Gencatan Senjata Terancam Bubar, Iran Ngamuk Israel Serang Lebanon

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran secara terbuka menyatakan kemarahannya terhadap Israel setelah serangan udara besar-besaran kembali menggempur wilayah Lebanon. Hal ini terjadi setelah mitra utama Israel, Amerika Serikat (AS), sepakat melakukan gencatan senjata dengan Teheran nan semestinya meredakan ketegangan di area tersebut pada Rabu, (08/04/2026).

Pernyataan keras tersebut datang dari negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bager Qalibaf. Mengutip laporan Reuters, dia menyebut pembicaraan tenteram permanen menjadi tidak masuk logika setelah Israel menggempur Lebanon habis-habisan dan menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan lantaran terus mendesak agar Iran sepenuhnya menghentikan ambisi nuklirnya.

"Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral alias negosiasi adalah perihal nan tidak masuk akal," ujar Mohammed Bager Qalibaf dalam pernyataan resminya.

Pihak Israel dan Amerika Serikat kemudian memberikan tanggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu tersebut memang tidak mencakup wilayah Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap sasaran di Lebanon bakal terus bersambung tanpa henti meskipun ada keberatan dari pihak Teheran.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, nan memimpin delegasi Washington di Budapest, turut memberikan komentarnya mengenai ketegangan tersebut. Ia menilai ada salah persepsi nan mendasar dari pihak Iran mengenai cakupan wilayah geografis dari kesepakatan nan baru saja diumumkan.

"Saya pikir pihak Iran mengira bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, padahal kenyataannya tidak demikian," kata Vance.

Masalah Baru: Nuklir

Perselisihan juga meruncing pada persoalan program nuklir Iran nan menjadi pemicu utama perang nan diluncurkan Donald Trump. Trump menyatakan Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh stok nan ada, sebuah klaim nan langsung dia unggah ke media sosial.

"Amerika Serikat bakal bekerja sama dengan Iran untuk menggali dan memindahkan seluruh 'Debu' Nuklir nan terkubur sangat dalam," tulis Trump.

Namun, Qalibaf langsung membantah klaim tersebut dan menekankan bahwa berasas ketentuan gencatan senjata, Iran sebenarnya tetap diizinkan untuk melanjutkan aktivitas pengayaan uranium. Ketegangan ini membikin Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tetap dalam posisi siaga penuh untuk kembali bertempur secara total jika diperlukan.

"Israel telah meletakkan jarinya di pelatuk dan siap untuk kembali bertempur kapan saja," tegas Netanyahu.

Layanan pertahanan sipil Lebanon melaporkan sebanyak 254 orang tewas akibat serangan Israel di seluruh Lebanon pada Rabu, dengan nomor kematian tertinggi berada di ibu kota Beirut. Kondisi ini membikin penduduk Teheran, Alireza, merasa ragu bahwa proses diplomasi bakal betul-betul membawa kedamaian nan berkelanjutan.

"Israel tidak bakal membiarkan diplomasi bekerja dan Trump mungkin bakal mengubah pandangannya besok. Tapi setidaknya kita bisa tidur malam ini tanpa ada serangan," kata Alireza kepada Reuters melalui telepon.

Meskipun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kemenangan militer nan menentukan, pihak Iran merasa tetap bisa memperkuat dari serangan negara adikuasa tersebut. Dewan Keamanan Nasional Agung Iran apalagi merilis pernyataan nan menyebut bahwa pihak musuh telah mengalami kegagalan dalam upayanya.

"Musuh, dalam perangnya nan tidak adil, ilegal, dan pidana melawan bangsa Iran, telah menderita kekalahan berhistoris dan telak nan tidak dapat disangkal," bunyi pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Agung Iran.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News