Jakarta, CNBC Indonesia - Industri kendaraan niaga nasional mulai menunjukkan indikasi tekanan nan tidak bisa lagi diabaikan. Di tengah upaya memperkuat daya saing, dinamika terbaru justru mengarah pada ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Eko S.A. Cahyanto, menyoroti koreksi keahlian produksi dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai perubahan ini menjadi sinyal awal nan perlu dicermati oleh seluruh pelaku industri.
"Berdasarkan info GAIKINDO, keahlian produksi kendaraan niaga nasional pada tahun 2025 mengalami koreksi sebesar 3,5 persen, dari nyaris 170 ribu unit pada tahun 2024 menjadi 164 ribu unit," kata Eko di GIICOMVEC JiExpo Kemayoran, Rabu (8/4/2026).
Penurunan tersebut tidak hanya berakibat pada nomor produksi semata, tetapi juga mencerminkan tantangan dalam penyerapan kapabilitas industri. Situasi ini memperlihatkan adanya ruang nan belum termanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri dalam negeri.
"Kondisi ini menyebabkan tingkat utilisasi industri kendaraan niaga kita turun menjadi 58 persen dari total kapabilitas terpasang nasional, sehingga berada di bawah pemisah minimal efisiensi skala industri kendaraan bermotor," sebut Eko.
Fenomena Aneh
Di tengah kondisi tersebut, perubahan mulai terlihat dari sisi permintaan dan pasokan domestik. Pergeseran ini menjadi perhatian lantaran berbeda dengan pola nan selama ini terjadi di industri.
"Selain perkembangan produksi, terdapat dinamika nan lebih mendasar dalam dua tahun terakhir, ialah mulai munculnya ketidakseimbangan antara produksi domestik dan penjualan nasional alias production-sales imbalance," ujar Eko.
Selama beberapa tahun sebelumnya, industri dalam negeri bisa menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Namun, kondisi tersebut sekarang mulai berubah seiring dengan perkembangan terbaru di lapangan.
"Sepanjang periode 2017 hingga 2023, kapabilitas produksi dalam negeri secara konsisten bisa memenuhi, apalagi melampaui, kebutuhan pasar domestik. Namun sejak tahun 2024, pola tersebut mulai mengalami pergeseran," kata Eko.
Perubahan ini semakin terlihat dalam capaian industri sepanjang tahun lalu. Data menunjukkan adanya selisih nan mulai muncul antara keahlian produksi dan kebutuhan pasar.
"Pada tahun 2025, keahlian industri kendaraan niaga nasional menunjukkan adanya selisih antara penjualan dan produksi domestik sebesar sekitar 4.000 unit," ungkapnya.
Artinya, produk dari luar negeri masuk mengisi pasokan. Hal ini menjadi perhatian lantaran terjadi saat kapabilitas dalam negeri belum sepenuhnya dimanfaatkan.
"Di mana kebutuhan pasar domestik tidak sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri dan justru diisi oleh produk impor," ujarnya.
Fenomena ini dinilai cukup kontradiktif dengan kondisi kapabilitas produksi nan tetap tersedia. Situasi tersebut memperlihatkan adanya ketidakseimbangan nan perlu segera diperbaiki.
"Ironisnya, situasi ini terjadi di tengah utilisasi produksi nan tetap di bawah 60 persen," kata Eko.
Pemerintah memandang kondisi ini sebagai sinyal kuat perlunya pembenahan struktural di industri kendaraan niaga. Langkah kolektif dinilai krusial agar keseimbangan antara produksi dan permintaan dapat kembali terjaga.
"Perkembangan ini menunjukkan adanya kesenjangan pasokan domestik (domestic supply gap), nan perlu segera kita respons berbareng melalui penguatan struktur industri," sebutnya.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·