Faktor Ekonomi Dominasi Penyebab 60 Ribu Peserta Daftar Ulang Masuk PTN

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Faktor Ekonomi Dominasi Penyebab 60 Ribu Peserta Daftar Ulang Masuk PTN Faktor ekonomi menjadi penyebab utama 60 ribu peserta nan lulus SNPMB tidak mendaftar ulang.(Dok. ITB)

SEBANYAK 60 ribu peserta nan dinyatakan lolos Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) dari beragam jalur dilaporkan tidak melakukan daftar ulang. Pengamat pendidikan Totok Amin Soefijanto menilai kejadian ini kudu menjadi perhatian serius, dengan faktor ekonomi menjadi penyebab nan paling dominan.

Menurut Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE) tersebut, kesulitan ekonomi nan terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi pemicu utama para calon mahasiswa dan keluarganya untuk membatalkan kesempatan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Masalah ekonomi tampaknya nan paling dominan, khususnya tahun-tahun terakhir ini nan banyak PHK dan situasi ekonomi nan semakin sulit,” kata Totok kepada Media Indonesia, Jumat (26/6/2026).

Selain masalah biaya, Totok menyebut ada argumen lain kenapa bangku PTN nan sudah diraih akhirnya dilepaskan. Beberapa di antaranya adalah lantaran diterima di jalur pendidikan lain nan lebih diminati alias dianggap lebih sesuai dengan kondisi finansial keluarga.

“Kita mesti memikirkan langkah agar nomor ini ditekan sekecil mungkin. Kenapa? Banyak alasan, misalnya diterima di jalur lain nan lebih diinginkan alias nan lebih pas dengan ukuran kantong keluarga, seperti sekolah kedinasan, akademi militer alias kepolisian. Bisa juga mengincar beasiswa, baik dari PTS dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk golongan ekonomi menengah ke atas, argumen tidak mendaftar ulang condong berbeda. Menurut Totok, aspek ketidaksesuaian bidang dengan minat menjadi lebih dominan dibandingkan rumor ekonomi.

“Buat golongan menengah atas, isunya bisa juga ekonomi, tapi kemungkinan lebih banyak lantaran bidang nan tidak sesuai minat. Bisa masuk bisnis, dagang, alias bantu perusahaan orangtua dulu, sembari lihat-lihat skill apa nan mau dikuasai dalam 2-3 tahun ke depan,” tuturnya.

Lebih jauh, Totok menilai ada pergeseran perilaku di kalangan anak muda saat ini. Di tengah era disrupsi, banyak dari mereka nan tidak lagi terburu-buru untuk langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus sekolah.

“Di era disrupsi ini, banyak anak muda nan wait-and-see sebelum memutuskan kuliah,” jelasnya. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia