Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa seluruh lampau lintas kapal di Selat Hormuz sekarang berada di bawah koordinasi dan izin langsung angkatan laut mereka. Pernyataan itu muncul di tengah mandeknya negosiasi antara Teheran dan Washington mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran daya paling vital di bumi tersebut.
Dalam pernyataan nan dikutip instansi buletin hubungan pemerintah Iran, ISNA, pada Rabu (21/5/2026), IRGC menyebut telah mengoordinasikan perlintasan 26 kapal dalam 24 jam terakhir di Selat Hormuz.
"Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan dalam koordinasi dengan Angkatan Laut IRGC," demikian bunyi pernyataan IRGC, dilansir Al Jazeera.
Langkah itu memperlihatkan bahwa Iran makin memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur laut sempit nan sebelumnya dilalui sekitar seperlima ekspor daya bumi sebelum perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Tak lama setelah pernyataan IRGC tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia Iran alias Persian Gulf Strait Authority (PGSA) juga merilis peta baru Selat Hormuz melalui akun X resminya. Dalam peta itu, Iran menandai area maritim terkendali nan disebut tidak dapat dilintasi kapal tanpa otorisasi resmi dari otoritas Iran.
PGSA menjelaskan area itu membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga selatan Fujairah di Uni Emirat Arab pada pintu timur selat. Sementara di sisi barat, area pengawasan meluas dari ujung Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.
Pengumuman tersebut mempertegas perubahan besar dalam tata kelola jalur pelayaran internasional nan selama puluhan tahun menjadi salah satu urat nadi perdagangan daya global.
Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan tetap ada "kemajuan" dalam pembicaraan dengan Iran. Namun di saat bersamaan, Trump kembali menakut-nakuti bakal melanjutkan tindakan militer andaikan Teheran tidak menyepakati kesepakatan damai.
Sinyal keras juga datang dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa andaikan perang kembali pecah, bentrok berikutnya bakal membawa akibat nan jauh lebih besar.
"Kembalinya perang bakal menghadirkan jauh lebih banyak kejutan," ujar Araghchi.
IRGC apalagi menegaskan bahwa jika Iran kembali diserang, maka bentrok tidak lagi terbatas di area Timur Tengah saja.
Mereka menyatakan bahwa pertempuran "kali ini" bakal diperluas melampaui area regional.
Sejumlah analis menilai baik Washington maupun Teheran sekarang sama-sama percaya bahwa memperpanjang tekanan ekonomi bakal memberi untung tawar-menawar lebih besar terhadap lawannya.
Will Todman, peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan kedua pihak tampak percaya musuh mereka bakal lebih dulu terpukul secara ekonomi jika kebuntuan terus berlangsung.
"Saya pikir sangat susah memandang sesuatu nan betul-betul dapat mengubah kalkulasi mereka secara mendasar, lantaran kedua pihak tampaknya percaya bahwa semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar pula daya tawar mereka lantaran musuh mereka bakal semakin menderita secara ekonomi," kata Todman kepada Al Jazeera.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·