ilustrasi(Antara)
Komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya mencatat pertumbuhan ekspor cukup signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Januari-Juni 2026 nilai ekspor CPO dan produk turunannya tumbuh 7,32% dibandingkan periode nan sama tahun lalu, didorong penguatan nilai CPO di pasar global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan ekspor komoditas pertanian kudu terus didorong melalui peningkatan nilai tambah dan hilirisasi. Tujuannya agar memberikan faedah nan lebih besar bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan petani.
Menurutnya, Indonesia mempunyai kelebihan sebagai produsen sawit terbesar di bumi sehingga kesempatan untuk memperbesar devisa melalui hilirisasi tetap sangat besar.
"Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO bumi dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia," ujar Amran dalam keterangan resmi, Selasa (4/8).
Ia menegaskan, Kementerian Pertanian bakal terus mendorong penguatan industri hilir agar ekspor Indonesia tidak hanya meningkat dari sisi nilai, tetapi juga menghasilkan nilai tambah nan lebih besar bagi perekonomian nasional.
Pada Juni 2026, nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$485,8 juta. Sementara secara kumulatif sepanjang Januari–Juni 2026, nilainya mencapai US$2,59 miliar,m alias meningkat 1,84% dibandingkan periode nan sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan nilai CPO di pasar internasional memberikan akibat positif terhadap peningkatan nilai ekspor Indonesia.
"Kenaikan nilai minyak sawit mentah (CPO) di pasar dunia menjadi salah satu aspek nan mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor CPO dan turunannya tercatat tumbuh 7,32% dibandingkan periode nan sama tahun lalu," ujar Ateng dalam rilis buletin resmi statistik (BRS), Senin (3/8).
Sejalan dengan kondisi tersebut, total ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, naik 4,13% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nonmigas meningkat 4,90% menjadi US$134,58 miliar, dengan golongan lemak dan minyak hewani alias nabati (HS15), termasuk CPO dan produk turunannya.
Pada Juni 2026 saja, nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,46 miliar, meningkat 8,84% secara tahunan. Khusus golongan lemak dan minyak hewani alias nabati (HS15), nilai ekspornya naik 10,45%. Kondisi ini dinilai menunjukkan kenaikan nilai ekspor nan didorong oleh penguatan nilai CPO di pasar internasional.
Data BPS juga menunjukkan komoditas sawit tetap menjadi salah satu motor utama perdagangan Indonesia. Bersama besi dan baja serta batu bara, CPO dan turunannya menyumbang sekitar 28,30% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang semester I 2026.
Di antara ketiga komoditas tersebut, CPO mencatat pertumbuhan nilai ekspor tertinggi, ialah 7,32%, sementara ekspor besi dan baja turun 0,16% dan batu bara hanya tumbuh 0,63%. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·