Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta petani untuk menyesuaikan masa tanam seiring El Nino nan sekarang telah memasuki fase kuat dan bakal berjalan hingga Mei 2027.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah tersebut ditujukan agar petani bisa menghindari risiko kandas panen akibat musim tandus nan lebih kering dan lebih panjang, utamanya untuk wilayah selatan garis khatulistiwa.
Wilayah tersebut meliputi NTT, NTB, Bali, Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, hingga Papua Selatan. Selain itu, Teuku juga memandang percepatan masa tanam ini juga ditujukan agar petani tetap menanam komoditas pangan imbas meskipun bakal menghadapi El Nino.
“Karena nan kita takutkan adalah ketika terjadi kandas panen alias masyarakat enggan menanam lantaran menghadapi El Nino ini,” kata Teuku kata Teuku Faisal di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Selasa (4/8).
Meskipun Teuku juga mengakui saat musim hujan tiba pada Oktober mendatang, akibat nan ditimbulkan oleh El Nino bakal mulai berkurang.
Selain penyesuaian masa tanam, BMKG juga mendorong penanaman varietas tanaman nan lebih tahan terhadap kondisi kering pada kondisi ini. Petani kemudian diberikan pendampingan melalui Sekolah Lapang Iklim nan melibatkan dinas pertanian dan penyuluh pertanian lapangan.
Dia menjelaskan BMKG telah melatih lebih dari 40 ribu peserta melalui beragam program pendampingan, mulai dari soal suasana bagi petani, soal cuaca bagi nelayan, hingga soal gempa bumi dan tsunami.
BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Waduk Lokasi PLTA Imbas El Nino
Di sektor energi, BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga pasokan air di letak waduk nan dimanfaatkan sebagai sumber air baku, irigasi, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menuturkan pasokan air hujan ke sejumlah waduk menipis akibat berkurangnya curah hujan akibat El Nino. Sehingga modifikasi cuaca dibutuhkan. Terlebih saat ini air dari waduk bisa dipergunakan untuk beragam macam kebutuhan, mulai dari pertanian hingga daya untuk PLTA.
“BMKG bekerja sama dengan para stakeholder, dengan pengelola waduk, Kementerian PU dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk,” jelasnya.
Seto menjelaskan BMKG telah melakukan modifikasi cuaca di beberapa waduk nan dimanfaatkan untuk PLTA, seperti di seperti Danau Toba, Danau Poso dan Sungai Poso nan dimanfaatkan oleh PLTA Poso Energi.
Terakhir, modifikasi cuaca juga sedang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Jawa Barat. DAS ini dimanfaatkan untuk beberapa PLTA, seperti PLTA Cirata, Saguling hingga Jatiluhur.
“Hari ini kami sedang melaksanakan operasi di DAS Citarum, Jawa Barat. Supaya pasokan energi, air, dan pertanian itu bisa terjaga dengan baik,” jelasnya.
Kemudian untuk menghadapi El Nino ini, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas berbareng BMKG dan sejumlah kementerian/lembaga telah menyusun policy brief sebagai pedoman menghadapi akibat El Nino di beragam sektor.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan arsip tersebut menjadi upaya untuk mengonsolidasikan langkah pemerintah menghadapi El Nino. Terlebih sekarang El Nino berada pada fase kuat.
Menurut Leonardo, policy brief tersebut berisi langkah penanganan di sektor pertanian, pangan akuatik alias pesisir, energi, sumber daya air, hingga kesehatan.
“Kami memandang ini sebagai satu siklus nan perlu direspons dengan kesiapsiagaan nan lebih baik dan konsolidasi nan lebih baik,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·