Memasuki usia 3 tahun, anak mungkin mulai menunjukkan beragam perilaku nan membikin orang tua bertanya-tanya. Mulai dari suka mengupil, meminta dibacakan kitab nan sama berulang kali, sampai tiba-tiba berteriak padahal beberapa detik sebelumnya sedang tertawa.
Bagi orang dewasa, perilaku tersebut mungkin terlihat asing alias apalagi menggemaskan sekaligus bikin bingung. Namun, beberapa di antaranya rupanya dapat berangkaian dengan proses perkembangan anak.
Pada usia ini, anak sedang belajar memahami lingkungan, mengembangkan keahlian bahasa, menunjukkan kemandirian, sekaligus belajar mengenali dan mengatur emosinya. Jadi, tidak semua perilaku nan terlihat "aneh" merupakan tanda adanya masalah.
Berikut beberapa perilaku anak usia 3 tahun nan mungkin sering membikin orang tua bingung dan penjelasan di baliknya.
1. Suka Mengupil
Melihat anak mengupil mungkin membikin orang tua spontan berkata, "Jangan ngupil!"
Namun, kebiasaan ini sebenarnya cukup umum pada anak. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut mengupil sebagai salah satu kebiasaan nan banyak muncul pada masa kanak-kanak, terutama sekitar usia 3–6 tahun.
Mengupil bisa menjadi kebiasaan nan dilakukan tanpa sadar. Pada sebagian anak, perilaku berulang seperti ini juga dapat memberikan rasa nyaman alias membantu mengurangi ketegangan.
Karena itu, memarahi alias mempermalukan anak bukan langkah terbaik untuk menghentikannya. Orang tua dapat mengajarkan kebiasaan nan lebih bersih secara perlahan, misalnya menggunakan tisu ketika hidung terasa tidak nyaman dan mencuci tangan setelahnya.
2. Minta Dibacakan Buku nan Sama Berkali-kali
"Yang itu lagi? Kan sudah dibaca kemarin!"
Kalimat ini mungkin familiar bagi orang tua nan mempunyai anak usia 3 tahun. Anak apalagi bisa meminta cerita nan sama setiap hari sampai orang tua hafal seluruh jalan ceritanya.
Meski membosankan bagi orang dewasa, pengulangan justru dapat membantu proses belajar anak.
Sebuah penelitian terhadap anak usia 3 tahun menemukan bahwa anak nan mendengarkan cerita nan sama berulang kali menunjukkan keahlian nan lebih baik dalam mengingat dan mempertahankan kata-kata baru dibandingkan anak nan mendengarkan cerita berbeda dengan jumlah paparan kata nan sama.
Penelitian lain terhadap anak prasekolah juga menemukan bahwa membaca kitab cerita secara berulang dapat membantu pemerolehan kosakata, baik dalam memahami maupun menggunakan kata-kata baru.
Jadi, ketika si mini kembali membawa kitab favoritnya, sebenarnya dia mungkin sedang berkata, "Aku mau belajar lagi."
3. Baru Tertawa, Tiba-tiba Berteriak
Anak sedang tertawa, lampau tiba-tiba berteriak. Beberapa saat kemudian bisa kembali bermain seperti biasa.
Perubahan emosi nan sigap seperti ini memang dapat membikin orang tua bingung. Namun, salah satu perihal nan perlu diingat adalah keahlian anak dalam mengatur emosi tetap berkembang.
Pada usia 3 tahun, anak sudah mulai bisa mengikuti patokan sederhana, menunjukkan perhatian terhadap teman, dan melakukan percakapan singkat. Namun, keahlian untuk mengelola emosi nan kuat tetap memerlukan banyak support dari orang dewasa.
Karena itu, ekspresi emosi anak bisa terasa lebih besar dan berubah lebih sigap dibandingkan orang dewasa.
Alih-alih langsung melabeli anak sebagai "dramatis" alias "suka bikin masalah," orang tua bisa membantu dengan memberi nama pada emosinya.
Misalnya, "Kamu kelihatannya senang banget sampai teriak, ya?" alias "Tadi Anda tertawa, sekarang Anda kesal. Mama lihat."
Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali apa nan sedang dia rasakan.
4. Bilang "Mau!" Lalu Beberapa Menit Kemudian "Nggak Mau!"
Anak minta pisang. Setelah dikupas, malah bilang tidak mau.
Minta memakai baju tertentu, tetapi setelah dipakaikan justru mau menggantinya.
Perubahan keputusan seperti ini juga bisa menjadi bagian dari proses anak belajar menjadi lebih mandiri.
Di usia 3 tahun, anak semakin sadar bahwa dirinya mempunyai kemauan dan pilihan sendiri. Namun, keahlian berpikir, mengendalikan impuls, dan mengatur emosi belum berkembang sepenuhnya.
Akibatnya, apa nan diinginkan anak bisa berubah dengan cepat.
Bukan berfaedah setiap permintaan kudu dituruti. Orang tua tetap dapat memberikan batas sembari memberi pilihan sederhana.
Misalnya, "Kamu mau pakai baju biru alias kuning?"
Memberikan pilihan terbatas dapat membantu anak merasa mempunyai kendali tanpa membikin orang tua kehilangan batasan.
5. Harus Melakukan Sesuatu dengan Urutan nan Sama
Sarapan kudu menggunakan piring tertentu.
Setelah mandi kudu memakai handuk nan sama.
Sebelum tidur kudu membaca kitab dulu.
Kalau urutannya berubah sedikit saja, anak bisa langsung protes.
Bagi orang tua, ini mungkin terlihat seperti anak terlalu kaku. Namun, rutinitas dapat membantu anak memahami apa nan bakal terjadi selanjutnya dan membikin aktivitas sehari-hari terasa lebih mudah diprediksi.
Pada usia 3 tahun, anak juga sedang mengembangkan keahlian memahami patokan dan mengikuti rutinitas. Karena itu, pola nan konsisten dapat membikin mereka merasa lebih kondusif dan membantu mereka belajar menjalani aktivitas sehari-hari.
Jadi, jika si mini bersikeras dengan rutinitas tertentu, tidak selalu berfaedah dia sedang "keras kepala". Bisa jadi dia sedang belajar memahami bumi melalui pola nan berulang.
6. Bertanya "Kenapa?" Berkali-kali
"Kenapa hujan?"
"Karena ada awan."
"Kenapa ada awan?"
"Karena..."
"Kenapa?"
Dan pertanyaan berikutnya seolah tidak ada habisnya. 😅
Pada usia sekitar 3 tahun, keahlian bahasa anak berkembang pesat. Mereka mulai bisa melakukan percakapan lebih panjang, mengusulkan pertanyaan, dan menggunakan kata-kata untuk memahami bumi di sekitarnya.
Jadi, rentetan pertanyaan "kenapa" bukan sekadar upaya menguji kesabaran orang tua.
Anak memang sedang mencari hubungan antara satu perihal dengan perihal lainnya.
Tidak perlu selalu memberikan jawaban panjang. Jawaban sederhana nan sesuai usia, lampau dilanjutkan dengan pertanyaan kembali seperti "Menurut Anda kenapa?" dapat menjadi kesempatan untuk membujuk anak berpikir dan berbicara.
Jadi, Perlukah Khawatir dengan Perilaku Anak?
Perilaku nan terlihat tidak biasa tidak otomatis berfaedah ada masalah perkembangan.
Yang lebih krusial adalah memandang seberapa sering perilaku tersebut terjadi, seberapa intens, dan apakah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, alias keahlian anak untuk belajar dan bermain.
Orang tua juga tidak perlu membandingkan anak dengan anak lain. Setiap anak dapat mencapai keahlian perkembangannya dengan kecepatan nan berbeda.
Jadi, ketika anak 3 tahun kembali mengupil, meminta kitab favoritnya dibacakan untuk kesekian kalinya, alias tiba-tiba berteriak setelah tertawa, mungkin nan sedang terjadi bukanlah sesuatu nan "aneh".
Bisa jadi, dia hanya sedang bertumbuh, belajar, dan mencari tahu gimana bumi bekerja.
Dan ya, prosesnya memang kadang bikin orang tua mengelus dada. 😅
27 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·