Jakarta, CNBC Indonesia - Daya beli masyarakat disebut mulai melemah hingga terasa di warung-warung sekitar pemukiman warga. Mukmin, penjaga Warung Madura di area Cirendeu, Tangerang Selatan, mengatakan konsumen sekarang terlihat lebih berhati-hati saat mengeluarkan duit untuk kebutuhan sehari-hari.
"Belakangan saya memandang memang orang condong lebih sedikit dalam belanja. nan tadinya beli beras misalkan 5 liter jadi 2 liter sekaligus," katanya saat ditemui CNBC Indonesia, dikutip Kamis (14/5/2026).
Menurut dia, aktivitas pembelian di warung tetap melangkah normal untuk peralatan kebutuhan pokok, mulai dari mie instan, telur, kopi, sampai rokok. Meski demikian, nominal dan volume shopping pengguna disebut kerap berubah-ubah dan belum konsisten setiap bulan.
"Kalau udah tanggal 15 ke belakang itu udah kayaknya bukan gambar Soekarno (pecahan Rp100 ribu)," ujar Mukmin sembari berbual dengan pelanggan.
Pola shopping di warung itu menjadi gambaran gimana masyarakat mulai menyesuaikan pengeluaran di tengah tekanan kebutuhan hidup. Menurut Mukmin, pengguna biasanya lebih lenggang berbelanja di awal bulan ketika baru menerima gaji.
"Tanggal tua puasa, tapi awal bulan lagi banyak duit biasanya," katanya.
Di sela aktivitas warung nan tetap ramai keluar masuk pelanggan, Mukmin menilai kondisi tersebut bukan perihal baru. Namun belakangan dia merasa masyarakat memang mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
"Mungkin sih ada, dampaknya ada Mas," ujarnya.
Mukmin mengatakan karakter pengguna di wilayahnya juga cukup beragam lantaran banyak pekerja harian proyek tinggal di sekitar lokasi. Kondisi itu membikin pola shopping tidak selalu sama dengan area perkotaan nan didominasi pekerja kantoran.
"Kan di sini kan banyak kuli juga kan. Kuli beda tiap minggu bayarannya, jika nunggu kayak tenaga kerja tiap bulan gajiannya," katanya.
Sementara itu penjaga di warung Madura lainnya di area nan sama, Rahmat juga mengungkapkan perihal serupa, di mana penjualan mulai melambat di akhir bulan. Pembeli mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
"Yang tadinya sekali shopping rokok 2 bungkus, jika dekat akhir bulan jadi tinggal sebungkus, jadi lebih dikit," katanya
Ia menyebut warung mini sebenarnya menjadi salah satu tempat nan paling sigap menangkap perubahan pola konsumsi masyarakat.
"Kalau masyarakat bawah kondisinya ya seperti itu, jadi tergantung situasi ekonomi juga, jika lagi ada duit jadinya shopping lebih banyak," ujar Rahmat.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·