Erupsi Terbaru Anak Krakatau Belum Berpotensi Picu Tsunami Seperti Tahun 2018

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengatakan pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi 22 Desember 2018 belum berpotensi memicu tsunami. Dia mengatakan Gunung Anak Krakatau saat ini tetap membentuk kubah lava baru.

"Berdasarkan hasil pertimbangan hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau nan terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 ini tetap relatif mini dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala nan dapat memicu tsunami," kata Rita dalam konvensi pers dilihat YouTube Badan Geologi, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rita menjelaskan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. Dia menegaskan kondisi pertumbuhan tubuh gunung saat ini belum berpotensi memicu tsunami.

"Untuk tsunami tadi sudah kami sampaikan bahwa memang setelah terjadinya runtuhan tubuh Anak Krakatau sebelumnya ya di tahun berapa 2020 ya. Nah, kemudian saat ini memang Gunung Anak Krakatau itu tetap membentuk kubah lava nan baru," ujarnya.

"Tapi hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa ini tidak berpotensi tsunami," sambungnya.

Menurutnya, masyarakat tak perlu cemas mengenai potensi tsunami akibat pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini. Dia mengatakan pertumbuhannya tetap relatif kecil.

"Masyarakat tidak usah khawatir, insyaallah perkembangan ini tidak memicu sekali lagi terjadinya tsunami dan kami terus-menerus melakukan pemantauan perkembangan aktivitas dan juga perubahan morfologi dari tubuh Anak Krakatau ini," jelasnya.

Namun, Rita mengatakan aktivitas tersebut tak membikin Badan Geologi mengubah status maupun jarak rekomendasi Gunung Anak Krakatau. Status gunung tetap berada pada Level III alias Siaga, dengan radius rekomendasi tetap 3 kilometer.

"Perlu kami tegaskan bahwa erupsi nan terjadi ini bukan erupsi nan menimbulkan ancaman sehingga kita perlu mengubah status rekomendasi maupun jarak rekomendasi. Jadi aktivitas gunung api Anak Krakatau ini tetap terpantau seperti memang Gunung Anak Krakatau beraktivitas gitu ya, dan ini jarak rekomendasinya tetap tetap 3 km," tuturnya.

(amw/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News