Jawa Timur, CNBC Indonesia - Beberapa wilayah di Jawa Timur sukses melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar untuk mencapai ketahanan pangan. Upaya pemberdayaan ini dilakukan oleh golongan tani, koperasi, maupun komunitas.
Untuk wilayah Lamongan, Jawa Timur, pemberdayaan masyarakat datang dari Koperasi Tani Ternak Literasi nan berlokasi di desa Sumbersari, kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Koperasi ini merupakan peternakan sapi pangkas berbasis kandang komunal berkepanjangan nan bisa memproduksi pupuk organik dan pakan secara mandiri.
Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi, Tomi Distianto menjelaskan koperasi ini awalnya golongan ternak biasa nan membudidayakan sapi jenis limosin, simental, dan sapi lokal pada 2022.
Pada perjalanannya golongan ternak ini membentuk koperasi dan mengembangkan upaya sapi potong, pengolahan pupuk organik, warung sate, jasa akikah, hingga edukasi peternakan.
"Kita lakukan pengembangan untuk gimana menjadi harapan, jadi peternakan di sini bukan hanya peternakan tetapi angan bagi peternak nan ada di sekitar kita," ungkap dia kala dijumpai di lingkungan peternakan sapi terintegrasi di area Sambeng.
Koperasi ini juga mengembangkan pengolahan limbah melalui Bank Literasi alias Bank Limbah Ternak Sumbersari dan melibatkan masyarakat sekitar. Limbah nan disetorkan masyarakat tersebut nantinya diolah menjadi pupuk organik. Produk pupuk organik dengan merek Literasi sekarang dipasarkan ke beragam daerah, termasuk di luar Lamongan.
"Mereka bisa menyetorkan kotoran ternaknya, di mana kotoran ternak ini sebelumnya banyak terbuang, tidak termanfaatkan, justru menjadi sumber masalah pencemaran lingkungan, tetapi melalui Bank Literasi ini bisa meminimalisir menjadi salah satu solusi bagi peternakan di wilayah kami," jelas Tomi.
Saat ini, Koperasi Tani Ternak Literasi mempunyai total sekitar 235 ekor sapi, dengan sekitar 70 ekor berada di kandang koloni dan sisanya dipelihara personil di rumah masing-masing. Selain itu terdapat sekitar 70 ekor kambing dan domba nan sebagian hasil budidayanya digunakan untuk menyuplai kebutuhan warung sate milik koperasi.
Pengembangan koperasi ternak ini tak lepas dari peran Bank Indonesia (BI) sejak 2023 dan semakin intensif pada 2025 melalui Program Sarana Akselerasi Agribisnis Cluster. Dukungan nan diberikan BI berupa pembinaan, pendampingan, dan support infrastruktur.
"Untuk omzet per bulan nan kami dapatkan kurang lebih di atas Rp 50 juta. Itu dari beragam upaya nan kami kembangkan, baik sapi, domba, warung sate, kemudian jual pupuk," jelas Tomi.
Pemberdayaan serupa juga terjadi di Komunitas Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Komunitas ini berfokus pada kesehatan, ekonomi, dan lingkungan melalui pelatihan-pelatihan, sekolah lapang, pendampingan, uji coba dan penerapan sistem pertanian organik.
Slamet selaku inisiator Komunitas Organik Brenjonk menjelaskan, organisasi ini terbentuk pada 2007 dengan personil saat ini berjumlah 109 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 80% adalah ibu rumah tangga dan 20% pemuda dari beragam latar belakang.
Komunitas Organik Brenjonk mempunyai lahan kelolaan seluas 18 hektar nan tersertifikasi organik. Dari 18 hektar tersebut, sebanyak 8 hektar merupakan lahan pekarangan dan 10 hektar area klaster padi organik.
"Tempat ini kita kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa, Itu kita jadikan untuk edukasi. Jadi ada grup-grup nan kesini belajar organik," jelas Slamet di wilayah Desa Penanggungan.
Adapun konsentrasi area optimasi pekarangan dilakukan melalui penemuan Rumah Sayur Organik Skala Keluarga, penerapan SNI Sistem Pangan Organik, memberikan sertifikasi organik, membangun kerja sama dengan pelaku upaya organik di Surabaya.
Komunitas Organik Brenjonk
Slamet mengungkapkan, Komunitas Organik Brenjonk bisa memanen 45 jenis hasil bumi termasuk beras organik sebanyak dua kali dalam seminggu. Adapun hasil bumi organik sukses didistribusikan ke supermarket di beragam wilayah di Surabaya.
"Jumat kita kirim ke Surabaya. Di sana di pengedaran salah satunya ada Transmart, Hokky, Papaya, dan lain-lain. Kemudian untuk Jumat kita kirim ke Superindo," jelas dia.
Pada 2018, Komunitas Organik Brenjonk mendapat support dari BI berupa sumber daya manusia. Mereka memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Penanggungan untuk menjadi eco-interpreter nan berorientasi pada sistem organik.
Dukungan tersebut membuahkan hasil di mana organisasi ini mempunyai 13 unit warung kuliner organik nan dapat dinikmati masyarakat alias wisatawan. Unit kuliner ini menggunakan lahan tidak lebih dari 10% dari total luas lahan Komunitas Organik Brenjonk dan mencatat pendapatan kotor mulai dari Rp 4 juta sampai dengan Rp 60 juta per bulan.
"Satu bulan 8.500 orang nan cangkrukan (kongko) ke sini. Ada sedikit duit berputar untuk mereka. Dan ada 50 anak-anak muda nan bisa bekerja," jelas Slamet.
Dukungan BI lainnya terwujud melalui Sekolah Lapang Pertanian Organik dengan jumlah siswa 30 hingga 35 orang. Di sekolah itu, para siswa belajar teknik budidaya padi organik sebanyak 17 kali pertemuan.
Menurut Slamet, sejak ada intervensi dari BI, tercatat 11 ribu orang datang untuk mendapatkan edukasi. Mereka mendapatkan training membikin pemasok hayati, mikroba, pembibitan, perawatan tanaman, hingga pemasaran.
"Kita punya satu cita-cita terwujudnya kemandirian organisasi melalui upaya berkepanjangan dengan prinsip kewirausahaan sosial," ungkap Slamet.
Tidak ketinggalan, pemberdayaan masyarakat juga terjadi di Nganjuk, Jawa Timur melalui kehadiran Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Abadi, Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, Nganjuk. Gapoktan Karya Abadi melakukan budidaya bawang merah mulai dari bawang merah bibit, bawang merah siap pakai, hingga produk olahan bawang merah.
Menurut Pembina Gapoktan Karya Abad,i Bambang Suparno, golongan tani nan dibinanya menghasilkan 12.000 ton bawang merah per tahun. Jumlah ini menjadikan Nganjuk sebagai wilayah penyuplai kebutuhan bawang merah nasional terbanyak ialah 25% hingga 30%.
Dia memaparkan, saat ini Gapoktan Karya Abadi mempunyai nyaris 500 mitra petani dari satu desa. Para mitra petani ini mengelola lahan seluas mencapai 284 hektar.
"Jadi Karya Abadi ini memang luas area tanamnya tidak hanya bawang merah, tapi memang pola tanamnya padi, kedelai, bawang, bawang," jelas Bambang.
Gapoktan Karya Abadi telah menjadi klaster bimbingan Bank Indonesia sejak 2014. Kelompok tani ini awalnya mendapatkan pendampingan budidaya, hingga peremajaan tanah.
"Pelatihan membikin MA-11 untuk peremajaan tanah Jadi ini membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia, menjaga peremajaan tanah dan hasilnya ketika disimpan itu menjadi bagus," tambah Bambang.
Gapoktan Karya Abadi
Dukungan lain dari BI kepada Gapoktan Karya Abadi adalah pembangunan penyimpanan dan sumur bor alias sumur sibel. Dalam support ini, Gapoktan Karya Abadi dan pemerintah desa menyediakan lahan sedangkan BI bekerja membangun prasarana tersebut.
"Itu kita dibantu pembangunan sumur sibel nan posisinya ada di tanah kas desa, digunakan untuk seluruh personil Gapoktan," jelas dia.
Bambang menegaskan, Nganjuk menjadi salah satu sentra bawang merah terbesar di Indonesia setelah Brebes. Luas tanam bawang merah di wilayah tersebut mencapai sekitar 20 ribu hektare dengan produksi diperkirakan mencapai 300 ribu ton per tahun.
"Catatan terakhir di dinas pertanian kita, luas area tanaman Nganjuk dalam 1 tahun itu ada 20 ribu hektar. Perkiraannya dari 20 ribu hektare itu produksinya mungkin di 300 ribu ton," tandas Bambang.
(dpu/dpu)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·