Sudah sembilan hari sejak gempa utama M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus, dan tanah di sana belum juga betul-betul diam. Berdasarkan pembaruan BMKG hingga 23 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat 5.966 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar M1,1 hingga M6,2. Sebanyak 32 kejadian tercatat mempunyai magnitudo di atas M5, sedangkan 132 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pertanyaan nan paling sering muncul dari nomor sebesar itu sebenarnya sederhana: kapan ini bakal berhenti?
Untuk menjawabnya, ada satu perihal nan perlu dipastikan lebih dulu apakah ribuan gempa susulan ini sesuatu nan tidak biasa, alias justru bagian normal dari proses nan memang kudu dilalui.
Jawabannya tidak sesederhana nomor 5.966 itu sendiri. Gempa besar memang dapat diikuti rangkaian gempa susulan. Setelah gempa utama terjadi, kondisi tegangan pada batuan di sekitar sumber gempa berubah, dan perubahan itu bisa memicu pergeseran pada bagian lain di sekitar area patahan sehingga menghasilkan gempa-gempa berikutnya. Inilah nan disebut gempa susulan, alias aftershock.
Munculnya gempa susulan setelah gempa besar bukan sesuatu nan dengan sendirinya menandakan keadaan tidak normal. Seismolog perlu memandang pola aktivitasnya, termasuk gimana jumlah dan magnitudo gempa berubah dari waktu ke waktu bukan sekadar jumlah totalnya.
Di Flores, rangkaian tersebut berangkaian dengan kondisi tektonik nan memang aktif. BMKG menganalisis gempa utama M7,7 pada 15 Agustus sebagai gempa dangkal dengan sistem sesar naik (thrust fault) nan berangkaian dengan Flores Back-Arc Thrust. Episenternya berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Struktur ini merupakan salah satu jalur tektonik krusial di area Nusa Tenggara, sehingga aktivitas susulan di sekitarnya menjadi bagian nan terus dipantau. Peta BMKG membantu memperlihatkan proses tersebut secara visual.
Titik-titik merah itu bukan berfaedah masyarakat Flores telah merasakan nyaris enam ribu kali guncangan. Sebagian besar gempa tersebut berukuran kecil. Dari 5.966 kejadian nan tercatat hingga 23 Agustus, hanya 132 di antaranya nan dilaporkan dirasakan masyarakat selisih besar antara jumlah gempa nan terdeteksi instrumen dan jumlah nan betul-betul dirasakan manusia.
Sensor seismik memang dapat merekam getaran nan terlalu mini untuk dirasakan manusia. Karena itu, peta nan dibuat dari info instrumen bisa terlihat jauh lebih padat dibandingkan pengalaman sehari-hari penduduk di lapangan. Titik merah pada peta, dengan kata lain, tidak selalu berfaedah satu guncangan nan dirasakan.
Yang menarik justru soal sebarannya: kenapa titik-titik itu terlihat berkumpul di wilayah tertentu? Dalam analisisnya, BMKG menemukan adanya klaster gempa susulan di sekitar area Flores Back-Arc Thrust. Persebaran ini memberi gambaran bagian mana nan sedang mengalami aktivitas kegempaan paling intens setelah gempa utama, sekaligus membantu peneliti memandang pola ruang dari aktivitas gempa. Dari situ, pemantauan bisa dilakukan lebih terarah.
Pertanyaan berikutnya mungkin justru lebih krusial bagi masyarakat: kapan semua ini bakal berakhir?
Tidak ada tanggal pasti untuk itu.
Gempa susulan pada umumnya mempunyai pola nan berbeda dari satu kejadian ke kejadian lain. Secara umum, jumlahnya condong lebih banyak di awal rangkaian lampau menurun seiring waktu pola nan dalam seismologi dikenal melalui Hukum Omori. Tapi penurunan itu tidak berfaedah jumlah gempa kudu selalu lebih sedikit setiap hari.
BMKG mencatat pola ini dalam perkembangan rangkaian gempa Flores. Hingga 21 Agustus, aktivitas gempa susulan tetap menunjukkan pola temporal nan kompleks dan belum memperlihatkan peluruhan nan sederhana.
BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan tetap dapat berjalan sekitar tiga hingga empat minggu bukan berfaedah setelah itu tidak bakal ada lagi satu pun gempa, melainkan perkiraan soal berlangsungnya rangkaian aktivitas berasas kondisi nan diamati saat ini. Kegempaan tidak bekerja seperti agenda dengan tanggal mulai dan selesai nan pasti.
Kondisi gedung juga jadi perhatian. Gempa utama dapat menyebabkan kerusakan struktur, sehingga guncangan susulan perlu dihadapi lebih hati-hati, terutama pada gedung nan sudah retak. BMKG sendiri mengimbau masyarakat menghindari gedung nan rusak akibat gempa.
Membaca peta merah Flores, dengan demikian, sebaiknya tidak berakhir pada pertanyaan tentang jumlah titiknya. Peta itu adalah gambaran aktivitas seismik nan terus dipantau sebagian besar gempa berukuran mini dan tidak dirasakan, sebagian lainnya cukup kuat untuk dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa susulan setelah gempa besar adalah bagian dari proses tektonik nan sudah dikenal luas dalam seismologi. Aktivitasnya secara umum diharapkan menurun seiring waktu, tapi kapan tepatnya rangkaian ini betul-betul berhujung tidak dapat ditentukan dengan kalender.
Angka 5.966 sebaiknya dibaca sebagai catatan pemantauan, bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi kegempaan Flores. Peta itu memang penuh warna merah, tapi nan sebenarnya diperlihatkan bukan hanya banyaknya gempa, melainkan gimana instrumen merekam respons kerak bumi setelah satu gempa besar terjadi.
Selama rangkaian ini tetap berlangsung, perihal paling masuk logika adalah terus mengikuti pembaruan dari BMKG, memahami makna info nan ditampilkan, dan tetap waspada terhadap gedung nan sudah rusak. Untuk pertanyaan "kapan berakhir?," pengetahuan pengetahuan memang belum bisa memberi tanggal pasti nan bisa diberikan hanyalah pemantauan, pola, dan penjelasan berasas info nan terus diperbarui.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·