Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) berbareng Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari (kiri) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu(MI/Usman Iskandar.)
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri, Senin (27/6). Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai perihal itu bukan satu-satunya aspek nan menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan.
Pada perdagangan Rabu (27/7), mata duit rupiah ditutup melemah 46 poin di level Rp18.009 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.963.
"Pengunduran diri Perry Warjiyo turut menekan rupiah, tetapi lebih sebagai pemicu tambahan daripada penyebab utama. Sebelum pengumuman tersebut, rupiah pada 24 Juli 2026 sudah berada di Rp17.943 per dolar AS dan melemah sekitar 7% sejak awal tahun," kata dia, saat dihubungi di Jakarta, Senin (27/7).
Ia menyebut imbal hasil surat berbobot negara (SBN) sepuluh tahun telah mencapai 7,35%. Pada 27 Juli 2026, sambung dia, rupiah melemah menjadi Rp18.005 dan imbal hasil SBN naik menjadi 7,37%, padahal indeks dolar justru turun dari 101,47 menjadi 101,23.
" Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa aspek dalam negeri, terutama ketidakpastian pergantian ketua BI, menambah premi akibat terhadap aset rupiah," imbuhnya.
Kekhawatiran Pelaku Pasar
Josua menyebut pengunduran diri Gubernur BI Perry Wajiyo sebelum masa jabatannya berhujung pada 2028 memang mengejutkan pasar. Peristiwa ini, menurutnya menimbulkan pertanyaan mengenai kesinambungan serta independensi BI. Kekhawatiran serupa juga terlihat dalam tanggapan pelaku pasar internasional.
Namun, menurutnya, tidak tepat andaikan pelemahan rupiah seluruhnya dikaitkan dengan mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo. Pasalnya, kata Josua, tekanan telah terbentuk sebelumnya akibat tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ketidakpastian arah suku kembang global, bentrok Timur Tengah, kenaikan nilai energi, serta kebutuhan dolar di dalam negeri.
"BI sendiri sebelumnya menyebut rupiah telah tertekan sejak akhir Juni akibat meningkatnya bentrok geopolitik dan perkiraan kenaikan suku kembang Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan rupiah dari Rp17.943 menjadi Rp18.005 hanya sekitar 0,34% dan kenaikan imbal hasil SBN sepuluh tahun baru dua pedoman poin. Jadi, reaksi hari ini lebih mencerminkan penambahan nilai atas ketidakpastian, belum menunjukkan kepanikan alias hilangnya kepercayaan secara menyeluruh," jelas Josua.
Ia mengatakan bahwa pasar sebenarnya tidak menuntut BI mempertahankan rupiah tepat di bawah Rp18.000 dengan menghabiskan persediaan devisa. Angka Rp18.000 memang menjadi pemisah psikologis, kata Josua. Namun nan lebih diinginkan adalah kepastian mengenai siapa Gubernur BI berikutnya, berapa lama masa transisi berlangsung, dan apakah keputusan moneter bakal tetap bebas dari kepentingan politik jangka pendek.
Joshua mengatakan pengaruh akhir pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo terhadap fiskal bakal lebih banyak ditentukan oleh kualitas penggantinya. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·