Biang Kerok IHSG Anjlok ke 6.497

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, Jumat (11/9). Indeks nilai saham apalagi sempat melemah nyari 2% pada awal pembukaan perdagangan pada level 6.400-an.

Berdasarkan info RTI Business, IHSG saat ini melemah 1,40% ke level 6.497,36 pukul 11.00 WIB. Pada pembukaan perdagangan, indeks saham sempat menyentuh level terendahnya pada posisi 6.462,96.

Pelemahan IHSG terjadi lantaran lonjakan nilai minyak bumi akibat eskalasi bentrok di Timur Tengah dan tekanan pada nilai emas. Harga minyak bumi sendiri tercatat sempat naik sekitar 7% pada perdagangan sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, nilai minyak West Texas Intermediate (WTI) telah menyentuh level di atas US$ 104 per barel. Sementara minyak Brent mendekati US$ 108, tertinggi dalam nyaris 4 bulan.

"Dipicu eskalasi AS-Iran, serangan ke tanker minyak Iran, rudal ke Yordania, serangan Houthi ke akomodasi daya Arab Saudi," tulis Riset BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (11/9/2026).

Sementara itu, nilai emas berada di level US$ 4.300 per ons, melanjutkan pelemahan nyaris 2% sesi sebelumnya. Berdasarkan info Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS), kondisi ini mendorong naiknya ekspektasi pasar mengenai kesempatan kenaikan Fed Rate 25 bps pekan depan.

"Pasar price-in ekspektasi Fed hawkish akibat tekanan inflasi dari lonjakan nilai energi, sehingga saham dan emas tertekan berbarengan meski minyak justru melesat akibat akibat geopolitik," terangnya.

Sementara berasas riset MNC Sekuritas, pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan bursa saham global. Pelemahan tersebut terjadi imbas naiknya eskalasi bentrok Timur Tengah yabg mengerek naik nilai minyak dunia.

Di sisi lain, pelemahan rupiah nan terjadi hari ini juga menambah sentimen negatif terhadap pergerakan indeks saham. Investor juga tengah mencermati info PPI AS Agustus nan meningkat 0,4% MoM sesuai konsensus, tekanan utama berasal dari energi, dengan final-demand energy nan tercatat naik 4,2% MoM.

Meski inflasi inti alias core inflation mulai melandai, ekspektasi kenaikan suku kembang The Federal Reserve (The Fed) justru meningkat. Probabilitas The Fed meningkatkan suku kembang sekarang mencapai 72%.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh inflasi headline nan tetap tinggi dengan pasar tenaga kerja nan dinilai belum cukup melemah. Hal ini membikin tekanan inflasi tetap menjadi perhatian utama pasar.

Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun (UST10Y) naik ke level 4,95%. Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, terutama akibat kenaikan nilai minyak, serta ekspektasi suku kembang tinggi dalam waktu nan lebih lama alias higher-for-longer.

"Dari sisi teknikal, seperti nan kami sampaikan pada Daily Scope Wave, posisi pergerakan IHSG sedang berada di fase downtrendnya dan telah mencapai sasaran koreksi di 6.502, cermati area koreksi berikutnya di 6.448," tulis riset MNC Sekuritas.

(ahi/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance