Empati Bencana NTT, Tak Ada Kembang Api di Acara Malam Merdeka Monas-HI

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, saat berjumpa Pemimpin Redaksi kumparan di Jakarta, Selasa (28/7/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kementerian Ekonomi Kreatif menyesuaikan rangkaian Malam Merdeka dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI demi menghormati korban gempa bumi nan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu penyesuaian dilakukan dengan menunda agenda pagelaran kembang api dan memasukkan pesan "Pray for NTT" dalam video mapping serta pagelaran drone.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, penyesuaian tersebut dilakukan lantaran pemerintah turut mempertimbangkan kondisi masyarakat nan sedang menghadapi bencana.

“Jadi memang tadi sudah dikatakan oleh Pak Fahd dari Bakom bahwa ini sudah disiapkan lama, tetapi kan juga ada suasana seperti ini tentu juga ada situasi jiwa nan juga kita kudu sesuaikan begitu,” kata Riefky dalam konvensi pers di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Senin (17/8).

Menurutnya, salah satu agenda nan sebelumnya direncanakan dalam rangkaian Malam Merdeka adalah pagelaran kembang api. Namun, agenda tersebut urung dilakukan untuk menghormati suasana berkabung kepada korban gempa di NTT.

“Beberapa upaya memang ada beberapa, ada satu lah agenda nan kita tunda, kembang api, fireworks. Karena itu kan terlalu gimana begitu, nan tadinya mau ditaruh di atas gedung Wisma Nusantara itu kita tunda,” katanya.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga menyesuaikan materi pagelaran nan tetap digelar dalam rangkaian Malam Merdeka. Riefky mengatakan, pesan “Pray for NTT” bakal ditampilkan dalam video mapping di Monas dan pagelaran drone.

"Nanti juga di video mapping di Monas maupun drone juga ada apa namanya tampilan 'Pray for NTT' semacam itu. Itu juga bagian untuk apa namanya menyampaikan situasi jiwa kita," ujar Riefky.

Rangkaian tersebut tetap digelar sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Namun, pemerintah mengimbau agar seremoni kemerdekaan tetap dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat nan terdampak bencana.

Deputi Bidang Strategi dan Komunikasi Bakom RI Fahd Pahdepie mengatakan pemerintah mau seremoni kemerdekaan tetap menjadi momentum untuk bersyukur, tetapi tidak dilakukan secara berlebihan hingga melupakan masyarakat nan sedang menghadapi musibah.

“Pemerintah mengimbau agar kegembiraan dan rasa syukur ini tidak berlebihan sehingga melupakan saudara-saudara kita nan sedang terdampak alias sedang menghadapi ujian dan musibah di NTT,” kata Fahd.

Fahd mengatakan, pemerintah juga mau rangkaian seremoni kemerdekaan menjadi momentum untuk membangun solidaritas dan kebersamaan.

“Sehingga di acara-acara nan digelar oleh pemerintah, dalam perihal ini termasuk nan digerakkan oleh Kementerian Ekraf, diimbau agar juga bisa memuat alias mengandung unsur untuk bisa membantu menggalang bantuan, menggalang kebersamaan, angan bersama, dan kelak itu nan menjadi semangat dari peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia,” tuturnya.

Menurutnya, seremoni kemerdekaan juga diharapkan dapat menyampaikan pesan bahwa masyarakat Indonesia merupakan bangsa nan handal dan bisa bangkit ketika menghadapi situasi sulit.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa nan tangguh, kita bangkit kembali, kita tumbuhkan lagi harapan, dan kita ekspresikan rasa syukur kita sebagai bangsa nan merdeka dengan penuh dengan kegembiraan, persaudaraan, persatuan, dan solidaritas,” ujarnya

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan