Fenomena Baru "Menular" di China, Orang Muda "Buang" Mangkuk Nasi Besi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Konsep "Mangkuk Nasi Besi" di China mulai ditinggalkan. Para anak muda di negara tersebut memilih untuk kerja elastis dibandingkan pekerjaan tetap. Di tengah persaingan kerja nan semakin ketat dan perubahan style hidup generasi muda, semakin banyak anak muda di China meninggalkan konsep pekerjaan tradisional demi memilih kerja elastis alias flexible employment.

Mereka rela melepas stabilitas demi kebebasan mengatur waktu, kesempatan digital, hingga menghindari budaya kerja ekstrem nan identik dengan jam kerja panjang.

Fenomena ini sekarang menjadi salah satu perubahan terbesar dalam pasar tenaga kerja China nan mana generasi muda tak lagi mengejar pelerjaan nan pasti.

Selama puluhan tahun, masyarakat China mengenal konsep "iron rice bowl", pekerjaan tetap dengan penghasilan stabil, agunan sosial lengkap, dan keamanan kerja jangka panjang, biasanya di pemerintahan alias perusahaan besar.

Namun pola pikir itu mulai berubah.

Banyak anak muda sekarang lebih tertarik pada pekerjaan berbasis platform digital nan menawarkan elastisitas dan kemandirian. Mereka mau mempunyai kontrol lebih besar atas waktu, letak kerja, hingga style hidup.

Salah satunya adalah Zhao Xiaoyu, wanita 25 tahun lulusan keperawatan nan sekarang bekerja sebagai "medical escort" alias pendamping pasien di rumah sakit Guangzhou.
Pekerjaannya bukan sebagai master maupun perawat. Ia membantu pasien mengurus registrasi, konsultasi, hingga prosedur pemeriksaan di rumah sakit.

Menurutnya, pekerjaan elastis memberinya kebebasan nan susah ditemukan di pekerjaan kantoran biasa.

"Saya tertarik lantaran fleksibilitasnya dan kesempatan untuk menggunakan latar belakang medis saya guna membantu orang lain," kata lulusan keperawatan ini," ujarnya, mengutip Channel News Asia, dikutip Sabtu (23/5/2026).

Melalui platform digital nan mempertemukan pasien dengan pendamping rumah sakit, Zhao bisa memperoleh penghasilan sekitar 6.000 - 8.000 yuan per bulan alias setara dengan US$875 hingga US$1.167 per bulan.

"Daripada terikat pada jam kerja tetap dan jalur pekerjaan tunggal, saya bersedia menerima sedikit ketidakpastian jika itu berfaedah saya bisa mengatur waktu saya sendiri," katanya.

Seiring dengan semakin maraknya tren ini, para analis menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan mulai memecah peran menjadi tugas-tugas sesuai permintaan, sementara pihak berkuasa bergerak untuk menyusun ulang peraturan ketenagakerjaan dan agunan sosial guna mengakomodasi apa nan oleh para ahli ekonomi dipandang sebagai perubahan nan berpotensi memperkuat lama di pasar tenaga kerja Tiongkok.

Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan sekitar 247 juta orang bekerja dalam sektor elastis pada kuartal III 2025. Jumlah itu setara nyaris 30 persen dari total tenaga kerja China. Angka tersebut meningkat tajam dibanding sekitar 200 juta pekerja pada 2021. Sebagian besar berasal dari generasi muda.

Penelitian Chinese Academy of Labour and Social Security menunjukkan lebih dari separuh pekerja platform digital berumur di bawah 24 tahun.

Jenis pekerjaan elastis di China sekarang sangat beragam, mulai dari pengemudi ride-hailing, kurir makanan, livestreamer, pembuat konten, programmer jarak jauh, penyunting video, desainer digital, hingga pendamping perjalanan wisata.

Teknologi dan AI Membuka Peluang Baru

Kemajuan teknologi digital dan kepintaran buatan (AI) menjadi salah satu aspek utama nan mendorong tren ini.

Perubahan ini sangat bertolak belakang dengan cita-cita nan telah lama dianut di pasar tenaga kerja Tiongkok. Selama beberapa dekade, jalur pekerjaan nan ideal di negara tersebut relatif jelas ialah mendapatkan pekerjaan nan stabil, seperti di pemerintahan alias perusahaan besar, dan membangun pekerjaan nan dapat diprediksi. Namun, model tersebut mulai melemah seiring dengan meningkatnya tekanan di pasar tenaga kerja.

Tahun ini, jumlah lulusan universitas nan memasuki bumi kerja mencapai rekor tertinggi, sementara persaingan untuk pekerjaan kantoran tradisional semakin ketat.

Pekerjaan elastis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis ialah peran berbasis letak dan posisi berbasis cloud. Pekerjaan berbasis letak mengharuskan pekerja datang secara fisik, seperti mengantar penumpang alias mengantarkan makanan.

Sementara pekerjaan berbasis cloud berfaedah jasa dapat dilakukan sepenuhnya secara daring dan disediakan melalui platform digital, seperti siaran langsung dan pembuatan konten digital, hingga jasa berbasis pengetahuan lainnya termasuk pemrograman dan desain.

Sebuah laporan nan dirilis pada bulan Maret oleh Institut Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Jinan dan platform perekrutan Zhaopin, berasas info perekrutan tahun 2025, menemukan bahwa lowongan pekerjaan nan mengenai dengan peran pekerjaan elastis naik 15,1% dari tahun ke tahun, sementara jumlah pencari kerja meningkat sebesar 11%.

Feng Shuaizhang, dekan Institut Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Jinan dan penulis utama laporan tersebut, menggambarkan kejadian ini sebagai perpaduan antara pekerjaan berbasis platform dan fleksibel, di mana pekerja secara efektif menjadi majikan bagi diri mereka sendiri.

"Pekerjaan elastis berbasis platform telah menghidupkan kembali bentuk-bentuk pekerjaan lepas nan dulunya terpinggirkan," katanya kepada CNA.

Para analis mengatakan bahwa platform-platform tersebut menghubungkan permintaan nan terfragmentasi dengan pekerja lepas dalam skala besar, sehingga mengubah pekerjaan lepas nan tidak tetap menjadi sumber penghasilan nan lebih layak.

Perubahan ini tidak hanya didorong oleh para pekerja, perusahaan juga sedang menata ulang langkah pendistribusian pekerjaan.

Guangzhou HUGA+ Health Management, sebuah platform nan mempertemukan pasien dengan pendamping medis lepas seperti Zhao, memandang permintaan bakal jasa semacam itu melonjak dari akhir 2022 hingga awal 2023 lantaran kunjungan ke rumah sakit meningkat tajam setelah Tiongkok menghentikan kebijakan nol-COVID, sementara banyak anak dewasa tidak dapat menemani orang tua mereka nan sudah lanjut usia lantaran pekerjaan dan jarak.

Huang Binchang, manajer umum platform tersebut, mengatakan kepada CNA bahwa mengandalkan pekerja elastis memastikan permintaan tersebut dapat terpenuhi.

"Sebagai sebuah platform, kami dapat merespons dengan sigap selama periode puncak dan menarik para ahli berilmu nan mungkin tidak dapat bekerja dengan jam kerja tetap," katanya.

Zhang Chenggang, seorang guru besar madya di Universitas Ekonomi dan Bisnis Ibukota di Beijing nan meneliti bentuk-bentuk ketenagakerjaan baru, mengatakan bahwa perusahaan semakin beranjak ke model kerja berbasis tugas.

"Perusahaan semakin sering menawarkan pekerjaan ke pasar dalam corak tugas daripada pekerjaan tetap," katanya kepada CNA.

"Platform kemudian menghubungkan tugas-tugas tersebut dengan pekerja dan memfasilitasi pencocokan tenaga kerja dan permintaan nan lebih efisien," sebutnya.

Alasan generasi muda terpikat

Bagi Li Shuai, meninggalkan pekerjaan penuh waktu bukanlah keputusan mendadak. Pria berumur 33 tahun itu telah berkecimpung di bagian fotografi dan produksi video selama beberapa tahun sebelum perlahan-lahan membangun jaringan klien. Pada tahun 2021, dia merasa siap untuk meninggalkan pekerjaan tetap.

Kini, Li bekerja sebagai videografer lepas. Jadwalnya berubah-ubah tergantung pada tugas nan diterima, dengan periode sibuk nan diselingi masa-masa sunyi di antara proyek.

"Penghasilan saya naik turun seperti pola zigzag," katanya. "Beberapa bulan lebih sibuk daripada nan lain," sebutnya.

Namun baginya, elastisitas itulah nan menjadi daya tariknya.

"Saya bisa mengatur agenda sendiri, beban kerja tidak terlalu berat, dan dibandingkan dengan pekerjaan penuh waktu, waktu saya lebih berharga," katanya.

Hal serupa juga dialami oleh Zhang Dandan, seorang guru besar ekonomi dan wakil dekan di Sekolah Nasional Pembangunan Universitas Peking, nan mengatakan banyak orang dalam pekerjaan elastis berfaedah nyaris seperti "bos kecil".

"Mereka memutuskan kapan dan di mana bekerja, menggunakan tenaga kerja mereka sendiri untuk mendapatkan penghasilan," katanya kepada CNA.

Fleksibilitas semacam itu bertolak belakang dengan batasan-batasan pekerjaan penuh waktu tradisional. Berdasarkan peraturan ketenagakerjaan nasional, tenaga kerja tetap biasanya berkuasa atas libur tahunan berbayar selama lima hingga 10 hari, tergantung pada masa kerja mereka.

Hari libur nasional di China sering kali membikin jutaan orang berjalan pada waktu nan sama, sehingga memadati tempat-tempat wisata dan jaringan transportasi.

Bagi Li, menjadi pekerja berdikari berfaedah dia bisa beristirahat kapan pun dia mau dan menghindari keramaian liburan sama sekali. "Jika saya mau beristirahat selama beberapa hari alias berjalan ke suatu tempat, saya bisa memutuskan sendiri," katanya.

Beberapa anak muda apalagi mengubah kegemaran mereka menjadi sumber penghasilan nan fleksibel.

Hal itu di alami oleh Bruce Tang, seorang mahasiswa pengetahuan komputer berumur 24 tahun di Guangxi, nan bekerja sebagai pendamping perjalanan, menemani pengguna dalam perjalanan sembari membantu merencanakan rute, mengemudi, dan mengambil foto.

Ia mulai memposting tentang perjalanannya di aplikasi style hidup Tiongkok Xiaohongshu sebelum para pengikutnya mulai bertanya apakah dia dapat menemani mereka dalam perjalanan mereka sendiri, sehingga mengubah kegemaran menjadi pekerjaan berbayar.

"Menurutku ini cukup seru," kata Tang.

"Melalui ini, saya telah berjumpa dengan para profesor, pemilik usaha, dan orang-orang dari beragam industri. Hal ini membawaku pada pengalaman dan pengetahuan di luar lingkaran pertemananku nan biasa ungkapnya.

Tang mengatakan dia biasanya mendapatkan penghasilan antara 500 yuan hingga 1.000 yuan per hari, meskipun dia menggambarkan pekerjaan ini bukan sebagai pekerjaan tetap, melainkan sebagai langkah untuk menggabungkan perjalanan dengan berkenalan dengan orang baru.

"Bagi saya, pengalaman berjalan dan mengurus perjalanan itu sendiri adalah sesuatu nan sangat saya hargai," katanya.

Tang mengatakan dia belum memutuskan apakah bakal mengejar pekerjaan elastis setelah lulus, sembari mempertimbangkan opsi-opsi, termasuk pembuatan konten online alias pekerjaan nan lebih konvensional di dalam sistem pemerintahan.

Andrew Liu, mantan pegawai perusahaan internet di Shanghai, memutuskan keluar dari pekerjaan tetap dua tahun lampau untuk menjadi developer AI jarak jauh. Kini dia bekerja dari Zhejiang dan melayani pasar global.

"Generasi kami condong memandang pekerjaan sebagai sesuatu nan dapat dirancang sebagai bagian dari style hidup, bukan sekadar pekerjaan tetap alias identitas," katanya.

Bekerja jarak jauh juga telah membuka kesempatan di luar Tiongkok. "Dulu, penghasilan Anda mungkin berjuntai pada satu pasar saja," kata Liu, nan saat ini tinggal di Lishui, Provinsi Zhejiang.

"Sekarang, penghasilan itu bisa berasal dari pasar global," ucapnya.

Liu mengatakan kepada CNA bahwa saat ini dia memperoleh penghasilan sekitar 400.000 hingga 500.000 yuan per tahun, dibandingkan dengan sekitar 300.000 yuan per tahun pada pekerjaan penuh waktu sebelumnya.

Di beberapa wilayah di Tiongkok, pemerintah wilayah telah mulai mempromosikan apa nan disebut "perusahaan satu orang", di mana para wirausahawan menggunakan perangkat AI untuk menjalankan upaya nan sebelumnya memerlukan tim kecil, dengan menangani tugas-tugas seperti pemrograman, pemasaran, dan jasa pelanggan.

Cheng Cheng, pendiri Komunitas Digital Nomad 52Hz di Provinsi Zhejiang, mengatakan bahwa dia telah mengawasi semakin banyaknya ahli muda nan bereksperimen dengan langkah kerja pengganti sejak tahun 2025.

Banyak personil sebelumnya bekerja di perusahaan internet alias bagian teknologi, katanya. Beberapa sekarang mengembangkan perangkat AI untuk influencer alias pengguna luar negeri, sementara nan lain meluncurkan upaya online mandiri.

"Ada rasa resah dan antusiasme. AI mengganggu pekerjaan tradisional, tetapi juga menciptakan kesempatan baru," sebutnya.

Para analis mengatakan perubahan teknologi memperluas jenis pekerjaan nan dapat dilakukan secara mandiri, terutama seiring dengan semakin mudahnya penyediaan jasa digital lintas batas.

Zhan Yang, seorang guru besar antropologi budaya di Hong Kong Polytechnic University (PolyU), mengatakan bahwa apa nan sering digambarkan sebagai "pekerjaan baru" dalam banyak perihal merupakan rekonfigurasi digital dari pola-pola lama tenaga kerja informal di China.

Namun, Ia menambahkan bahwa kemauan bakal elastisitas ini sering kali melangkah seiring dengan pencarian stabilitas nan terus berlanjut, di mana banyak kaum muda tetap mengincar pekerjaan nan kondusif di dalam sistem pemerintahan.

Maraknya pekerjaan elastis juga membawa ketidakpastian baru.

Para analis mengatakan bahwa pekerja lepas dan pekerja gig sering kali tidak mempunyai penghasilan nan stabil, tunjangan nan disediakan oleh pemberi kerja, dan jalur pekerjaan nan dapat diprediksi.

"Jenis pekerjaan ini dapat membikin pekerjaan seseorang menjadi lebih terfragmentasi. Hal ini juga dapat mempersulit perencanaan jangka panjang," kata Zhang Dandan dari Universitas Peking.

Meski terlihat menarik, kerja elastis juga mempunyai banyak tantangan. Pendapatan pekerja freelance condong tidak stabil dan sering kali tanpa perlindungan kerja seperti asuransi kesehatan, biaya pensiun, libur berbayar, maupun agunan kerja.

Sebagian besar pekerja platform hanya menandatangani perjanjian layanan, bukan perjanjian ketenagakerjaan formal. Akibatnya, mereka kudu menanggung sendiri biaya agunan sosial.

Di tingkat bawah sektor ini, penghasilan juga bisa sangat rendah. Survei tahun 2025 nan sama oleh CALSS menemukan nyaris 80 persen pekerja elastis berbasis platform berpenghasilan 2.000 yuan alias kurang per bulan, nan menempatkan banyak dari mereka di bawah pendapatan bulanan riil rata-rata Tiongkok sekitar 3.019 yuan pada tahun 2025,

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News