Alfie Fadila, Project Officer ECPAT Indonesia dalam aktivitas Cerdas Digital 2026 nan berjalan di area Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (22/5).(MI/Nadhira Izzati A)
PERKEMBANGAN teknologi nan masif menempatkan generasi muda Indonesia sebagai pengguna internet tertinggi. Namun, lonjakan digitalisasi ini tidak dibarengi dengan kesiapan pola pengasuhan digital nan mumpuni dari para orang tua.
Meskipun anak-anak era sekarang disebut jauh lebih pandai di ruang digital dibanding orang tua mereka, mereka justru berada dalam bayang-bayang akibat kejahatan siber nan tinggi.
Menanggapi urgensi tersebut, ECPAT Indonesia (lembaga perlindungan anak nan konsentrasi pada rumor kekerasan dan pemanfaatan seksual anak) menggandeng Meta untuk meluncurkan program pemberdayaan berjudul Smart Digital Parenting.
Program berbasis organisasi ini dirancang untuk mempersempit lembah literasi digital antara anak dan orang tua.
Krisis Keamanan Digital Anak
Project Officer ECPAT Indonesia, Alfie Fadila, memaparkan info bahwa Generasi Z menempati urutan pertama pengguna internet di Indonesia dengan nomor mencapai 25,52 persen, nan kemudian disusul ketat oleh golongan Milenial sebesar 25,17 persen. Ironisnya, skor indeks literasi digital nasional pada tahun 2025 lampau tercatat tetap tertahan di nomor 44,53.
Ketimpangan kecakapan digital ini memicu beragam akibat nyata bagi anak-anak di bawah umur. Ancaman tersebut mulai dari peretasan akun, paparan konten dewasa, perundungan di dalam gim daring, hingga akibat berat seperti pemanfaatan seksual.
Alfie menjelaskan bahwa ketika anak-anak mengalami masalah alias menjadi korban kejahatan siber di internet, mereka condong enggan mengadu kepada orang tua mereka sendiri.
"Ketika anak menjadi korban, mereka tidak berani untuk menunjukkan siapapun. Mereka itu merasa ketika dia cerita kepada orang tua, itu bakal menjadi aib. Nah, mereka rupanya lebih memilih curhat kepada kawan alias kerabat kandung daripada dengan orang tua," ungkapnya dalam aktivitas Cerdas Digital 2026 nan berjalan di area Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (22/5).
Adakan Program untuk Dukung Keamanan Digital pada Anak
ECPAT Indonesia dan Meta bakal mengunjungi empat wilayah di Indonesia melalui program Smart Digital Parenting, ialah Denpasar, Yogyakarta, Batam, dan Kupang.
Agenda ini bermaksud meningkatkan kesadaran akibat digital pada orang tua, membangun pola pengasuhan nan suportif-adaptif, serta memperkuat kapabilitas mereka sebagai tembok perlindungan anak di family dan komunitas.
Selama dua hari penyelenggaraan di masing-masing kota, para orang tua bakal dibekali materi, strategi praktis dalam menghadapi akibat internet, termasuk langkah pemanfaatan fitur kejuaraan di platform digital serta optimasi jasa panggilan darurat milik pemerintah, SAPA 129.
Program nan dijadwalkan melangkah mulai Juni hingga Oktober 2026 ini memprioritaskan pembentukan 240 Parent Champion di empat provinsi. Mereka nantinya bakal direkrut dari beragam unsur komponen lokal, mulai dari guru, komite sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga kader PKK dan golongan remaja setempat.
Setelah itu, para Parent Champion ini ditargetkan melakukan sosialisasi lanjutan guna menjangkau 1.000 peserta di lingkungan sekitar mereka. Mereka juga diproyeksikan memproduksi 25 aset digital berbentuk poster elektronik serta video pendek edukatif nan diharapkan bisa mengedukasi hingga 10.000 orang di media sosial.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·