TNI AD Kedatangan Heli Mi-35 M: Bisa Angkat Beban 5 Ton, Untuk Bantu Warga Papua

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Helly MI-35 Penerbang Angkatan Darat melakukan serangan udara dalam Latihan Bantuan Tembakan Terpadu TNI 2018 di Puslatpur Marinir, Karang Tekok, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (28/11/2018). Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

TNI Angkatan Darat (AD) terus memperkuat keahlian armada helikopternya untuk mendukung beragam kebutuhan operasi. Penguatan armada itu salah satunya ditandai dengan kehadiran helikopter serbu Mi-35 M asal Rusia.

Selain helikopter tempur, TNI AD sekarang mempunyai helikopter nan dapat digunakan untuk mengangkut personel hingga membawa beban dalam jumlah besar.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan penambahan alutsista tersebut merupakan bagian dari pertimbangan TNI AD terhadap kebutuhan persenjataan.

“Iya, jadi kita kan untuk persenjataan terus kita evaluasi. Itu ada beberapa jenis Mi itu, salah satunya itu sama itu sebenarnya heli tempur. Tapi ada juga heli personel, ada juga heli nan bisa membawa beban,” kata Maruli di TNI Fair, Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (19/9).

“Kalau ini dibilangnya Kamov tuh jika dulu di Papua. Jadi selama ini kita ini hanya bisa menyewa heli nan orang luar negeri punya. Sudah berpuluh tahun, ya,” lanjutnya.

Menurut Maruli, salah satu keahlian nan sekarang diperkuat adalah helikopter nan dapat mengangkut beban dalam jumlah besar. Secara spesifikasi, helikopter tersebut bisa membawa beban hingga 5 ton.

Namun, keahlian angkut itu tidak selalu dapat digunakan secara maksimal. Faktor medan dan ketinggian menjadi pertimbangan dalam menentukan beban nan dapat dibawa helikopter.

“Tapi sekarang kita punya heli nan bisa mengangkat beban secara spek itu bisa sampai 5 ton. Tapi jika ketinggian, mungkin kita amannya 3 ton lah,” ujarnya.

Kemampuan tersebut, kata Maruli, tidak hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan internal TNI AD. Helikopter pengangkut beban juga dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat nan tinggal di wilayah susah dijangkau, terutama area pegunungan Papua.

“Sehingga ini juga bisa sekalian mendukung personel kita, juga bisa membantu masyarakat. Ya selama ini kita masyarakat nan di pegunungan di Papua ini bantuan-bantuannya sulit, ya. Karena keterbatasan penerbangan,” kata Maruli.

“Nanti ke depan ini mungkin operasional bulan 10 ada dua jenis nan bisa, jenis Kamov nan bisa untuk membantu masyarakat,” sambungnya.

Selain keahlian mengangkut beban dan personel, TNI AD juga tengah mengembangkan kegunaan helikopter untuk penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Salah satunya melalui metode water bombing alias pemadaman dari udara dengan menjatuhkan air ke titik kebakaran.

“Kayak kita sekarang sudah mulai water bombing untuk heli-heli kita, dulu tidak pernah dikerjakan. Sekarang kita sudah 7 heli kita, kita segera belajar, disiapkan perlengkapannya oleh, itu sebenarnya dipimpin Presiden langsung,” ujarnya.

Persiapan keahlian water bombing tersebut memerlukan waktu nyaris satu bulan. Personel kudu mempelajari beragam tahapan, mulai dari mengambil air hingga melakukan penyemprotan dari udara.

“Sekarang kita sudah bisa, mungkin kemarin perlu persiapan sekitar nyaris 1 bulan ya. Hampir 1 bulan untuk belajarnya, gimana dia ngambil air, gimana nyemprot,” kata Maruli.

Maruli juga menyoroti kondisi geografis Indonesia nan menjadi tantangan dalam pengoperasian helikopter. Menurutnya, sejumlah wilayah mempunyai medan dan ketinggian nan memerlukan keahlian unik dari pilot maupun kru helikopter.

“Ini juga sama lantaran tingkat kesulitan di Indonesia ini kan ketinggian-ketinggian itu ketinggian sampai 2.000 lebih di Papua itu, itu memerlukan skill yang, nan kudu cukup bagus untuk bisa kondusif ke sana,” kata dia.

Sementara itu, mengenai rencana penampilan alutsista udara dalam defile HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober mendatang, Maruli mengatakan sejumlah helikopter baru sudah mulai tersedia.

Namun, dia menyebut tidak semua helikopter baru dipastikan dapat mengikuti defile. Beberapa di antaranya tetap memerlukan proses persiapan lantaran mempunyai sistem teknis nan cukup kompleks.

“Sudah mulai ada lah. Sudah mulai ada nan baru, tapi kan ada heli-heli nan butuh proses lantaran teknisnya cukup rumit ya,” ujar Maruli.

Adapun helikopter nan saat ini digunakan untuk mendukung penanganan karhutla kemungkinan tidak bakal mengikuti defile. Maruli mengatakan helikopter tersebut tetap difokuskan untuk menjalankan tugas penanganan karhutla.

“Mungkin nggak ya. Kalau nan Karhutla kan sedang konsentrasi ya, di sana. nan di sini juga tetap proses kayaknya tetap belum,” kata dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan