Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan, Indonesia mencatat tonggak baru transformasi industri pupuk nasional melalui ekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai mencapai sekitar Rp7 triliun. Di saat nan sama, pemerintah juga sukses menurunkan nilai pupuk bersubsidi sebesar 20% serta menambah volume pupuk untuk petani nasional, menandai penguatan sektor pupuk dari hulu hingga hilir.
Amran menjelaskan, ekspor perdana nan dilepas Rabu (13/5) mencapai 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar. Ekspor tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton dan bakal terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp7 triliun.
"Rencana kita bakal ekspor 250.000 ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500.000 ton," ujarnya dikutip Kamis (14/5/2026).
Di saat nan sama, Amran mengatakan, pemerintah juga mencatat kemajuan di sektor pupuk dalam negeri melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto nan menurunkan nilai pupuk bersubsidi sebesar 20% tanpa tambahan beban APBN. Kebijakan tersebut juga disertai penambahan volume pupuk bersubsidi sebanyak 700 ribu ton untuk memperluas akses petani.
"Di saat geopolitik bumi memanas, Indonesia alhamdulillah nilai pupuknya turun 20%. Pupuk subsidi untuk petani Indonesia. Kemudian volume pupuk bertambah. Inilah kebahagiaan 160 juta petani Indonesia dan 115 juta petani padi," ujar Amran.
Dia mengatakan, keberhasilan tersebut menunjukkan daya saing industri pupuk nasional semakin kuat dan membuka kesempatan pasar baru di beragam negara.
"Kami sekali lagi atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih kepada Pupuk Indonesia atas kerja kerasnya dan capaiannya," ujar Amran.
Menurut dia, sejumlah negara lain juga mulai menunjukkan minat terhadap pupuk Indonesia.
"Selain itu Dubes India sudah menghubungi saya langsung meminta 500.000 ton dan beberapa negara lain juga berkeinginan ialah Filipina, Brazil, Bangladesh, dan ada beberapa negara lagi. Tadi kami menerima laporan negara nan berkeinginan pupuk urea dari Indonesia. Ini nan kita syukuri dan banggakan," ungkapnya.
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath menyampaikan apresiasi atas kerja sama nan telah terjalin antara Indonesia dan Australia.
"Atas nama Pemerintah Australia saya mau menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Mentan Amran. Australia menghargai hubungan dengan Indonesia. Kerja sama ini mencerminkan persahabatan dan kemitraan nan kuat antara Australia dan Indonesia, bukan hanya dengan PT Pupuk Indonesia," ujar Gita.
Ia menambahkan kerja sama tersebut juga mempunyai faedah langsung terhadap penguatan ketahanan pangan kedua negara.
"Australia juga bangga dapat mendukung ketahanan pangan dan nilai tambah di Indonesia. Pupuk ini bakal membantu petani Australia memproduksi komoditas seperti gandum nan digunakan di Indonesia untuk membikin beragam produk pangan. Ini contoh nyata kerja sama Indonesia dan Australia nan menghasilkan faedah bersama," katanya.
Keberhasilan tersebut, lanjut Amran, tidak terlepas dari beragam kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola pupuk nasional dari hulu hingga hilir.
Pada awal pemerintahan, Prabowo mengambil langkah besar dengan mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi dari sebelumnya sekitar 4,55 juta ton menjadi 9,55 juta ton guna mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Kebijakan tersebut memperluas jangkauan penerima faedah hingga sekitar 160 juta orang nan mengenai langsung dengan sektor pertanian.
Pemerintah juga melakukan deregulasi total 145 patokan lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat pengedaran pupuk. Sistem penyaluran dipangkas menjadi lebih sederhana melalui pola langsung Kementan-PIHC-Gapoktan/Koperasi-Petani agar pupuk lebih sigap diterima petani.
Selain itu, pemerintah melakukan reformasi sistem subsidi pupuk nasional dengan menghapus beragam komponen inefisiensi seperti untung bahan baku, beban kembang bank, dan PPN berganda. Reformasi tersebut diproyeksikan bisa menghemat hingga Rp14 triliun sekaligus menurunkan biaya produksi pupuk nasional.
Selain pembenahan tata kelola, pemerintah mendorong revitalisasi besar-besaran industri pupuk nasional melalui tujuh proyek strategis dengan total investasi mencapai Rp72,84 triliun. Revitalisasi ini melibatkan PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kujang.
Modernisasi dilakukan melalui penggantian pabrik lama nan royal daya menjadi akomodasi baru nan lebih efisien. Efisiensi biaya produksi pupuk baru tercatat mencapai 26% lebih rendah dibanding pabrik lama.
Melalui reformasi skema subsidi dan revitalisasi industri, pemerintah memproyeksikan penghematan subsidi pupuk hingga Rp112 triliun sampai tahun 2035 sekaligus menekan potensi pemborosan Rp14,4 triliun per tahun.
Amran menegaskan, seluruh pembenahan sektor pupuk diarahkan untuk memperkuat swasembada pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, mengurangi impor, serta membangun kemandirian industri pupuk nasional.
"Pupuk bukan hanya soal produksi dan distribusi. Pupuk adalah instrumen strategis menuju kedaulatan pangan nasional," tegas dia.
(bul/bul)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·