Anggota DPR sekaligus Wasekjen Partai Gerindra Kawendra Lukistian menyoroti pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan percepatan dinamika politik sebelum Pemilu 2029.
Kawendra menilai penggunaan istilah “patahan sejarah” untuk menggambarkan kemungkinan perubahan tersebut merupakan kajian nan ahistoris.
Kawendra menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini melangkah berasas konstitusi dan mandat rakyat nan sah.
“Pemerintahan Presiden Prabowo berdiri di atas fondasi konstitusi dan mandat rakyat nan sah! Analogi ‘Patahan Sejarah’ nan mempercepat usianya pemerintahan adalah corak kajian latar nan ahistoris!” kata Kawendra dalam keterangannya, Rabu (26/8).
Kawendra mengatakan, Gerindra bakal tetap konsentrasi mendampingi Prabowo dalam menjalankan pemerintahan.
“Dan kami di Gerindra konsentrasi mengawal Presiden Prabowo bekerja keras dengan segala daya upayanya, dan pasti bakal terus membersamai beliau,” ujarnya.
Menurut Kawendra, support terhadap Prabowo bukan baru diberikan setelah Prabowo berada di pemerintahan. Ia menyebut perjuangan mendukung Prabowo telah dilakukan sejak sebelum Prabowo memenangkan Pilpres 2024.
“Bukan baru sekarang, tapi sejak dulu! Ya, sejak kalah acapkali dan tetap terus bangkit lagi!” kata Kawendra.
Kawendra juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya kepercayaan dalam menghadapi situasi nan tidak selalu dapat diprediksi.
“Keyakinan itu bukan tentang tahu cuaca esok, tapi tentang berdiri di tengah angin besar dengan jas hujan nan kau jahit sendiri,” ujarnya.
Sikap Kawendra tersebut sejalan dengan respons resmi Partai Gerindra terhadap pernyataan Budi Arie. Juru Bicara Gerindra Sugiat Santoso juga mengatakan partainya belum membahas Pemilu 2029.
Sugiat menyebut Gerindra saat ini tetap berfokus pada program-program pemerintahan Prabowo. Karena itu, Gerindra tidak mau terseret dalam wacana mengenai kemungkinan percepatan Pemilu nan disampaikan Budi Arie.
Budi Arie Singgung ‘Patahan Sejarah’
Pernyataan Budi Arie sebelumnya beredar melalui sebuah video di media sosial. Dalam video tersebut, Budi tampak duduk di sebelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan adanya perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029.
Budi menyebut, kondisi masyarakat saat ini menunjukkan adanya sejumlah anomali nan menurutnya perlu menjadi perhatian. Ia apalagi mengaku mempunyai hatikecil bahwa dinamika politik bisa bergerak lebih sigap dari perkiraan.
“ Tetapi saya mau sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok hatikecil saya ini lebih sigap dari ’29 Pak. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita tetap ngomong pemilu ’29, pemilu ’29. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” ucap Budi.
Budi kemudian menyebut adanya kejadian sosial nan menurutnya dapat menjadi tanda terjadinya “patahan sejarah”.
Berujung Minta Maaf
Setelah video itu viral, Budi Arie menyampaikan permohonan maaf. Ia menegaskan, pernyataan tersebut merupakan kajian pribadinya dan tidak berangkaian dengan Jokowi. Pernyataan nan dimaksud ialah soal dia menyebut pergantian kekuasaan bisa lebih sigap dari 2029.
Eks Menkop ini menyatakan siap bertanggung jawab atas pernyataan tersebut dan menerima akibat nan muncul.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·