Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta - Suasana Aula Auditorium Gedung LPSP Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jawa Timur (Jatim), tampak semarak. Para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya mengikuti aktivitas literasi digital dan edukasi anti bullying berjudul 'Stop Bullying, Start Growing'.

Kegiatan nan digelar berbareng Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI (Kemensos) itu berjalan interaktif. Sejumlah siswa tampak antusias mengikuti permainan, diskusi, hingga sesi tanya jawab berbareng sejumlah narasumber.

Penasihat DWP Kemensos Fatma Saifullah Yusuf mengingatkan bahwa bullying dapat meninggalkan akibat psikologis bagi korban, terutama pada usia remaja.

Menurut Fatma, perundungan sekarang tidak hanya terjadi secara langsung di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui media sosial (medsos).

"Kadang sesuatu nan menurut kita bercanda, belum tentu kocak bagi orang lain. Di kembali candaan itu bisa ada hati nan terluka, rasa takut, apalagi kehilangan rasa percaya diri," ujar Fatma, dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

Lantaran itu, Fatma membujuk para siswa lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga langkah berinteraksi dengan orang lain. Ia menilai lingkungan sekolah kudu menjadi tempat nan kondusif dan nyaman bagi siswa untuk berkembang.

"Kita kudu bisa menciptakan lingkungan sekolah nan aman, nyaman, dan saling mengasihi. Mulailah dari diri sendiri dengan menghargai perbedaan dan berani mengatakan tidak pada bullying," kata Fatma.

Dalam sesi diskusi, salah satu siswa SRMA 21 Surabaya, Miftahul Ananda (17), menanyakan soal bullying verbal nan kerap dialami remaja.

"Ketika kita dikatain secara bentuk kita, apakah itu termasuk bullying secara verbal? Dan apa akibat buruknya bagi korban bullying secara verbal?," tanya Miftahul.

Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber Bawinda Sri Lestari menjelaskan hinaan terhadap bentuk termasuk corak bullying verbal nan dapat memengaruhi kondisi mental dan rasa percaya diri seseorang.

Karena itu, Bawinda membujuk para siswa lebih berhati-hati dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di media sosial.

Plt Kepala SRMA 21 Surabaya Ummi Nazhiroh mengatakan aktivitas ini menjadi bagian dari penguatan karakter siswa di tengah perkembangan teknologi digital.

"Prestasi tidak hanya diukur dari keberhasilan akademik, tetapi juga dari keahlian membangun karakter dan rasa saling menghormati," ujar Ummi.

Dalam kesempatan nan sama, Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah UNESA Mufarrihul Hazim menyampaikan apresiasi terhadap program Sekolah Rakyat.

Mufarrihul mengaku memandang perubahan positif para siswa sejak pertama kali datang di lingkungan UNESA.

"Dulu wajah mereka tetap penuh pesimisme, tetapi hari ini wajahnya sudah penuh optimisme untuk menjadi orang-orang dahsyat dan sukses," kata Mufarrihul.

Selain edukasi anti bullying, aktivitas tersebut juga diisi dengan penyaluran support Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta untuk kluster disabilitas di Kota Surabaya dengan total support senilai Rp 24.055.315.

Bantuan diberikan kepada Tarmudji berupa kaki tiruan senilai Rp 9.804.300, Afifah Novaria berupa sepatu AFO senilai Rp 604.300, Dwi Andi Santoso dan Satimah berupa bangku roda masing-masing senilai Rp 2.629.750, serta support upaya untuk Dodik Jatmiko berupa upaya jualan mainan senilai Rp 1.975.000, Tony Sanjaya untuk upaya gorengan senilai Rp 1.666.065, Tutik Iriani untuk upaya kue basah senilai Rp 1.246.150, dan Sutarjo untuk upaya bengkel sepeda motor senilai Rp 3.500.000.

Kegiatan ini juga diselenggarakan berbareng Viva Muda dalam rangka peringatan ulang tahun ke-6 organisasi anak muda bimbingan Viva Cosmetics tersebut.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News