Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan mengejutkan mengenai adanya pangkalan militer rahasia Israel di gurun Irak. Fasilitas tersembunyi tersebut diduga dibangun sebagai pusat logistik untuk mendukung serangan udara besar-besaran terhadap Iran nan telah berjalan sejak awal tahun ini.
Mengutip Anadolu Agency, seorang pejabat keamanan senior Irak pada hari Minggu (10/05/2026) membantah keras laporan media nan menyatakan Israel telah mendirikan pedoman militer rahasia di wilayah gurun negara tersebut. Pejabat nan berbincang dengan syarat anonim tersebut menyatakan bahwa berita mengenai operasional situs militer rahasia Israel di gurun barat Irak saat ini adalah tidak benar.
"Laporan mengenai Israel nan saat ini mengoperasikan situs militer rahasia di gurun barat Irak adalah palsu," tegas pejabat keamanan tersebut.
Meski membantah keberadaan pangkalan tetap, pejabat tersebut memberikan penjelasan mengenai sebuah kejadian nan sempat memicu spekulasi luas. Ia mengakui bahwa pasukan Irak memang pernah menghadapi operasi udara misterius pada bulan Maret lampau di wilayah gurun al-Nukhaib, Irak tengah, namun dia menegaskan situasi tersebut sudah ditangani pada saat itu.
Kabar mengenai pangkalan rahasia ini pertama kali dihembuskan oleh The Wall Street Journal nan menyatakan bahwa pasukan unik Israel dikerahkan di situs tersebut sebagai pusat logistik Angkatan Udara Israel. Laporan tersebut juga menuding bahwa situs ini didirikan dengan pengetahuan Amerika Serikat (AS) sebelum Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.
"Pangkalan itu nyaris terungkap pada awal Maret setelah media pemerintah Irak melaporkan bahwa seorang gembala mengawasi aktivitas militer nan mencurigakan di area tersebut, termasuk pergerakan helikopter, nan memicu pasukan Irak untuk melakukan penyelidikan," tulis laporan tersebut.
Teka-teki mengenai kekuatan asing di gurun Irak semakin menguat setelah pernyataan dari Wakil Komandan Operasi Gabungan Irak, Letnan Jenderal Qais Al-Muhammadawi pada 5 Maret silam. Al-Muhammadawi mengungkapkan bahwa otoritas menerima info dari seorang penggembala tentang kehadiran pasukan bersenjata tak dikenal di area gurun dekat Najaf dan Karbala, Irak selatan.
Pasukan Irak kemudian dikerahkan menggunakan kendaraan Humvee, namun mereka justru disambut dengan serangan udara dahsyat saat berada sekitar 15 kilometer dari letak nan dilaporkan. Serangan tersebut mengakibatkan satu prajurit tewas, dua lainnya terluka, serta kerusakan pada dua kendaraan militer.
"Pasukan tertentu telah berada di darat dan menerima support udara," ujar Qais Al-Muhammadawi saat menjelaskan bahwa tim bala support tidak menemukan apa pun di letak setelah serangan terjadi.
Buntut dari kejadian berdarah tersebut, Irak dilaporkan telah mengusulkan pengaduan resmi kepada Amerika Serikat pada akhir Maret. Baghdad menuduh adanya keterlibatan kekuatan asing dalam serangan itu dan menyatakan Washington bertanggung jawab atas pelanggaran kedaulatan nan terjadi di wilayah tersebut.
Hingga buletin ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari pihak Israel maupun Amerika Serikat mengenai tuduhan keberadaan pangkalan rahasia maupun kejadian serangan udara di gurun Irak. Militer Israel sendiri menolak memberikan komentar mengenai laporan nan beredar luas di media internasional tersebut.
Ketegangan regional sendiri meningkat tajam sejak serangan 28 Februari nan memicu tindakan jawaban Iran terhadap Israel dan sekutu Amerika di Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz. Meski gencatan senjata telah bertindak sejak 8 April melalui mediasi Pakistan, negosiasi di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen, sementara Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa pemisah waktu nan jelas.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·