Gen Z Kecewa, Ramai Aktivis Ditangkap Usai Rezim Baru Berkuasa

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekecewaan mulai menyelimuti kalangan muda di Madagaskar setelah penangkapan sejumlah aktivis Gen Z nan sebelumnya menjadi motor perubahan politik di negara tersebut. Aksi abdi negara ini memicu kekhawatiran bahwa rezim baru tak lebih baik dari pemerintahan lama nan mereka gulingkan.

Empat aktivis muda, ialah Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana, ditangkap pada 12 April 2026. Penangkapan dilakukan dua hari setelah mereka mengikuti demonstrasi nan menuntut kejelasan agenda pemilihan umum.

Pengacara mereka, Aliarivelo Maromanana, menyebut kliennya dituduh melemahkan keamanan negara dan terlibat persekongkolan kriminal. Namun, dia menegaskan tuduhan tersebut tidak berdasar.

"Mereka semua membantah dan tidak ada bukti sama sekali," ujarnya, seperti dilaporkan The Guardian, Senin (20/4/2026).

Aksi ini menjadi sorotan lantaran terjadi di bawah kepemimpinan Kolonel Michael Randrianirina, nan berkuasa melalui kudeta pada Oktober 2025 setelah gelombang protes besar nan digerakkan golongan muda Gen Z.

Menanggapi penangkapan itu, ahli bicara presiden, Harry Laurent Rahajason, menegaskan bahwa pemerintah tidak ikut kombinasi dalam proses hukum.

"Di Madagaskar ada pemisahan kekuasaan. Kepresidenan tidak ada hubungannya dengan kasus nan ditangani kepolisian nasional," katanya.

Sebagian aktivis telah dibebaskan. Dua di antaranya sempat dirawat di rumah sakit, sementara hingga akhir pekan lalu, Herizo tetap ditahan. Polisi menyatakan para aktivis tidak mengalami kekerasan selama penahanan.

Namun, situasi justru memanas setelah dua aktivis lain kembali ditangkap beberapa hari kemudian, meski belum ada rincian resmi mengenai kasus tersebut.

Harapan Pupus, Reformasi Tak Kunjung Datang

Sebelumnya, kaum muda sempat merayakan tumbangnya Presiden Andry Rajoelina pada Oktober lalu. Namun euforia itu sekarang berubah menjadi kekecewaan.

Banyak kalangan menilai pemerintahan baru tetap diisi oleh elite lama nan dianggap korup, serta belum menghadirkan perbaikan nyata di sektor ekonomi maupun jasa publik.

Ketakandriana Rafitoson dari Transparency International Madagaskar menilai penangkapan ini sebagai sinyal jelek bagi demokrasi.

"Ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kebebasan fundamental. Pola seperti ini terjadi di pemerintahan sebelumnya dan diharapkan berhenti, tapi rupanya tidak," ujarnya.

Madagaskar sendiri tetap menghadapi beragam tantangan struktural. Negara kepulauan berpenduduk sekitar 32 juta jiwa itu termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Berdasarkan info Bank Dunia, PDB per kapita pada 2024 hanya US$545 alias sekitar Rp9,26 juta per tahun.

Tuntutan Reformasi dan Kekhawatiran Asing

Kelompok Gen Z menilai belum ada reformasi konkret sejak pergantian kekuasaan. Mereka juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses penyusunan konstitusi baru. Pemimpin Gen Z Madagasikara, Elliot Randriamandrato, mengatakan publik tetap menunggu langkah nyata dari pemerintah.

"Untuk saat ini belum ada reformasi nyata. Itu sebabnya masyarakat frustrasi lantaran tidak memandang perubahan nan jelas," katanya.

Ia juga menyoroti sistem pemilu nan dinilai tidak adil. "Saat ini, sistemnya hanya memungkinkan orang-orang dengan lebih banyak duit untuk menang," tambahnya.

Di sisi lain, kedekatan pemerintah dengan Rusia turut memicu kekhawatiran baru. Pemerintah dilaporkan menerima support perangkat militer seperti truk, helikopter, dan tank setelah kunjungan ke Moskow.

Aktivis Shely Andriamihaja mengingatkan potensi akibat pengaruh asing. "Kami sangat cemas tentang akibat penguasaan negara oleh pihak asing," ujarnya.

Situasi ini menempatkan rezim baru dalam tekanan besar, terutama dari generasi muda nan dulu menjadi pendukung utama perubahan.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News