Golongan Barang Serat stapel buatan (HS 55) sebesar 0,59%.
(arj/arj)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·