Fundamental Ekonomi RI Masih Solid, Ekonom BNI Bongkar Alasannya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Leo Putera Rinaldy memandang esensial ekonomi nasional tetap tergolong solid. Hingga kuartal II-2026, ekonomi Indonesia sukses tumbuh 5,29% secara tahunan alias Year on Year (YoY).

Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia nan di atas level 5% tetap tergolong baik. Terlebih, beberapa negara berkembang lainnya hanya bisa mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 3% pada kuartal II-2026.

Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sudah sangat baik di tengah kondisi dunia seperti saat ini. Bahkan, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini lebih tinggi dibandingkan kondisi rata-rata sebelum pandemi Covid-19.

"Nah jika kita lihat detailnya, kita bisa membaginya dalam dua bagian. nan pertama jika kita lihat PDB dari sisi pengeluaran, nomor 5,6% pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama ke 5,3%, itu jika kita lihat ada sebagian pengaruh dari normalisasi. Karena terjadinya adanya low base terutama di sisi private consumption alias konsumsi swasta di kuartal pertama tahun lalu," ungkap dia dalam Power Lunch, Kamis (13/8/2026).

Dirinya bilang, perlambatan nan terjadi pada kuartal II-2026 lebih dikarenakan adanya pergeseran aktivitas lebaran dan liburan ke kuartal I-2026. Alhasil, pengaruh dari momentum besar tersebut terkonsentrasi di tiga bulan pertama tahun ini.

Di sisi lain, Leo menilai, pertumbuhan ekonomi nasional saat ini ditopang oleh shopping pemerintah. Pengeluaran berupa shopping pemerintah tetap tumbuh tinggi di nomor 16% secara tahunan. Hal ini menunjukkan adanya front loading shopping fiskal nan dilakukan pemerintah guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

"Nah nan menarik itu adalah jika kita lihat dari variabel investasi riil. Jadi jika kita lihat investasi real itu year on yearnya di kuartal kedua meningkat nyaris mencapai 7%. Nah jika kita break down antara nan construction investment sama non-construction investment, nan mendorong peningkatannya itu adalah construction investment. Jadi construction investment itu jika kita lihat year on yearnya meningkat di kuartal kedua dan ini merupakan kontribusi baik dari sisi private dan public sector," jelasnya.

Dia melanjutkan, perkembangan di sektor publik sendiri erat kaitannya dengan program strategis pemerintah. Salah satunya berangkaian dengan pembangunan bentuk dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Berkat pembangunan tersebut, penjualan semen pada kuartal II-2026 mengalami peningkatan.

Berikutnya, lanjut dia, terdapat aspek lain nan memperkuat esensial ekonomi nasional, ialah sektor konstruksi, khususnya di sektor jasa.

"Jadi sektor jika kita lihat jasa pendidikan, public administration. Nah nan menarik menurut saya manufaktur. Jadi jika kita lihat sektor manufaktur itu memang year on year nya melambat. Tetapi jika kita lihat lebih perincian subsektor manufaktur nan ada di sektor manufaktur tersebut, ada beberapa subsektor nan rupanya year on yearnya itu naik di kuartal kedua," terang dia.

Leo menyebut subsektor seperti tekstil, dasar kaki, produk kayu, dan furnitur mengalami peningkatan pertumbuhan secara tahunan pada kuartal II-2026. Kenaikan keahlian beberapa subsektor tersebut sangat berangkaian dengan aktivitas ekspor.

Dengan kombinasi antara pertumbuhan nan berada di atas level sebelum pandemi dan support dari konsumsi, shopping pemerintah, investasi, serta sejumlah sektor produksi, Leo menilai esensial ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan nan solid di tengah tekanan lingkungan global.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News