Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D.(Dok UGM)
DATA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026 mencatat luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas telah mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Wilayah Kalimantan menjadi sorotan utama dengan luasan kebakaran terbesar berada di Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), disusul Kalimantan Tengah (3.069,52 hektare), dan Kalimantan Selatan (383,07 hektare). Kondisi ini menegaskan bahwa sistem penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Indonesia memerlukan penguatan nan lebih berkelanjutan.
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D., menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya mempunyai kapabilitas kelembagaan nan sangat kuat dalam menghadapi karhutla. Sinergi antara TNI, Polri, kementerian, BNPB, pemerintah daerah, Manggala Agni, hingga bumi upaya dan masyarakat merupakan modal sosial nan luar biasa.
Namun, Prof. Priyono memberikan catatan kritis bahwa kekuatan gotong royong tersebut tetap berkarakter reaktif. "Gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan. Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu memperkuat dengan kekuatan nan sama ketika rimba sedang tidak terbakar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8).
Titik Lemah: Kontinuitas dan Integrasi
Menurut Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI) ini, titik lemah penanganan karhutla bukan pada ketiadaan program pencegahan, melainkan pada daya tahan program tersebut setelah masa darurat berakhir. Ia menekankan bahwa akibat kebakaran tidak pernah lenyap lantaran dipengaruhi oleh kondisi gambut, dinamika ekonomi, perubahan penggunaan lahan, serta aspek iklim.
Ia mendorong pergeseran paradigma dari "gotong royong krisis" menjadi "gotong royong penjagaan hutan". Dalam ekosistem penjagaan, seluruh tokoh tetap terhubung untuk memonitor bentang alam dan melakukan intervensi awal meskipun api tidak sedang berkobar.
Prof. Priyono juga menyoroti pentingnya menjaga aset pengetahuan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Pengalaman lapangan mengenai pembasahan gambut, pemberdayaan masyarakat, hingga praktik paludikultur kudu dikelola sebagai memori strategis nasional.
Tiga Transformasi Strategis Penanganan Karhutla:
- Mengubah ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem penjagaan rimba permanen.
- Mengonversi pengalaman lapangan menjadi memori strategis nasional.
- Mengubah ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif.
Indikator Keberhasilan Baru
Lebih lanjut, Prof. Priyono menegaskan bahwa ketangguhan sebuah bangsa dalam menghadapi karhutla tidak boleh hanya diukur dari seberapa besar operasi pemadaman nan bisa dilakukan. Sebaliknya, keberhasilan tertinggi adalah ketika operasi pemadaman besar tidak lagi diperlukan.
"Ukuran keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya bukan semakin besarnya operasi pemadaman nan dapat dilakukan. Keberhasilan tertinggi justru tercapai ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan lantaran bentang alam telah dijaga sebelum api datang," pungkasnya. (AU/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·