Gus Yahya Tegaskan Tetap Maju di Muktamar NU: Niatku Ora Kliru

Sedang Trending 55 menit yang lalu
 Niatku Ora Kliru Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf.(MI/Ramdani)

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf menegaskan tetap maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU pada Muktamar ke-35 NU. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab menjalankan khidmah kepada NU.

“Allahu Robbuna. Niatku ora kliru (niat saya tidak salah),” kata Gus Yahya seusai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).

Gus Yahya sekaligus menepis rumor Presiden Prabowo terlibat dalam proses internal Muktamar, termasuk berita bahwa Prabowo tidak menghendaki dirinya kembali memimpin PBNU.

“Informasi tidak masuk akal. Prabowo tidak dalam posisi seperti Soeharto, lingkungan politik juga tidak sama,” ujarnya.

Menurut Gus Yahya, tidak ada argumen logis bagi Prabowo untuk mengintervensi Muktamar. Bahkan, intervensi terhadap NU dinilai dapat merugikan posisi politik Presiden.

“Mengintervensi NU bakal sangat membahayakan posisi politik Prabowo,” katanya.

Ia juga menegaskan relasinya dengan Prabowo berbeda dengan hubungan politik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Presiden Soeharto.

“Posisi saya terhadap Prabowo juga tidak sama dengan posisi Gus Dur terhadap Soeharto. Saya kooperatif, apalagi supportif, Gus Dur kritis sesuai kebutuhan konteks sosial politik saat itu,” tuturnya.

Gus Yahya juga menyoroti dugaan pihak dari lingkungan pemerintahan nan mengumpulkan pengurus NU dan meminta agar dirinya tidak dipilih, apalagi disebut disertai hadiah uang. Ia menegaskan tindakan tersebut tidak otomatis merepresentasikan sikap Prabowo.

“Kalau ada anak buah Prabowo bermanuver mencatut Prabowo, semestinya Prabowo menegur, jika perlu memberi sanksi,” tegasnya.

“Mereka mengorbankan Prabowo untuk agenda mereka sendiri,” sambung Gus Yahya.

Terkait rumor politik uang, Gus Yahya mengaku tetap percaya pada integritas PWNU dan PCNU sebagai pemegang kewenangan bunyi dalam Muktamar.

“PW dan PC adalah kader-kader. Bukan pedagang, apalagi maling. Mereka punya nurani dan kesetiaan terhadap organisasi. Mereka bakal melindungi komitmen moral mereka dari ancaman apa pun, apalagi sekadar uang,” katanya.

Saat ditanya apakah tetap percaya PWNU dan PCNU bakal menggunakan haknya berasas kepentingan organisasi, Gus Yahya menjawab, “Ya. Haqqul yaqin.”

Mengenai aktivitas sejumlah tokoh menjelang Muktamar, termasuk Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf, Gus Yahya memilih tidak melakukan intervensi.

“Buat apa? Tanggung jawab masing-masing, hisab masing-masing,” ujarnya.

Ia juga memastikan islah dengan Rais Aam PBNU dan jejeran Syuriyah telah tuntas. Kesepakatan untuk menggelar Muktamar disebutnya sebagai bukti bahwa persoalan internal telah dikembalikan ke sistem organisasi.

“Tuntas. Buktinya sepakat muktamar,” katanya.

Menjelang Muktamar, Gus Yahya meminta seluruh peserta menjaga niat, disiplin organisasi, dan martabat NU.

“Tata niat nan betul dan disiplin jangan sampai bertindak menciderai martabat NU,” pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia