Fenomena Baru di Korea, Bayi Ramai-Ramai Punya Rekening Investasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena orang tua membuka rekening investasi untuk bayi dan anak-anak semakin marak di Korea Selatan (Korsel). Langkah ini dilakukan sejak usia awal dengan angan anak mempunyai modal untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang, apalagi sebelum mereka bisa merangkak dari tempat tidur bayi.

Seorang perawat, Lee Hye-won, mengatakan dirinya dan pasangan memilih investasi lantaran menilai jangka waktu lebih krusial daripada besarnya modal. Keluarganya rutin menginvestasikan sekitar 300.000-400.000 won (sekitar Rp3,9 juta-Rp5,2 juta) per bulan, terutama ke ETF Amerika Serikat (AS) nan mengikuti indeks S&P 500.

"Kami merasa bahwa dalam mengelola rekening anak-anak, lama investasi lebih krusial daripada besaran modal nan diinvestasikan," ujarnya kepada CNBC International, dikutip Jumat (7/8/2026).

Orang tua lainnya juga mulai memberikan "hadiah waktu" kepada anak melalui investasi. Lee Jun-hyeok, seorang tenaga kerja kantoran salah satunya.

"Saya mau memberikan bingkisan berupa 'waktu' dan kekuatan kembang majemuk kepada anak saya selama tahun-tahun pertumbuhannya; itulah sebabnya saya membuka rekening tersebut tepat setelah dia lahir," jelasnya mengatakan gimana dia rutin berinvestasi pada sektor semikonduktor Korea serta saham AS  yang berangkaian dengan teknologi AI.

Kim Mi-sung checks her daughter's homework before leaving for school, at their home in Seoul, South Korea, December 19, 2018. Picture taken December 19, 2018.   REUTERS/Kim Hong-JiIlustrasi bayi korea (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Mirae Asset Securities, perusahaan sekuritas terbesar Korsel berasas kapitalisasi pasar, mencatat jumlah rekening sekuritas untuk anak di bawah usia satu tahun nyaris tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Hingga Juni, jumlahnya mencapai sekitar 15.000 rekening.

Sementara itu, rekening baru untuk anak di bawah usia sembilan tahun melonjak nyaris 60%. Angkanya sekarang menjadi sekitar 185.000 rekening.

Profesor ekonomi DePaul University Jae-joon Woo menilai tren tersebut kemungkinan tetap bersambung meski pasar saham semakin bergejolak. Menurutnya, tren ini juga dapat menjadi tanda pergeseran perlahan dari preferensi tradisional masyarakat Korea terhadap real estat.

"Fenomena ini bakal terus bersambung selama investasi ekuitas, baik di Korea maupun pasar luar negeri, dipandang sebagai langkah nan dapat diandalkan untuk membangun kekayaan jangka panjang," katanya.


Perpajakan

Dorongan lain datang dari aspek perpajakan. Korsel mengenakan pajak progresif hingga 45% atas untung modal properti nan dimiliki setidaknya dua tahun, sementara tarifnya dapat mencapai 70% untuk properti nan dimiliki kurang dari dua tahun.

Sebaliknya, sebagian besar penanammodal ritel tidak dikenakan pajak untung modal ketika menjual saham nan tercatat di bursa domestik. Kecuali, mereka adalah pemegang saham utama.

Pajak hibah juga membikin rekening investasi anak semakin menarik. Orang tua dapat memberikan hibah hingga 20 juta won alias sekitar Rp360 juta kepada anak di bawah umur tanpa pajak dalam periode 10 tahun, di mana biaya itu kemudian dapat digunakan untuk membeli saham alias ETF.

Namun, Woo menilai bagi family berpenghasilan menengah, tujuan utama biasanya tetap untuk membiayai pendidikan dan menjaga keamanan finansial anak. Sehingga, ini bukan semata-mata menghindari pajak.

Tren tersebut turut didorong perusahaan sekuritas dan pemerintah. KakaoPay Securities berencana memberikan saham senilai 100.000 won alias sekitar Rp1,8 juta kepada setiap bayi nan lahir tahun depan. Sementara itu, otoritas finansial sejak 2023 memungkinkan orang tua membuka rekening investasi anak secara jarak jauh melalui ponsel.

"Diizinkannya pembukaan rekening secara jarak jauh bagi orang tua telah menghilangkan halangan praktis nan signifikan," kata ahli ekonomi senior Nomura untuk Korsel, Jeong-woo Park.

Menurutnya, kemudahan tersebut bakal meningkatkan partisipasi. Meski, nilai investasi tetap lebih ditentukan oleh kekayaan keluarga, kondisi pasar, dan pertimbangan pajak.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News