Anya Taylor-Joy(Andrea RENAULT / AFP)
BINTANG Hollywood ternama, Anya Taylor-Joy, nan dikenal lewat perannya nan memukau dalam The Queen's Gambit dan Furiosa: A Mad Max Saga, rupanya menyimpan kisah masa lampau nan pahit. Sebelum meraih kesuksesan dunia dan menjadi ikon kecantikan unik di industri film, dia sempat mengalami masa-masa susah akibat perundungan (bullying).
Dikucilkan lantaran Penampilan Fisik
Dalam beragam kesempatan wawancara, Anya mengungkapkan bahwa masa sekolahnya tidaklah mudah. Ia sering merasa tidak cocok dengan lingkungan sekitarnya setelah pindah dari Argentina ke London pada usia enam tahun. Ketidakmampuannya berkata Inggris di awal kepindahannya membikin dia merasa terisolasi.
Namun, nan paling membekas adalah hinaan nan dia terima mengenai fitur wajahnya. Anya mengaku sering dihina lantaran jarak matanya nan lebar. Ia apalagi pernah dikunci di dalam loker dan dilarang masuk ke dalam kelas oleh teman-temannya. Pengalaman dikucilkan ini sempat membuatnya merasa sangat rendah diri dan tidak percaya diri dengan penampilannya.
"Saya tidak pernah merasa cantik. Saya pikir saya tidak cukup elok untuk bermain di film. Kedengarannya menyedihkan, tetapi saya betul-betul merasa wajah saya aneh," ungkap Anya Taylor-Joy dalam sebuah wawancara media internasional.
Bangkit Melalui Akting
Meskipun pernah disebut "tidak cantik" oleh standar konvensional teman-teman sebayanya, Anya Taylor-Joy justru menemukan pelarian dan kekuatan melalui seni peran. Keunikan wajahnya nan dulu dihina, sekarang justru menjadi aset terbesar nan membuatnya menonjol di antara aktris Hollywood lainnya.
Kariernya mulai meroket setelah membintangi movie seram The Witch (2015). Sutradara dan kritikus movie justru memuji ekspresi wajahnya nan intens dan sinematik. Sejak saat itu, dia membuktikan bahwa standar kecantikan tidaklah tunggal, dan talenta nan luar biasa bisa membungkam segala corak perundungan masa lalu.
Pesan untuk Korban Perundungan
Kisah Anya Taylor-Joy menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa apa nan dianggap sebagai "kekurangan" oleh orang lain bisa menjadi kekuatan terbesar di masa depan. Saat ini, dia tidak hanya dikenal sebagai aktris berbakat, tetapi juga sebagai wajah dari beragam merek mewah dunia, membuktikan bahwa dia telah melampaui kata-kata kasar nan pernah diterimanya. (Z-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·